Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Pagi sayang


__ADS_3

Silau mentari pagi menyelusup lubang jendela di kamar pengantin baru itu. Rania mengernyitkan dahi, masih belum sadar sepenuhnya.


Dia menoleh ke belakang, terlihat wajah tampan suaminya. Rania tersenyum, lalu perlahan menurunkan tangan yang memeluk tubuhnya itu. Diki menggeliat.


"Eemhhh" Diki memeluk erat Rania lagi.


"Aku bangun dulu, Devi harus sekolah." Rania mengelus pipi Diki, mesra.


"Aku pikir disini kita hanya berdua," tersenyum "maaf ya sayang" ucapnya lagi.


"Kan ada Devi" membalas senyuman Diki.


"Aku bangun dulu, bolehkan?"


Rania beranjak dari tempat tidurnya setelah Diki menganggukkan kepalanya.


"Ah!" lirih Rania saat menapakkan kaki ke lantai.


"Kenapa?"


"Sakit," tersenyum canggung sambil mengikatkan tali piyama nya.


"Pelan-pelan ya!" Diki tersenyum karena Rania nyengir begitu.


Rania berjalan dengan pelannya ke kamar Devi, Devi masih terlelap.


"Bangun dhe, Devi. Hey, bangun!" ucapnya lirih sembari mengelus rambut poninya.


"Iya, kak Diki mana mba?"


"Masih di kamar. Ayo Devi mandi dulu."


"Iya mba."


Devi berjalan ke kamar mandi di kamarnya, Rania kembali ke kamar Diki.


"Apa di dapur ada bahan makanan?" Rania duduk di tepi ranjang sembari menyisir rambutnya.


"Belum ada, nanti kita belanja ya?"


"Tapi Devi biasa sarapan, gimana dong."


"Nanti di jalan aku beliin roti dan susu, dia mau kan?"

__ADS_1


"Heem," anggukan manja Rania, membuat Diki gemas dan ingin menyetubuhi nya lagi.


"Jangan__" bisik Rania saat tangan Diki mulai menggerayanginya.


"Mau lagi!" rengek Diki.


Rania merona, malu juga membayangkan kejadian semalam. Sebelum terjadi lagi, Rania beranjak menuju kamar mandi.


"Jam 6.45. Devi udah belum sayang." Rania sibuk memilih baju nya yang masih di koper.


"Mba," tiba-tiba saja Devi sudah di belakangnya, Diki terkejut karena dia dan Rania hanya mengenakan handuk.


"Eh kenapa kamu masuk? Tunggu di luar dulu Mba ganti baju ya."


Devi mengangguk dan melangkahkan kakinya ke luar.


Diki dan Rania saling tatap, kemudian tersenyum.


Tak berapa lama, mereka keluar dan menghampiri Devi yang sedang duduk di sofa kecil dekat tangga.


"Ayo berangkat sayang!" Rania meraih tangan Devi, menuntunnya.


"Kita nggak sarapan Mba?"


"Nanti kita beli di jalan ya."


"Tentu dong, mulai sekarang kita akan bersama sama terus, dari mulai pagi antar kamu sekolah, jemput kamu pulang sekolah, trus sampai tidur lagi, kita sama-sama terus ya!" ucap Diki mencubit kecil pipi Devi.


"Sekarang kita berangkat ya." Rania membuka pintu belakang mobil, dan duduk disana. Devi terlihat sangat senang karena dia bisa pergi ke sekolahnya menaiki mobil mewah seperti teman-temabnya.


Mobil pun melaju pelan, baru beberapa meter berjalan, ponsel Diki berdering. Telfon dari papa.


"Halo, pa?"


"Ya halo Dik, kamu dimana?"


"Di jalan, mau antar Devi ke sekolah, kenapa pa?"


"Nanti mama sama papa ke rumah kamu, habis selesai miting ya"


"Iya, datang saja pa, ya sudah dulu Diki lagi nyetir mobil nih."


"Hmm hati-hati ya!"

__ADS_1


"Papa ya?" tanya Rania.


"Heem, kita beli bekal buat Devi dulu yuk!" Diki memberhentikan mobilnya di depan mini market.


Mereka membeli roti tawar, beberapa susu kotak, dan juga cemilan. Rania juga mengambil sayuran dan ikan di freezer.


Kemudian menuju kasir untuk membayarnya, lalu menuju mobil lagi dan menuju ke sekolah Rania yang jaraknya sudah dekat.


Setelah Devi masuk ke sekolahnya, Diki dan Rania pulang.


Sekarang Rania duduk di depan, di samping Diki.


Pengantin baru itu saling berpegangan tangan, dan sesekali Diki mencium tangan Rania.


Sesampainya di rumah, Rania yang sedang menaruh bahan masakan di kulkas malah di raih badannya oleh Diki, dan membopongnya ke kamar atas.


Rania sudah tau apa yang akan terjadi, "Apa semua laki-laki sesemangat ini saat menjadi pengantin baru? Padahal punyaku saja masih sangat ngilu," batin Rania, tapi tidak berani menolak.


Dan benar saja, Diki melakukan nya lagi, dengan pelan, hingga Rania melupakan sakitnya.


"Mau lagi?" canda Diki dengan nafas yang ngos-ngosan.


Tanpa bicara, Rania mencubit lengan Diki. Merasa lelah dengan serangan Diki yang tiada ampun.


"Capek sayang? "


"Capek lah, udah ya, aku mau masak, kamu lapar kan?"


Pagi penuh cinta.


Rania harus mandi lagi, begitupun juga dengan Diki.


Setelah mandi,Rania ke dapur, memasak bahan-bahan yang dibelinya tadi.


Sedangkan Diki mengerjakan tugas kantornya di ruangan kerjanya. Rania membawakan secangkir kopi untuk suaminya.


"Enak banget, kamu pintar bikin kopi, terimakasih sayang. Cup!" kecupan lembut mendarat di pipi kanan Rania.


Wajahnya merona lagi.


"Udah ah, nanti kamu ingin lagi." Rania melangkahkan kakinya ke luar.


"Ingin juga kamu mau kan? Kan kamu istri aku," tergelak, membuat pipinya memperlihatkan lesung yang indah.

__ADS_1


Rania menoleh, tersenyum tapi tidak menanggapi lagi. Dia melanjutkan memasak.


"Pagi yang menyenangkan!" gumam Diki, masih menatap cangkir kopi yang di pegang nya.


__ADS_2