
Usai makan malam, seperti biasa Rania mengantar Devi ke kamarnya, melebarkan selimut di tubuh Devi.Mengusap keningnya beberapa kali hingga Devi tidur.
Lalu Rania beranjak . Devi membuka matanya lagi. Terisak sendiri melihat punggung Rania yang hampir sampai di depan pintu.
"Mba Rania aku pengen di peluk. Hiks hiks, Mba Rania???" isakan yang hanya terdengar olehnya sendiri. Terasa sesak, betapa rindunya Devi dengan Rania yang dulu yang selalu memeluknya.
Tadi sepulang sekolah saja Rania tidak menanyakan ada PR atau tidak. Devi takut, mengganggu nya dan mengerjakan PR nya sendiri entah benar atau tidak.
Mata Devi terasa berat setelah menangis, lalu perlahan terlelap.
Di kamar Rania.
Rania masuk ke kamarnya dengan mengendap endap, agar tidak mengganggu Diki yang sudah meringkuk di ranjang.
Mengambil piyama yang seksi, malam ini ingin mengambil hati Diki lagi. Maksudnya.
Setelah memakainya, Rania melangkah mendekati ranjang. Tanpa suara menarik selimut lalu menyelusup ke dalam, mendapati Diki yang membelakangi nya.
Tangan Rania memeluk perut Diki, lalu dengan hati-hati menariknya agar mereka berhadapan.
Diki membalikkan badan namun matanya terpejam. Di ciumnya bibir Diki, membuka kancing bajunya. Menciumi dada bidang Diki.
Dalam hati sangat malu sebenarnya, tapi demi perhatian Diki kembali, Rania mengubur dalam-dalam rasa malunya itu.
Diki tidak bergeming. Masih saja diam dan memejamkan matanya. Karena menahan malu, keringat Rania mulai keluar.
"Diki, aku ingin" desah Rania.
Diki masih terdiam.
"Sayang, lihat aku!"
"......"
__ADS_1
"Mba Livi kamu gila banget ngasih aku saran beginian?!!!!" umpatnya dalam hati.
"Diki ... Lihat aku sayang!"
Rayuan Rania ternyata tidak mempan, Diki sama sekali tidak tergoda. Rania membuka selimutnya, merapikan rambut yang berantakan di wajahnya.
Di pandang wajah suaminya itu. Ingin tertawa ingat usahanya barusan, tapi dalam hati kecilnya sangat sedih. Secepat inikah dia bosan padanya.
Akhirnya Rania tidur lagi, memeluk Diki lagi, sesekali mengusap pipi Diki. Dia tau Diki pura-pura tidur, Rania mendekatkan wajahnya dan hidung mereka bersentuhan.
Kesadarannya mulai lenyap. Di ambang ruang mimpi, sayup-sayup Rania merasai tangan Diki membelainya.
Berusaha untuk menyadarkan diri, tapi saat terjaga, tangan Diki sama sekali tidak menyentuhnya.
Rania menutup matanya lagi, hingga terdengar nafas teratur dari hidung Rania. Diki membuka matanya.
Di sibakkan anak rambut dari wajah Rania, mengecup keningnya lama.
"Tuhan, berdosanya aku telah membuat wanita cantik ini tersakiti," batinnya, kemudian sama-sama terlelap dalam pelukan.
Selepas sholat subuh, Rania memasak air untuk membuat susu. Lalu membangunkan Devi, menyiangi daun bayam dan menggoreng ayam.
Setelah urusan sarapan dan Devi selesai, Rania menghampiri Diki di kamar.
"Pagi sayang. Ada yang perlu di bantu?" di peluknya Diki yang tengah mengaitkan kancing bajunya di depan cermin. Diki menyeringai karena tingkah Rania.
"Dua minggu ke depan aku tidak pulang, harus ke Bogor karena ada masalah di kantor. Ini kartu untuk kamu belanja, selalu kunci rumah bila kamu pergi!" ucapnya tanpa jeda lalu berjalan ke luar.
"Kenapa lama sekali?" Rania berlari kecil agar mengimbangi langkah panjang Diki.
Diki tidak menjawab, hanya berdehem.
"Kak Diki?" sapa Devi, memberikan senyuman manjanya.
__ADS_1
"Hmmm" Diki melirik nya sebentar, lalu duduk di kursinya. Menunggu Rania mengambilkan sarapan.
Devi menunduk kan kepalanya, merasa Diki orang asing yang tidak menyayanginya.
Melihat itu, Rania mengusap puncak kepala Devi, tersenyum.
"Ini sayang," menaruh piring yang sudah diisi oleh Rania. Diki memakannya tanpa berkata kata.
"Ini buat Devi."
"Terimakasih Mba."
Rania mengambil sedikit nasi, dan memakannya. Pikirannya kembali kacau melihat sikap Diki seperti itu lagi.
Setelah menghabiskan sarapannya, Diki menjulurkan tangannya di depan Rania. Rania mencium punggung tangan itu, kemudian Devi.
Rania ikut berdiri dan mengantar Diki sampai di depan gerbang rumah. Dan kembali lagi ke dalam setelah mobil suaminya berlalu.
"Udah belum dek?"
"Udah, Mba kenapa ya kak Diki gak sayang lagi sama Devi?" Raut wajah yang sedih, membuat pipi Devi semakin terlihat tebal.
"Ust gak boleh gitu dek, kak Diki sayang kok, sayang banget sama kita, tapi sekarang kak Diki sibuk. Dua minggu ke depan aja dia gak pulang mau ke luar kota."
"Begitu ya Mba?" mulai tersenyum.
"Iya, yuuk berangkat."
Sepulangnya mengantar Devi, Rania langsung pulang. Melanjutkan pekerjaan rumahnya, menyapu, mengepel, mencuci. Hingga siang menjelang, Rania masih harus merapikan ruang kerja dan perpustakaan pribadi Diki.
Satu persatu dokumen yang berserakan di meja di bereskan. Membersihkan debu-debu di lemari kaca besar itu, dan menutup beberapa laci yang terbuka begitu saja.
Rania mengambil tumpukan foto di salah satu laci kecil paling bawah. Foto-foto wanita cantik, seperti nya Rania pernah melihat wanita itu tapi siapa? Dimana?
__ADS_1
Di lihatnya berulang kali, ada lima belasan foto orang yang sama. Dia sangat cantik, seperti model.