Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Tiara


__ADS_3

Di kota x, Diki terlihat keren dengan kemeja merah maroon yang dikenakannya, juga rambut acak seperti biasa yang membuatnya jadi cowok keren idaman wanita.


Tengah duduk di belakang kemudi, melajukan mobilnya dengan sedang. Raut wajah tampan itu terlihat bahagia.


Tentu, hari ini pacarnya Tiara, akan kembali ke tanah air. Diki sudah menyiapkan sebuah kotak kecil berhias pita yang ia taruh di kursi sampingnya. Pertemuan pertamanya nanti di bandara, setelah hampir empat tahun Diki berencana akan melamar langsung Tiara.


Apa Diki tidak memikirkan Rania?


Tidak dong. Diki kan hanya mempermainkan Rania, lebih jelasnya menjebak Rania untuk membalaskan dendam adik sepupu.


Sesampainya di bandara x, Diki turun dari mobilnya. Menurunkan kaca mata hitam yang tadi ia selipkan di atas rambut setengah basah itu. Dengan menggenggam kotak kecil di tangan kanannya, Diki berjalan gagah menyusuri lorong ruangan.


Kemudian duduk di salah satu kursi di ruang tunggu. Banyak orang menatapnya kagum, Diki memang tampan, muda dan penampilannya wow.


Lima belas menit menunggu, Diki meluruskan pandangan kepada gadis tinggi, putih, rambut lurus sepinggang dengan warna pirang di ujung rambutnya. Gadis yang di tunggu selama ini, dia Tiara, kekasih Diki.


Berdiri dari duduknya, Diki melebarkan senyuman dan membalas lambaian tangan Tiara dari kejauhan. Karena tak sabar, Diki berlari kecil menghampiri Tiara yang kelihatannya kerepotan membawa beberapa paperbag dan menyeret sebuah koper besar.


"Hany? Emuach emuach, akhirnya__" Diki mengecup dua kali pipi Tiara. Kemudian melebarkan tangan ingin memeluk.


"Aduh Baby? Please help me! Ini sangat berat," pintanya manja, lalu memberikan beberapa paperbag pada Diki. Diki menyiutkan senyumnya dan menerima beberapa paperbag itu.


"Aku rindu, pengen peluk," rengek Diki seraya berjalan menuju kursi terdekat.


"Ouh, ah. Tanganku pegal baby. Kita duduk dulu disini," suara Tiara yang masih berat mengucapkan bahasa Indonesia membuat Diki tertawa.


"What?" Tiara mengernyitkan dahinya menatap Diki yang tertawa.


"Kamu lucu. Sayang__" rengek Diki lagi melebarkan tangannya.


Tiara tersenyum kemudian menyambut pelukan Diki.


"Emmm apa yang kamu bawa?" Tiara menunjuk kotak kecil di tangan Diki.


"Oh, ini__" Diki menyodorkan kotak itu dan membuka hingga sedikit terlihat apa yang ada di dalamnya.


"Emm sebentar baby, aku haus." Tiara mencari botol minumannya di salah satu paperbag nya," Ini dia, glek glek," minum hingga habis sebotol kecil air mineral.

__ADS_1


Diki menghela nafas melihat Tiara, "Apa itu?" Tiara meraih kotak kecil itu.


"Waaaah very nice. Ini untukku?" beralih menatap Diki dengan senangnya. Diki mengangguk.


"Thanks baby, kamu masih sama seperti dulu. Tetap romantis" ucap Tiara kemudian memeluk Diki agak lama.


"Kamu suka?"


"Yes, ini cantik."


"Sini aku pasangkan!" Diki mengambil cincin emas berhias berlian di tengahnya. Lalu memakaikan cincin itu di jari manis Tiara, setelah itu mengecup tangan putih mulus itu.


"Kita pulang sekarang?"


"Ayo, aku lelah sekali baby."


"Biar aku yang bawa." Diki meraih semua paperbag Tiara dan juga menyeret kopernya. Kemudian Tiara menggandeng lengannya, dan mereka berjalan keluar Bandara.


Di tempat lain, Haris terlihat murung. Entah apa yang membuatnya menjadi lebih dingin seperti itu. Mama dan papanya juga sampai bingung bagaimana lagi harus membujuk Haris agar mau keluar dari kamarnya, setidaknya untuk makan dan minum saja. Sudah tiga hari semenjak kepulangannya dari pelarian, Haris hanya berdiam diri di kamar, bahkan Apri pun tidak di ijinkan masuk ke kamarnya.


Haris pun sedikit bersemangat lalu membuka pintunya dan memperbolehkan Apri masuk.


"Siapa dia?" Haris mengunci kembali pintu kamarnya.


"Hanya laki-laki penghibur di klub yang Hanin datangi, dia mengaku sudah meniduri Hanin. Tadi aku menekannya supaya mau tanggung jawab, dan dia setuju." Apri menjelaskan semuanya, lalu bernafas lega melihat seringai tipis di bibir Haris.


"Hebat.Kapan dia akan menikahi Hanin?"


"Aku sudah kasih alamat rumah Hanin, malam nanti dia akan datang. Masalah menikah atau mau bagaimana bukan urusan kita lagi kan? Kamu bisa lega sekarang." Apri menepuk pundak Haris.


Haris membaringkan tubuhnya di ranjang, " Aku lega bisa lepas dari Hanin tanpa membuat papa marah, tapi Pri__" menarik nafas dalam, sambil melirik Apri. Apri juga menatapnya sekarang.


"Aku masih ingin peduli sama Rania. Bagaimana aku bisa dekat dengannya lagi meskipun hanya sebatas teman. Aku juga ingin dekat lagi dengan si cantik Devi," lanjutnya.


"Ya, bagaimana lagi? Rania kan punya suami, mana mungkin suaminya memberikan ijin Rania berteman dengan laki-laki dewasa sepertimu!" tungkas Apri.


"Iya juga. Makasih ya bro, selalu ada buat aku." Haris tersenyum lepas. Seperti sudah mengikhlaskan takdir yang seperti ini.

__ADS_1


Apri beranjak dari kamar Haris karena masih ada yang harus di kerjakan. Ketika membuka pintu, mama nya Haris berdiri di sana.


"Eh tante ... mau ... masuk?."


"Emang Haris sudah baikan?"


"Kelihatannya begitu. Coba saja tante masuk. Apri permisi dulu ya tan," Apri mencium punggung tangan beliau lalu pergi.


tok tok tok.


"Mama boleh masuk?"


Haris melirik nya, "silahkan ma"


"Sudah Ris jangan di pikirkan lagi, maafkan mama dan papa sudah membuat hidupmu seperti ini. Mama menyesal," tangis mamanya pecah kala melihat anak semata wayangnya terkulai tak berdaya.


"Haris sudah memaafkan semuanya ma. Haris bersyukur mama sekarang lebih sehat, dan papa juga nggak kasar-kasar lagi sama mama." Haris meraih tangan mamanya yang mendingin.


"Lalu, apa kamu mau kembali sama gadis desa waktu itu nak? Kamu masih mencintainya?" menggenggam tangan Haris kuat.


"Rania?" menundukkan pandangan, "Rania sudah menikah, ma. Dia sudah bahagia bersama suaminya. Haris lebih baik sendiri dari pada mencintai tapi akhirnya seperti ini lagi. Haris merasakan sakit yang sama seperti dulu saat Hanum pergi, ma."


"Sabar ya, kamu laki: laki kuat dan tangguh. Pasti akan mendapatkan pasangan yang spesial, nah wanita spesial untuk kamu pasti jumlahnya hanya beberapa makanya kamu sulit menemukannya," ucap mamanya menenangkan.


"Makasih, ma." Haris tidur di pangkuan mamanya, terasa nyaman setelah sekian lama tak merasakannya.


"Kita makan yuk."


"Nggak nafsu ma"


"Ya sudah mama ke bawah dulu ya, jangan melamun lagi kan soal Hanin sudah selesai," sekali lagi menyuguhkan senyuman yang meneduhkan pandangan Haris.


Haris mengangguk, dan menatap mamanya keluar dari kamar.


Huft Haris, biarkan Rania bahagia entah dengan siapapun itu. Jika memaksanya hidup denganmu tapi tak bahagia, kamu juga akan terluka. Karena kamu mencintainya. Dan cinta tak harus memiliki.


____ Wuwuwuu bonus deh buat kalian pembacaku tersayang. Part ini mencapai 1000 kata, semoga kalian puas bacanya dan makin suka sama kisah Rania dan yang lain. Mohon dukungannya agar cerita ini tetap berlanjut. Terimakasih 🙏. ____

__ADS_1


__ADS_2