
Singkatnya, malam telah berganti. Perasaan Rania secerah mentari di pagi ini.
Dia sudah sembuh, menyiapkan sarapan untuk adiknya yang tengah bersiap siap sekolah.
"Mba, hari ini Mba kerja?" Devi duduk di dekat Rania.
"Iya, Mba kan sudah sembuh," tersenyum sambil mengaduk segelas susu. "Kita sarapan dulu ya dhe," mengambilkan nasi untuk Devi.
Sarapan dengan tenang, Devi meminum susunya, mencium punggung tangan Rania lalu berangkat ke sekolah.
Rani membereskan meja makan, pergi ke kamar mandi. Karena sudah tidak pusing lagi, dia mau berangkat kerja lagi hari ini.
Selesai mandi, Rania terkejut saat mau ke kamarnya, Haris sudah duduk di ruang tengahnya. Rania membalikkan badan hendak masuk lagi ke mandi karena malu hanya membalutkan handuk di badannya.
Haris tertawa kecil melihat tingkah Rania.
"Keluarlah, aku tak akan bernafsu padamu kalo aku belum sah menikahimu," teriak Haris sambil tertawa.
"Mas keluar saja dulu, aku mau ke kamarku!"
teriak Rania dari dalam.
"Kamu tidak dengar kata-kataku tadi?"
"Aku malu..."
"Keluarlah aku tidak akan membuka mataku!" teriak Haris lagi.
Rania perlahan membuka pintu kamar mandi, mengintip Haris yang masih duduk di depan pintu kamarnya itu. Haris memejamkan matanya.
Rania berlari kecil, karena memang rumahnya tidak luas, dia langsung sampai di kamarnya, mengunci pintu lalu ganti baju.
Rania keluar ke kamarnya dengan memakai seragam kafe.
"Kamu mau kerja?"
"Iya, aku sudah sembuh mas," duduk di samping Haris.
"Hari ini aku akan mengajakmu bertemu orang tuaku. Setelah Devi pulang sekolah, kita berangkat."
"Cepatnya, kenapa mendadak sekali mas?" Wajah Rania terlihat bingung.
"Sudah menurut saja, ini hanya pertemuan biasa, biar saling mengenal."
__ADS_1
"Apa tidak memalukan jika mas Haris menjadikan aku istri?" Rania kembali merendah.
"Kamu tidak percaya padaku atau apa si? Selalu itu yang kamu bicarakan."
"Maaf." Rania beranjak menuju dapur, membuatkan secangkir kopi untuk Haris.
"Minum dulu mas," menaruh kopi di depan Haris.
Haris langsung tertarik mencium aroma kopi yang di buat Rania, dia langsung memegang gelas itu dan mencium2 aroma kopinya.
"Sepertinya enak, kamu pintar sekali membuat kopi ini," memandang gelas kopi itu.
"Masih panas mas, hati-hati!" Rania tersenyum
"Ini sangat enak," batin Haris setelah meneguk kopi panas itu.
"Setelah menikah nanti, buatkan setiap pagi kopi seperti ini untukku ya?" Haris menatap Rania penuh cinta.
Rania hanya tersenyum, padahal kopi yang dibuatnya cuma kopi biasa saja.
"Mas sudah sarapan?"
"Belum, aku tidak terbiasa makan sepagi ini."
"Padahal sarapan itu penting lo mas."
"Saat bertemu orang tua mas nanti, aku pasti akan sangat malu."
"Ran, kamu ada hati apa enggak pada ku? Kalo kamu begini, aku merasa kamu menerimaku hanya untuk berterimakasih saja," Haris menggenggam tangan Rania.
"Aku suka, hatiku saja selalu bergetar saat bersamamu mas. Bahkan sejak perkenalan kita, hampir tiap malam aku memikirkan mas Haris." Rania menggenggam balik tangan Haris.
"Kalo begitu berhentilah merasa tidak pantas mencintaiku. Yang akan menjalani hubungan ini adalah kita berdua, bukan orang lain."
Rania tersenyum mendengar ucapan Haris yang sangat membuat hatinya bahagia.
"Mas?"
"Ya..."
"Bolehkah aku bersandar disini?" memegang dada Haris.
"Kenapa?" Haris menatap Rania.
__ADS_1
"Jadi gak boleh?" Rania cemberut.
"Enggak lah, kan kita belum menikah," tersenyum licik.
"Kenapa malam itu mas memelukku?"
"Karena kamu sakit, aku tidak tega membiarkanmu bersandar pada kursi mobil lalu terbentur saat kamu tidur, makanya aku menjagamu dalam pelukanku." Haris sangat ingin tertawa karena melihat wajah malu Rania yang merona.
"Padahal aku merasa nyaman..." bibir Rania mulai manyun.
"Kamu tu ya kecil-kecil sudah ketagihan." Haris melirik Rania dengan senyum liciknya.
"Aaa tidak, tidak, aku tidak seperti yang mas pikirkan," membelalakkan matanya.
"Untung saja aku kuat imannya." Tertawa geli.
"Mas..." Rania memukuli pundak Haris.
Haris tergelak karena Rania terlihat sangat imut.
"Berapa umurmu?" tanya Haris iseng.
"Rahasia..." Rania tertawa kecil.
"Aku tebak ya... 25 tahun," sengaja membuat Rania kesal.
"Aaa kok tua banget mas!" Wajahnya mulai memerah lagi.
"Tua? Kalo begitu kamu jadi anak aku aja ya?" Tergelak semakin keras.
"Mas tu yang udah tua." Rania semakin jengkel.
"Hehe udah-udah jangan cemberut gitu dong. Nanti tua beneran lho." Haris mencubit hidung jambu Rania.
"Aaa, aku jadi penasaran umur mas berapa?"
"Jujur atau tidak ya..." tersenyum.
"Massss, berapa?" Rania memasang wajah manjanya.
"Tiga puluh empat tahun, masih mau jadi istriku?"
"Serius?" membelalakkan matanya.
__ADS_1
"He.em..." Haris meneguk kopinya lagi
"Bagaimana bisa setua itu belum menikah? Tapi wajah tampannya tidak mendukung, mas Haris pasti berbohong." Gumam Rania dalam hati..