
"Pagi Yura?. " Sapa Kevin pagi itu.
"Pagi mas. " Suara Yura serak setelah semalaman menangis.
"Hey kamu sedang sakit?. " Kevin mendekati Yura, menunduk dan memperhatikan mata Yura yang sembab.
"Tidak, aku hanya tidak bisa tidur semalaman. "
"Begitu? , Rania kenapa belum datang ya?. "
Karena malas, Yura hanya mengangkat bahunya dan pergi ke belakang kafe.
Ada apa dengan anak ini?. Batin Kevin.Berlalu ke ruangannya.
"Sepi.... kemana Yura?. Apa dia belum berangkat?, " gumam Rania yang baru saja datang.
"Tapi sudah ada kunci di lokernya. Mungkin dibelakang. " Rania pun menaruh tas didalam lokernya, kemudian mencari Yura dibelakang kafe.
"Yura... " Lirih Rania kala melihat Yura terduduk dilantai dan bersandar tembok dengan menyembunyikan wajahnya dibalik lipatan tangan.
"........... " Tak ada balasan.
"Yura.... " Rania mendekat.
"Aku minta maaf. Yura jangan diam seperti ini!. " Air mata mulai membasahi pipinya.
Yura mengangkat kepalanya, menatap Rania dengan mata merah bengkaknya. Rania paham pasti Yura amat tersakiti dalam masalah ini.
Merasa dibohongi, cintanya bertepuk sebelah tangan, dikhianati sahabat sendiri. Yah pasti itu yang Yura pikirkan.
__ADS_1
"Yura, akan aku jelaskan. Dari awal mula permasalahan hingga sampai begini. Aku akan ceritakan semuanya dan tidak perlu ada rahasia lagi... aku janji Yura... maafkan aku. " Sama hal nya Yura, hati Rania pun begitu tersayat melihat sahabat yang selalu ceria itu sekarang murung dan tidak mau berbicara dengannya.
"Aku...... " Rania mendekat.
Tanpa satu kata pun Yura beranjak pergi meninggalkan kata-kata Rania yang belum terselesaikan.
Yura benar-benar tidak mau mendengarkanku, Hiks.
Hari itu hari penuh luka. Kevin sesekali memperhatikan tingkah aneh Yura dan Rania dari dalam ruangannya.
"Tumben mereka diem, biasanya kafe sepi mereka gila!. " Kevin tergelak sendiri di ruangannya.
Dan tidak tau mengapa, pagi menjelang siang itu Kevin merasa lapar. Dengan membawa laptopnya dia duduk kursi meja kafe. Di liriknya dua gadis yang sedang saling diam itu.
"Ambilkan aku cake spesial dong, lapar nih. " Kevin berbicara dengan pandangan fokus ke layar laptopnya.
"Iya mas. " Berjalan mengambil smooty brownis lalu dengan wajah malas mengantarkan ke meja Kevin.
"Makasih." Yura berlalu begitu saja.
"Ehem. Yura, Rania, kemari kalian. "
Yura dan Rania mendekat.
"Duduk!. " Perintah Kevin, merekapun menduduki kursi dimeja yang sama dengan Kevin.
"Kalian kenapa?, aku perhatiin dari tadi kalian gak ngobrol seperti biasa. "
"Mas, aku rasa aku cuma sendirian disini tidak ada orang lain lagi. " Jawab Yura dengan ketusnya.
__ADS_1
"Ada masalah apa?. "
"Tau deh ada penghianat. " Menatap jengah Rania.
"Yura. Kalau kamu memberiku kesempatan, kamu pasti akan mengerti dan tidak akan membenciku seperti ini. "
"Baiklah Yura, coba kalian selesaikan masalah ini baik-baik. " Kevin mencoba meredamkan kobaran api dihati keduanya.
"Yura, aku dan mas Haris sudah kenal lama sebelum aku mengenalmu. Saat itu mas Haris dijodohkan sehingga aku terpaksa meninggalkannya. Tak berapa lama akupun menikah, tapi ternyata laki-laki yang menikahiku adalah suruhan istri mas Haris, dia ingin menghancurkan hidupku karena berbulan bulan menikah mas Haris tidak pernah menyentuh istrinya hingga timbul sakit hati lalu membalasku dengan menyuruh sepupunya menikahiku. Pernikahanku pun tak berlangsung lama sebab kekasih suamiku pulang dari luar negeri. Dan aku dicampakkan begitu saja hingga om dan tante membawaku kemari dan tidak sengaja aku dan mas Haris bertemu kembali. Jikalau dari awal kita jujur saja pasti semua tidak akan terluka seperti ini. Ini salahku, maafkan aku. " Rania diam, terisak, mengharapkan Yura mau memahami keadaan.
"Lalu maksudmu apa berpura -pura tidak saling kenal dengan kak Haris?. "
Rania, sudah menikah?. Kevin tidak ada pilihan lain selain menjadi wasit dan mendengarkan mereka berdua menyampaikan kebenaran.
"Karena dipikiranku, aku tidak mau lagi mengungkit masa lalu karena itu terlalu sakit. Dan tidak disangka mas Haris pun berpikiran sama, sama -sama tidak ingin membahas masa lalu. Yura.... aku sama sekali tidak ada niatan untuk menghianatimu. Hiks. "
"Dan aku paham sekarang, kak Haris tidak pernah mau membalas semua perhatian, cinta dan kasih sayang yang aku berikan selama ini karena sebenarnya di hatinya ada kamu. " Hanya sesenggukan, karena air mata Yura tak bisa lagi keluar.
Rania mengangguk lemas, namun lega akhirnya bisa menceritakan yang sebenarnya. Sekarang hanya tinggal menunggu keajaiban Yura bisa memaafkannya.
"Aku akan pergi dari kehidupan mas Haris, aku ingin melihatmu bahagia. Tapi kumohon maafkan aku. "
"Benarkah? . Wah aku sangat senang, tapi apa kata-kata itu bisa kupercaya?. " Yura tersenyum sinis, menandakan jika sudah dikecewakan sekali tidak akan pernah memaafkan.
"Benar.Aku akan pergi hari ini juga. " Rania berdiri, mengambil tasnya dan langsung saja keluar kafe tanpa ada kata terakhir untuk bos muda nya..
.
___Sudah mau aku tamatin. Mau Ending yang seperti apa readers ku sayang? . Haris bersama Rania? atau Haris bersama Yura? atau keduanya sama - sama meninggalkan Haris? Kutunggu saran dari kalian, pilihan terbanyak yang akan saya ambil. Dan ceritanya berlanjut setelah minimal ada 5 koment 😊 imajinasi kalian membantuku 🙏 terimakasih___
__ADS_1