Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Semakin cinta


__ADS_3

Setelah pertemuan keluarga, wali Rania yang di wakili oleh mama dan papa Livia. Rania dan Diki semakin lengket saja.


Kemana mana sekarang di antar dan selalu di jemput juga. Rania merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Perhatian Diki membuat nya menaruh hati sepenuhnya pada Diki.


Pagi ini Diki menjemput Rania, rencananya mau fiting baju pengantin. Sejak lamaran malam itu Diki dan Rania mulai mempersiapkan pernikahan mereka.


Mulai dari cetak undangan, memilih perias, sampai menyiapkan hotel milik papa Diki agar di persiapkan semuanya.


Dan hari ini terakhir, mencoba baju pengantin yang sudah di pesannya pada desainner terkenal.


"Rani, sebentar lagi kita akan jadi suami istri," ucap Diki di tengah perjalanan.


"Iya... Aku senang sekali. Terimakasih semuanya ya," Rania memberikan senyuman terbaiknya.


Diki tersenyum dan fokus lagi ke jalanan. Beberapa saat sampailah mereka di butik yang di tuju.


Mereka berjalan bergandengan, terlihat dari wajah calon pengantin itu sangat cerah. Bahkan sinar mentari pun kalah cerahnya.


Wina sang pemilik butik serta desainner terkenal itu langsung memakaikan gaun warna gold yang di minati Rania. Sedangkan satu orang yang membantu Wina memakaikan kemeja beserta setelan jas pada Diki.


Mereka bertemu setelah Wina selesai membantu memakaikan gaun dengan benar, mereka tersenyum dan saling memuji.


Fiting baju itu berlangsung dua jam. Setelah kekurangan di perbaiki, merekapun keluar dari butik menuju mobil.


"Udah agak siang juga, makan dulu yuk!" ajak Diki.


"Boleh," kata Rania, "Aku mau makan di kafe pak Arga sekalian memberikan undangan ini untuknya," ucap Rania lagi.


"O iya, sekalian deh buat Novi. Kemarin-kemarin dia juga udah berisik banget minta undangannya segera di antar," balas Diki.


Mobil melaju kencang menuju kafe pak Arga. Sesampainya di sana, Rania langsung melebarkan tangannya menyambut pelukan Novi.


"Ran, aku kangen banget..." Novi memeluk erat Rania.


"Aku juga, pak Arga ada?" Novi melepas pelukannya.

__ADS_1


"Ada tuh di ruangannya, apa yang kamu bawa?" Novi melirik paperbag yang di tenteng Rania.


"Ini undangan, ini untuk kamu, datang ya?" Rania menyodorkan selembaran undangan untuk Novi.


"Pasti. Emmm senangnya, aku ikut bahagia Ran." Novi memeluk Rania lagi.


Diki yang sedari tadi bosan melihat kedua anak itu.


"Udah deh pelukannya." Diki menarik lengan Rania lalu mensejajarkan Rania dengan tubuhnya.


"Yeee meluk aja gak boleh." Novi cemberut.


Sekarang Rania melerai mereka berdua sebelum terjadi insiden saling ejek yang bakal susah di hentikan.


Akhirnya Diki menemui om nya di dalam, sedangkan Novi duduk semeja dengan Rania.


"Gimana perasaan kamu Ran?" Novi lagi-lagi kepo.


"Tentu senanglah, terimakasih ya Nov selama ini kamu sudah membantu aku, mendukung lebih hubungan kita."


"Wah calon pengantin, kelihatan bahagia sekali ya," ucap pak Arga di sela obrolan mereka.


Rania tentu mengembangkan senyumnya.


"Pak, aku sekalian mau pamit. Rencananya setelah menikah aku tidak lagi bekerja karena Diki melarangku. Terimakasih sudah mempercayai saya selama ini, kafe dan pak Arga adalah bagian hidup saya. Sekali lagi terimakasih..." Rania melempar pandangannya pada Novi juga.


"Hmm biarpun gak bekerja lagi, tapi boleh dong Rania main kesini.Kafe selalu terbuka untuk kamu," balas pak Arga.


Rania tersenyum, menatap Diki yang sedari tadi tidak memalingkan pandangan sedikitpun dari Rania.


"Terimakasih pak."


"Udah waktunya makan siang juga. Gimana kalo kita makan bareng?" celetuk pak Arga.


"Boleh," ucap Rania dan Novi bersamaan.

__ADS_1


lalu Novi dan Rania menuju dapur, ingin memasak sendiri. Pak Arga juga membuat status di pintu kafe menjadi tutup. Makan siang itu terasa nikmat sekali terlebih Rania dan Diki yang memang sedang lapar.


Rania dan Diki pun berpamitan setelah makan siang selesai.


Kini mereka menuju rumah Rania, karena ingat Devi .


"Diki, kita ke mall sebentar ya, stok bahan masakan dirumah sudah habis."


"Ayo... Rani aku pengen segera kita menikah," rengek Diki.


"Kita kan memang akan segera menikah empat hari lagi," Rania tersenyum menatap Diki.


Diki tiba-tiba memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Wajahnya mendekat tepat di depan wajah Rania. Membuat jantung Rania berdegup kencang.


"Ran, boleh aku menciummu?" tanya Diki dengan polosnya.


"Boleh..." Rania tersenyum manja.


Diki dengan bahagianya mulai mendekat lagi, dan hampir nempel.


"Tapi habis nikah ya?" Rania tiba-tiba mendorong pundak Diki.


"Rania?" Diki memdelik kemudian mereka tersenyum canggung, "Sekali?" rengek Diki lagi.


"Habis nikah ya?" Rania menolak pelan.


"Hnnnn, oke." Diki menyalakan kembali mesin mobilnya.


"Gak ngambek?"


"Enggak, aku kan juga harus menjaga kehormatan kamu."


"Terimakasih, kamu memang selalu pengertian."


"Kita harus saling pengertian."

__ADS_1


Saling tatap dan tersenyum lebar, Rania menggenggam tangan kanan Diki.


__ADS_2