
"Untuk apa kamu menemui Rania lagi?" tanya Apri yang penasaran. Haris barusan menjemputnya, meminta Apri menemaninya menemui Rania.
"Hanin akhirnya setuju, aku menceraikannya, maka dari itu aku mau minta maaf pada Rania dan__"
"Mau ngajakin dia nikah lagi? Aakh kamu bodoh banget sih Ris. Kamu pikir perempuan udah disakitin kaya kemarin tu bakal mau nerima kamu lagi?" Apri kesal sendiri dan berhasil menebak kemauan Haris.
"Aku ini kan cinta pertamanya, lagian mana mungkin bisa semudah itu melupakanku," jawabnya dengan pede.
"Bukannya gak punya kenangan yang harus dilupakan? Kalian kenalkan hanya beberapa hari saja."
"Kita lihat saja nanti," menyeringai licik.
Mobil melaju dengan kencang,menerbangkan dedaunan yang gugur dulu jalan. Sepanjang perjalanan Apri hanya menggelengkan kepala, sesekali menatap Haris. "Kenapa dia bodoh sekali, sudah beruntung dapat istri secantik dan sekaya Hanin," batin Apri mengumpat di hatinya.
Tiga jam berlalu, perjalanan melelahkan tanpa istirahat. Tanpa makan atau minum, tanpa pembicaraan. Apri membuka matanya, setelah merasai mobilnya berenti. Terbelalak ketika matanya memandang ke luar kaca mobil melihat pemandangan yang tak asing.
"Sudah sampai ternyata, Ris__" Apri melihat jok depan dimana Haris duduk, tapi tidak ada orangnya.
"Bahkan dia tidak membangunkan ku, dasar teman macam apa dia?" umpatnya lagi, melihat Haris yang tengah berdiri mengetuk pintu rumah Rania.
Apri berlari menghampirinya. "Gak ada orang? Jelas lah, jam segini dia pasti kerja." Bernada mengejek.
"Kenapa gak bilang dari tadi?" Haris menatap Apri marah.
"Samperin ke kafe!" Haris menyeringai menatap Apri
"Bentar lagi pulang, tunggu aja bentar..."
"Devi? Aa Devi pasti di rumah..." berdiri menghadap pintu lalu mengetuk nya. "Devi... Devi..." panggilnya berulang kali.
Tidak ada jawaban.
Wajah Apri terlihat sangat bosan. "Udah lah Ris tunggu aja, brisik amat si."
Haris diam sejenak, tiba-tiba pintu terbuka ..
"Kak Di...ki__" Ucap Devi terputus saat orang yang dipanggilnya ternyata salah.
"Devi? Cantik? Unchh kakak kangen sama kamu sayang." Haris memeluk cium Devi, tulus benar-benar rindu dengan anak menggemaskan itu.
"Devi, apa kabar sayang?" sapa Apri tersenyum pada Devi.
__ADS_1
"Kak Apri??" kali ini senyumannya lebar mengarah pada Apri.
"Kakak kangen," kata Apri, "Devi juga" Apri dan Devi saling peluk.
"Sama kak Haris?" Haris cemberut karena tidak di sambut semesra sambutannya pada Apri .
"Kangen juga kak..." Devi yang masih di peluk Apri menoleh ke Haris.
"Boleh masuk cantik?" ucap Apri dengan mimik wajah memelas.
"Boleh.Ayo masuk kak..."
Mereka bertiga masuk, seketika Haris kembali mengingat pertemuan dengan Rania dulu.
Hati Haris terasa sesak, mengingat niat jahatnya dulu ingin memperalat Rania. Sekarang Haris rindu, rindu senyum tulus Rania untuknya.
"Semoga kamu belum berubah," batin nya.
"Sini duduk cantik, kamu lagi apa tadi?" Apri tidak sungkan-sungkan pada Devi meskipun sudah lama tidak bertemu.
"Lagi main boneka, ini boneka baru Devi kak," ucapnya sembari mengangkat boneka pooh ke arah Haris dan Apri.
"Disimpan." Devi masih memeluk boneka poohnya.
"Kenapa? Devi udah bosan?" tanya Haris lagi.
"Kata mba Rani boneka nya di simpan saja. Biar nggak rusak," ucap Devi polos.
Seketika bibir Haris melebar.Dia yakin Rania belum berubah, mengingat boneka yang darinya saja harus di simpan.
"Hehe, boneka itu juga cantik, lucu seperti Devi," puji Haris.
"Iya. Ini dibeliin kak Diki. Kak Diki juga baik kaya kak Haris sama kak Apri."
"Siapa kak Diki?" tanya Haris membujuk Devi.
"Teman mba Rani. Mereka mau menikah"
"Menikah??" Haris dan Apri kaget bersamaan.
"Mba Rania mau menikah?" ulang Haris lagi.
__ADS_1
"Iyaa kak, kak Diki baik banget sama mba Rania, Devi juga selalu dibeliin apa-apa. Kak Diki__"
"Assalamualaikum..." Rania datang. Menatap tajam pada Haris dan Apri.
"Waalaikumsalam," menjawab bersamaan.
"Rania?" Haris dan Apri berdiri, hendak mengahmpiri Rania yang masih berdiri di depan pintu.
Rania berjalan perlahan, mendekat pada Haris dan Apri. Devi pun berlari memeluk Rania. "Mba kak Haris datang lagi..." ucapnya dengan polos.
"Devi main di kamar dulu ya sayang." Rania masih mempertahankan kelembutannya meskipun sebenarnya hatinya sedang berperang. Melawan rasa yang sudah dia lupakan agar tak kembali lagi.
Devipun mengangguk, Haris dan Apri tersenyum melihat kedekatan kakak beradik itu masih seperti dulu.
"Rania..." Haris mendekatinya.
"Ada perlu apa mas?" Sikap Rania masih bisa di kontrol.
"Aku merindukanmu. Aku sudah menyelesaikan masalah di rumah, sekarang aku kembali untuk mengambil lagi cintamu yang dulu," ucap Haris dengan mantap.
"Mas Haris sudah beristrikan? Untuk apa menemui ku lagi?" Matanya mulai berlinang.
"Aku akan segera bercerai dengannya, aku ingin kita lanjutkan cinta yang dulu."
"Oh...Bisa seenaknya begitu ya?" kata Rania, "Sudah dinikahi, seenaknya saja di ceraikan. Allah memang baik sudah menjauhkan aku dari orang sepertimu, orang yang tidak punya tanggung jawab, orang yang selalu berkhianat dengan kata-katanya. Aku bersyukur__"
CUP
Ciuman mendarat di bibir Rania.
Rania terpaku. Haris masih ******* bibir kecil Rania.
Sadar, lalu berontak.
"Apa yang kamu lakukan?" Rania mendorong Haris tapi hanya melepaskan ciumannya saja.
"Aku sangat rindu Ran, apa kamu sudah berubah?" Haris masih berdiri tepat didepan Rania.
Rania mendongak menatapnya.
"Aku mau kamu keluar mas, jangan datang lagi. Aku sudah berubah, aku sudah mencintai laki-laki lain," menunduk dan berkata dengan jelas.
__ADS_1