
"Kamu mau tidur di kamar mandi?" terbahak sendiri melihat tingkah konyol Rania.
Rania mendekat, berjalan dengan menyeret kakinya pelan. Tangannya mengepal dan dia menggigit bibirnya sendiri.
Diki yang melihatnya tak kuasa menahan tawa. Dengan masih berbaring ia mengambil bantal guna menutup wajahnya.
Tawanya pecah saat wajahnya bersembunyi di bawah bantal. Sedangkan Rania berjalan menunduk tidak ada kekuatan untuk memandang Diki.
Hingga Diki sendiri puas tertawa, sekarang ia membuka kembali bantal itu. Dan masih dengan senyum gelinya melihat Rania yang masih di posisi tetap.
"Padahal jarak kamar mandi dan tempat tidur tidak ada 5 meter, kenapa dia di sana terus dari tadi, terus langkahnya tadi apa? Apa dia jalan di tempat" batinnya, " Hahahaha." Diki benar-benar sudah tidak bisa menahan tawanya lagi.
Rania tersentak, langsung saja memfokuskan pandangannya pada Diki. Tersenyum canggung.
"Kenapa tertawa? Ada yang lucu?" tanya nya sembari masih berdiri di tempat yang sama.
"Kamu lucu."
"Aku__"
"Eh ehh__"
Rania gugup sendiri saat Diki bangun dari ranjangnya dan berjalan mendekati Rania.
Langsung saja Diki membopong Rania, berjalan dengan santai tanpa melihat ekspresi Rania yang panik.
Di jatuhkan nya Rania pada kasur super empuk itu.
Diki menyeringai.
Rania meringkuk, berharap malam ini bisa tidur dengan nyenyak seperti biasanya. Tapi mana mungkin. Inikan malam pertamanya.
Diki menunduk, mendekat dan menopang tubuhnya dengan kedua tangannya agar tidak menindih Rania.
Rania menatap mata penuh harap Diki, nafasnya terasa sesak sekarang.
"Boleh?" bisik Diki tepat di telinga Rania yang membuatnya merinding.
Rania tak menjawab.
__ADS_1
Diki menindih tubuh kecil Rania, merasakan detak jantung yang berantakan. Diki tersenyum, sekarang dia tau Rania pura-pura nggak tau apa yang diminta Diki. Padahal jelas-jelas jantungnya berdegup sangat kencang begini.
Diki meraba wajah Rania, melihat nya hanya diam Diki pun terus meraba bagian tubuh lainnya. Turun ke leher, mengecup lama disana.
Diki merasakan detak jantung Rania yang semakin berantakan.
Tangannya mulai menyusup ke dalam kaos yang di pakai Rania.
Rania tampak menggigit bibir bawahnya.
"Jangan di tahan," ucap Diki santai, membuat Rania semakin tidak karuan.
"Bicaralah Rania, aku juga tidak akan melakukannya tanpa persetujuan dan kerja sama darimu." Diki mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Rania. Kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Rania.
Rania mengerjapkan matanya, lalu memiringkan tubuh dan memeluk Diki.
"Aku mau, tapi pelan-pelan ya," suaranya sungguh berbeda, Rania benar-benar panik.
Diki pun membalas pelukannya, mencium rambut Rania yang terurai.
"Tak apa kalau belum berani, kita bisa melakukannya besok," tersenyum, tapi ada kekecewaan di matanya.
Diki pun langsung tersenyum lebar.
"Benarkah? Tapi aku takut membuatmu tersiksa."
"Diki__" Rania memegang wajah Diki dengan kedua tangannya, mata mereka bertatapan.
Diki mulai ******* bibir Rania, perlahan Rania membalasnya.
Merasa sudah di terima, Diki melanjutkan lagi aksinya. Diki memang sudah dewasa, umurnya selisih 9 tahun dengan Rania. Maka dari itu dia sabar dan tidak terburu buru memuaskan nafsunya.
Rania melenguh lagi.
Diki mulai membuka satu persatu pakaian Rania. Hingga terlihat jelas lekuk tubuhnya.
Diki berhenti sejenak, memandang wajah Rania yang kini memerah itu. Diki sangat menyukainya, dan menambah nafsu *********.
"Kenapa berhenti?" ucap Rania dengan nafas yang tersengal.
__ADS_1
"Takut kamu nangis," jawabnya dengan gelak kecil.
"Terusin!" rengeknya.
"Emang kamu berani?" goda Diki, membuat Rania memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah kalau gak mau." Rania membalikkan badannya, kemudian meraih selimut di sampingnya.
"Kamu takut?" Diki memegang tangan Rania yang hampir menutupkan selimut ke tubuhnya.
"Kamu yang gak mau," wajahnya tampak kesal dan semakin me merah.
"Siapa bilang "
Langsung saja Diki menindih tubuh kecil itu lagi, menciumi sekujur tubuh Rania dengan penuh nafsu.
"Diki, pelan-pelan!" rajuknya.
Diki tidak menghiraukan lagi, rasa inginnya itu sudah tidak bisa di tahan.
Rania masih ragu-ragu dengan mencoba merapatkan kedua kakinya. Masih menciumi tubuh Rania, Diki mencoba membuka kaki kecil itu dengan satu tangannya.
Rania hanya melenguh dan memejamkan matanya.
Diki tidak memberikan istirahat lagi kali ini. Dia sudah sangat ingin, Rania pun akhirnya menyerah karena lama-lama kakinya pegal juga di tahan seperti itu.
Diki tersenyum menatap Rania saat kaki kecil Rania mulai merenggang.
Tangan kirinya menahan ujung kepala Rania, sedikit merematnya. Sedangkan tangan kanannya kini sudah berada di bawah, mengelus pelan ********** Rania.
"Ah," Rania mulai menikmati permainan itu.
Diki memasukkan jari tengahnya, Rania merintih, namun Diki memaksanya masuk.
Lalu memainkannya disana agak lama.
Hingga keinginan mereka berdua memuncak Diki pun mulai.....
______ maaf aku sudah tidak bisa meneruskan kata-katanya lagi, yang sudah menikah pasti tau apa yang terjadi selanjutnya kan? Maaf sekali pembaca yang terhormat 🙏🙏🙏 ________
__ADS_1