
"Kamu bohong? Kamu bohong kan?" Haris mengeraskan suaranya.
Membuat Rania menunduk, Devi semakin pucat.
"Ris, Ris tenang. Semuanya bisa di bicarain baik-baik," Apri memegang lengan Haris.
Devi memeluk Rania erat.
"Ayo sayang!" Rania menarik lengan Devi.
Berjalan lagi dengan sok tegar nya.
" Bertahanlah!" suara lantang dari belakang membuat Rani berhenti, perlahan menoleh.
Haris dan Apri juga terkejut.
"Papa..." ucap Haris pelan.
Om Faisal mendekat. Dengan mata yang me merah lalu mengusap pundak Rania.
"Maafkan om. Tidak seharusnya om memaki kamu seperti itu. Kembali lah pada Haris!" Bicara dengan mata yang berkaca kaca.
Rania menatap Haris yang masih terduduk di belakang om Faisal.
Seakan mendapatkan energi, Haris langsung terbangun.
"Apa yang papa bicarakan?"
"Kamu benar Ris. Kamu sudah dewasa, papa yang keterlaluan selalu mengatur mu sebagai anak kecil," memeluk Haris.
"Papa merestui kami?"
Om Faisal mengangguk.
"Tapi bagaimana dengan perusahaan papa?"
"Selama kita bisa bekerja keras, kita akan sukses. Papa tidak akan bergantung pada siapa-siapa lagi untuk kemajuan perusahaan kita. Kamu harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh." Om Faisal menepuk bahu Haris. Lalu berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
"Ran? " mengulurkan tangan berharap Rania mau kembali.
Rania tersenyum.
"Mas? Semudah itu kah meminta maaf? Aku bahkan masih merasakan sayatan di hatiku ini," berkata lirih.
"Aku akan menyembuhkan hatimu yang terluka. Aku akan membahagiakanmu."
"Pulang lah mas. Aku akan kembali ke desa. Aku sudah memaafkanmu." Rania berjalan lagi.
Sebuah taksi lewat, Rania dan Devi menaikinya.
Untuk yang kedua kali Haris merasakan kehilangan. Haris pun tak ingin mengejar Rania. Di sini Rania yang terluka karena ucapan papanya.
Rania kembali menangis, memeluk Devi.
"Ya. Aku yang tidak tau diri. Dengan mudahnya aku menerima cinta lelaki yang baru saja ku kenal. Harusnya kamu pikirkan resikonya seperti ini Rania," batin Rania, menangis sesenggukan.
Devi menatap Rania yang masih memeluknya.
"Tadinya mereka sangat bahagia tapi sekarang mba Rani menangis seperti ini." Devi memeluk erat Rania.
"Kita ke terminal ya pak!" jawab Rania dengan suara serak.
"Baik."
Tiga puluh lima menit diperjalanan kini mereka sampai di terminal. Rania membayar taxi yang ia naiki tadi. Menggenggam erat tangan Devi agar mengikutinya. Mencari bus dengan tujuan kota mereka.
Kini Rania sudah tenang. Dia berhasil meyakinkan hatinya kalau semua baik-baik saja.
Rania dan Devi sudah menaiki bus nya. Duduk saling bersandar. Devi sesekali tersenyum melihat Rania sudah berhenti menangis.
Diam.
Tidak ada candaan lagi.
Bus itu berjalan, Rania duduk agak di belakang.
__ADS_1
"Tak apa Rania. Bukankah dari kecil kamu sendirian? Waktumu akan sia-sia jika kau pakai hanya untuk menyesali luka ini. Toh dulu kamu pernah merasakan luka yang lebih dari ini? Dulu kamu juga sangat terluka, tapi buktinya, sampai saat ini hidupmu baik-baik saja. Jadilah Rania lagi seperti Rania lima hari sebelumnya. Rania yang tegar, Rania yang ceria, Rania yang kuat!" tiba-tiba bibir tipis Rania melebar, tersenyum akan kata-kata di pikirannya itu.
"Kasian kamu dhe, pasti kamu sangat lelah," ucap Rania lirih sambil memperhatikan Devi yang mulai terlelap.
Dua jam diperjalanan, Rania telah sampai di terminal kota nya. Berasa nyawa nya berkumpul lagi, penuh semangat. Rania dan Devi berlari kecil setelah turun dari bus.
Devi tersenyum melihat kakak tercintanya itu ceria lagi.
"Dhe makan dulu yuk?"
Devi hanya mengangguk.
Mereka masuk di salah satu rumah makan sederhana di dekat terminal. Makan dengan lauk seadanya seperti biasa.
Sesudahnya, mereka menunggu angkutan umum menuju rumah mereka di desa.
Banyak angkutan yang sudah lewat, tapi Rania menunggu yang tidak terlalu banyak penumpang.
Akhirnya menemukan juga angkutan yang hanya berisi empat orang, Rania dan Devi menaikinya. Wajah Rania benar-benar tegar, setegar matahari yang hampir tenggelam itu.
Sesampainya di rumah , mereka membersihkan diri. Devi membuka bukunya, belajar seperti malam-malam biasanya.
Rania membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Lelah sekali.
Sedangkan dirumah Haris.
Haris berdiam mematung di tepi ranjangnya.Papanya masuk pun dia tidak bergeming sama sekali. Kedua kalinya Haris merasa hatinya terluka.
Haris sudah menaruh harapan pada rania. Tak bisa lagi bertegur sapa dengan gadis lugu itu. Rumah Rania yang sangat jauh, bahkan harapannya pada Rania juga pergi sangat jauh melebihi jarak rumah mereka.
"Ris, makan malam sudah siap. Kenapa kamu tidak turun?" ucap papanya membangunkan Haris dari lamunan.
"Haris nggak lapar pa, papa dan mama duluan saja." Haris memalingkan wajahnya.
Papanya hanya menepuk pundak Haris. Merasa menyesal. Lalu pergi dari kamar Haris.
"Ris, turunlah, ada Hanindya di bawah," ucap om Faisal membuka pintu kamar Haris lagi.
__ADS_1
"Ya, pa."
Haris melangkahkan kakinya. Sebenarnya enggan menemui gadis itu, tapi Haris mencoba menghargai papa nya karena tadi untuk pertama kalinya om Faisal membiarkan Haris dengan pilihannya.