Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Mba Livi hamil


__ADS_3

"Lusa Devi ulang tahun, kamu ada waktu kan untuk menemani kita ke mall?" Rania mencoba mengusir kecanggungan dengan basa basi. Setelah semalam untuk pertama kalinya Diki tidak memeluk Rania saat tidur.


"Belum tau." Diki menjawab sekenanya saja, sambil memakai sepatu nya.


"Kalau aku salah, bilang, jangan seperti ini, aku__"


"Jangan banyak bicara, aku ini lagi pusing, jangan menambah bebanku!" bentak Diki spontan membuat Rania mengerjapkan mata.


Lalu Diki keluar dari kamar dan membanting pintu kamarnya. Rania berlari mengejar, sampai di ruang makan, Diki tidak berhenti. Rania terus mengejarnya, " Diki, jelasin dulu kenapa? Aku salah apa?" seru Rania dengan mencengkeram lengan baju Diki.


Diki menatapnya, tapi bukan tatapan benci. Di belainya rambut sebahu Rania, Diki mengecup lembut kening Rania.


"Eh apa ini? dia ini kenapa?"


"Diki ... maaf ... " mata mereka saling tatap. Lalu menaiki mobilnya, dan berlalu begitu saja.


Rania tambah kebingungan.


Dengan perasaan yang tidak menentu dia kembali ke rumah, menghampiri Devi untuk sarapan.


"Kak Diki nggak sarapan mba?"


"Engga, kak Diki sibuk dek jadi gak sempet sarapan. Kamu maem yang banyak biar semangat di sekolah, ya?"


Meski berkata begitu, tapi Rania masih memikirkan perihal suaminya. Nasi yang ada di piringnya saja tidak berkurang, hanya di aduk-aduk saja.


"Ayo berangkat mba, Devi udah selesai."


"Mba Rania?"


"Eh iya sayang, udah ya? Bentar mba ambil tas dulu ya."


Di angkutan pun Rania melamun, hingga sampai di tujuan lalu balik lagi ke rumah. Pikirannya masih sama, kenapa dengan Diki.


Pagi menjelang siang, Rania sudah menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Meskipun jadi istri orang kaya, tapi Rania menolak saat Diki ingin mengambil jasa IRT.

__ADS_1


Rania duduk melamun di sofa ruang tengah, mengambil ponselnya bermaksud ingin menelfon Livi.


"Mba Livia?"


"Ya Ran? Hey kenapa kok kayaknya sedih?"


"Diki mba, dari kemarin cuek banget sama aku."


"Huaaa gak kamu kasih kali." Livi terkesan mengejek.


"Kasih apa mba?"


"Hmm kasih yang disukai laki-laki lah , emang awalnya gimana?"


"Aku serius Mba, Diki aneh banget. Gak tau juga, pulang kerja tiba-tiba cuek aja sama aku dan Devi."


"Kamu tanya lah kenapa?"


"Udah tapi gak di jawab, bilangnya capek."


"Ya udah ntar nih kalau udah pulang kerja, kamu layani yang bener, pake baju yang membuat dia terpesona. Di jamin deh langsung semangat." Livi cekikikan sendiri, Rania malah cemberut mendengar saran seperti itu.


"Ya bukan begitu, tapi coba aja siapa tau pengen suasana yang beda."


"Emmm iya Mba, Mba Livi udah hamil ya?"


"Hehe iya nih Ran."


"Alhamdulillah udah berapa bulan?"


"Tujuh minggu. Aneh gak si masa aku sekarang pakai pakaian muslim begini."


"Kok aneh? Bener dong Mba, kan mas Candra itu guru agama, ustadz juga kan?"


"Kok malah VC?" gumam Rania.

__ADS_1


"Rani????? Nih lihat, kan kan? Aneh gak si???" Livi melenggak lenggokan tubuhnya di depan ponsel, Rania merasa terhibur oleh tingkah Livi itu.


"Hehe apanya yang aneh si Mba? Bagus tau, tambah cantik aja pake hijab begitu. Emang sejak kapan Mba?"


"Baru empat hari ini si. Gak tau kenapa pengen banget beli baju gamis-gamis begini, tapi bener gak aneh kan?"


"Wah dedeknya pasti soleh deh soalnya udah ngajak maminya berhijab. Emm cantik Mba"


"Hehe kaya abi nya kali ya? Kamu sendiri udah isi belum?"


"Belum Mba, belum ada tanda-tanda."


"Cepetan dong bikinnya, biar nanti seumuran hehe."


"Eh emang bikin roti? Bisa semau kita jadinya? haha."


"Hahaha kamu bisa aja, udah siang lho, kamu jemput Devi kan?"


"Oiya sampai lupa, udah dulu kalau gitu Mba. Sehat-sehat ya debay."


Sambungan telfon putus. Rania membayangkan saran dari Livi, "Apa iya Diki bosan dengan penampilanku ini?" lalu beranjak keluar rumah untuk menjemput Devi.


Rania ingat dirumah sudah tidak ada bahan masakan lagi, setelah menjemput Devi, mereka pergi ke mall untuk berbelanja.


Devi ingin membeli eskrim, tapi saat sedang membelinya, Rania melihat Haris tengah makan siang. Saking terkejutnya, Rania sampai menarik kasar lengan Devi hingga ke luar mall. Beruntung Devi tidak teriak atau mengaduh.


"Maaf sayang, maaf ya, duh sakit pasti ya? Maaf ya dek." Rania mengelus lengan Devi yang tampak memerah karena cengkraman nya.


"Mba kenapa? Sakit Mba."


"iya maaf ya dek, puf puf." Rania meniup lengan yang merah itu "Kita pulang sekarang ya?"


"Tapi eskrimnya?"


Rania menuntun lengan Devi dan langsung menariknya naik angkot. Devi menatap Rania bingung, tapi tidak berani bicara.

__ADS_1


"Kita beli eskrimnya besok sama kak Diki ya dek?"


Devi mengangguk, lalu menyandarkan kepalanya di dada Rania.


__ADS_2