Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Masih eps PDKT


__ADS_3

Novi cemas menatap Rania yang masih terbaring di tempat tidur kecil itu.


Terdengar getaran dari tas kecil milik Rania, Novi mengambilnya. Mengangkat panggilan dari nomor Diki yang belum sempat di beri nama itu.


"Ran, kamu sudah sampai rumah belum? "


"Ini Diki ya? "


"Lho kok kamu yang angkat Nov? Mana Rania? "


"Rania ada di klinik, pulang dari kafe barusan dia pingsan. " Novi pun akhirnya meneteskan air mata.


"Di klinik mana? " Diki ikut panik.


"Kasih sayang, jalan Arjuna. "


"Oke aku kesitu. " buru2 bicara lalu mematikan ponselnya. Melajukan mobilnya dengan kencang, jarak rumah Diki ke klinik itu lumayan jauh. Setelah 30 menit akhirnya Diki sampai, masuk ke ruang pemeriksaan dengan nafas yang tersengal karena habis berlari.


Mendapati Rania yang terduduk di tepi tempat tidur, dan Novi sedang menjaganya.


"Apa yang terjadi? " Diki sangat panik.


"Nggak papa Dik, Rania kelelahan saja dan juga tadi kita gak makan siang jadi Rania pingsan. " jelas Novi.


"Kenapa bisa nggak makan? " Diki menginterogasi Novi.


"Karena kafe rame, jadi gak sempet. "


"Tapi sekarang udah makan? "


"Belum.Nih nungguin kamu biar bisa antar kita pulang. " Novi masih mengelus elus tangan Rania.


"Ya udah yuk kita pulang sekarang. "


Diki merangkul Rania, Novi sendiri berjalan di belakang mereka, membawakan obat Rania yang di tebusnya tadi.


Diki mendudukkan Rania dengan pelan di jok belakang, sengaja agar Novi bisa di sebelahnya menjaga Rania.


Diki lalu melajukan mobilnya dengan pelan, sambil sesekali melirik Rania dari kaca spion di depannya.


Baru beberapa meter berjalan, Diki memberhentikan mobilnya di sebuah restoran, dia turun lalu membuka pintu belakang. "Ayo turun " ucapnya seraya meraih tangan Rania.


"Jangan berhenti, aku mau pulang sekarang " Rania berkata lirih.


"Kita mau makan bukan? " kata Diki.


"Aku makan dirumah saja, adikku pasti menunggu di rumah. " suara Rania sangat lemas.


"Oke kalo gitu tunggu sebentar, aku beli makanan dulu ya. " langsung pergi masuk ke restoran itu.

__ADS_1


"Nov, aku gak mau merepotkan Diki. Ayo kita turun. "


"Ran, apa yang kamu pikirkan? Kamu gak akan kuat jalan. " Novi menahan tangan Rania yang sudah mengangkat kakinya ingin turun dari mobil.


"Aku gak mau merepotkan Diki, biar aku jalan saja. "


"Rani, kamu sedang sakit sekarang, jangan paksakan begitu. " Novi masih menahan tangan Rania.


Novi memandang ke pintu restoran, dan akhirnya Diki keluar juga.


"Itu Diki, ayo kita pulang... " Novi memeluk Rania erat.


Rania meneteskan air matanya. Entah apa yang membuatnya menangis.


"Rumah kamu dimana Ran? "


"Lurus aja ngikutin jalan ini, rumah Rania ada di ujung jalan. " jawab Novi.


Diki lantas melajukan mobilnya lagi, baru beberapa meter dan mereka pun sampai di rumah Rania.


Devi yang sedang duduk di kursi teras rumah langsung menyambut mereka.


"Kak Haris....... " teriak Devi sambil berlari menuju mobil hitam mirip mobil Haris.


?????


Diki merangkul Rania lagi. Memapahnya menuju rumah.


"Dhe ayo masuk... " ucap Rania lirih.


Novi menggandeng Devi.


"Devi kira itu kak Haris. " ucap Devi sambil menatap Novi, Rania dan Diki bergantian.


Rania yang sudah duduk itu mengedipkan matanya, berharap Devi tidak bicara soal Haris.


"Siapa kak Haris Dev? " Novi cepat bertanya.


"Calon suami kak Rani. Tapi sudah lama dia tidak kesini. " Devi mendesah sedih.


"Calon suami???? " Novi dan Diki saling tatap.


"Enggak,. Bukan. " dengan suara lirih Rania mencoba bangun dari sandaran nya .


"Ran??? " Novi melirik Rania.


"Bukan, aah aku lapar sekali sampai hampir mati. " rengek Rania.


"Kamu harus jelasin nanti habis makan. " ucap Novi sambil berdiri hendak mengambil piring di dapur.

__ADS_1


Merekapun makan malam bersama. Diki sesekali melihat Novi yang sedang menyuapi Rania. Masih bingung dengan ucapan Devi.


"Nama kakak siapa? " tanya Devi di tengah2 makan malam itu.


"Diki sayang,,, " Diki tersenyum.


"Kakak jangan nyakitin Mba Rani seperti kak Haris ya. Devi sayang sama mba Rani. " ucapnya dengan polos.


???? Diki hanya tersenyum, belum masuk di akalnya tentang perkataan Devi.


"Dhe jangan bicara saat makan. " Rania mengingatkan Devi.


Semuanya melanjutkan makan, setelah Rania kenyang lalu Novi mulai memakan jatahnya.


Rania sudah meminum obatnya, lalu menyuruh Devi untuk belajar. Devi menurut seperti biasa.


Kini hanya tinggal Rania, Novi dan Diki duduk di ruang tamu.


"Jadi siapa Haris itu? " Novi sudah tidak sabar ingin tau.


"Sebenarnya Haris bukan siapa2ku, kita berkenalan di kafe waktu itu aku menjatuhkan kameranya dan dari situ kita menjalin pertemanan. " jelas Rania dengan masih lemas.


"Hanya teman? " tanya Novi lagi.


Rania mengangguk.


"Kalau hanya teman, kenapa tadi di klinik kamu juga mengigau menyebut namanya. " Novi menatap serius mata Rania.


"Serius, bahkan perkenalan kita hanya 5 hari. "


"Kalian sudah jadian? "


Diki hanya diam melihat dua gadis itu berbincang.


"Enggak. Setelah 5 hari kita jalan, dia pulang ke kotanya terus menikah. Aku gak ada apa2 sama dia. " jelas Rania lagi.


"Kenapa kamu sampai bisa mengigau tentangnya? " Novi masih kepo.


"Nov, aku pengen istirahat. Kalian bisa bertanya lagi padaku besok ya? " memohon.


"Oke karena kamu sedang sakit, kita pulang sekarang. Tapi janji ya besok harus cerita. " Novi memegang lagi tangan Rania.


Rania mengangguk . "Maaf ya.. " ucapnya menatap Novi dan Diki bergantian.


"Ya udah kita pulang. Cepet sembuh ya. "


"Ran, cepet sembuh ya.. " Diki menimpali.


Rania mengangguk, tersenyum. Novi dan Diki lalu keluar, Diki mengantar Novi ke rumahnya...

__ADS_1


__ADS_2