
"Bagus banget, asyik ya jam segini baru pulang?" pertanyaan santai namun menjurus ke tuduhan tiba-tiba mengagetkan Rania yang sedang membuka kunci pintu.
"A_ a Diki, kamu sudah pulang?" Langsung memeluk, "Kenapa nggak ngeh si? Mobilnya kan jelas-jelas masih di situ??? Aaaa bakal nambah masalah deh ini pasti!!" serunya dalam hati. Melirik mobil yang terparkir di depan gerbang nya.
"Kak Diki, Devi kangen."
"Kakak juga," duduk bersimpuh, memeluk dan mencium Devi, "Masuk dulu, dingin nih," imbuhnya, membuat Rania yang masih panik menjadi semakin panik.
"Sayang kamu ke kamar dulu ya, cuci tangan, cuci kaki trus ganti bajunya. Anak pintar," pinta Rania seraya memberikan boneka bear untuk di bawanya ke kamar. Devi terus mengangguk lalu berlalu ke kamarnya.
"Ehem." Diki berdehem, lalu berjalan pelan mengelilingi Rania.
Yang di pandang seketika tertunduk.
"Habis pergi dengan siapa?"
"Hanya sama Devi, ka- kamu kok sudah pulang sayang?" Suara yang tertahan membuat Diki semakin mencurigainya. Diki yang sudah dekat semakin mendekat, mencengkeram dagu Rania lalu mencium bibirnya agak lama, "Jangan bohong, rumah tangga tidak akan harmonis jika ada kebohongan yang menyelimuti," bisiknya terkesan menekan.
Mata Rania mengerjap. Ingin menjelaskan yang sebenarnya namun Diki lebih dulu menariknya menaiki tangga dan mendorongnya kuat ke ranjang saat sampai di dalam kamar.
Dengan wajah pias, dan slingbag yang masih menggantung di pundaknya, Rania meringis kesakitan. Merasa terpental sangat keras.
__ADS_1
"Istri selewengan macam kamu enaknya di apain ya?" Diki tetap berdiri di tempatnya, tangan nya membuka kancing di pergelangan tangan satu per satu, lalu menekuk lengan kemeja itu hingga ke siku.
"Sayang, aku tidak bermaksud menyelingkuhi mu. Sumpah tidak ada niatan, tadi aku__"
"Jadi siapa yang jalan denganmu tadi?"
"A-a di- dia__" Rania terperanjat menerima tamparan Diki.
"Ya aku pantas menerima ini. Istri tidak tau diri yang jalan hingga malam dan bertemu laki-laki saat di tinggal suaminya bekerja," umpat Rania dalam hati memaki dirinya
sendiri.
Tawa lepas terdengar di tengah-tengah amukan seorang suami yang mendapati istrinya pulang malam. Ketakutan Rania semakin menjadi, membuat jantungnya mau copot saja.
Dengan satu tangan memegang sebelah pipi yang kena tamparan, Rania menahan air mata yang sudah menggelinang memenuhi pelupuk matanya.
"Aku lelah-lelah kerja, untuk kamu, untuk Devi. Untuk kalian berdua yang baru aku kenal. Demi apa aku rela meninggalkan status pengantin baru yang seharusnya bulan madu, saling bercinta tapi aku malah kerja. Demi apa??????!!! Demi kalian berdua, ngerti!!!!!!!" suara yang pelan tapi menekankan kalau yang berbicara sedang marah itu membuat air mata Rania banjir.
Ingin sekali rasanya menjelaskan tapi sepertinya percuma. Diki sudah seperti itu, dan mungkin akan semakin salah jika menjawab. Dari itu Rania memilih diam.
"Aku yang lelah bekerja diluar sana, ternyata kamu yang aku anggap lugu dan setia ternyata asyik-asyikan dengan laki-laki lain. CIH!!!" kali ini suara Diki meninggi, tapi masih bisa di kontrol.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Diki yang menjurus ke tuduhan bahwa dirinya selingkuh, Rania mengumpulkan keberanian untuk angkat bicara.
"Aku memang pergi ke mall sejak pagi, inginnya pulang sore tadi tapi dengan tidak sengaja aku bertemu dengan Haris, teman lama ku. Dan dia mengajak Devi bermain, kami bicara bahkan hanya saling menanyakan kabar dan selebihnya dia bermain dengan Devi." Jelas Rania mencoba tenang meskipun air mata sudah membasahi wajahnya.
Diki mendekat, duduk di samping Rania. Lalu memeluk pinggang Rania, Rania mengangkat tangannya ingin membalas pelukan itu.
"Kamu p******!!!!" bisik Diki di telinga Rania, sontak membuatnya membulatkan mata dan menatap Diki tidak suka.
Rania menaruh tangannya kembali, mengurungkan untuk memeluk Diki.
"Kamu boleh menyalahkanku karena memang aku yang salah, tapi jangan menuduhku hingga sedalam itu!" mata mereka kini saling tatap, bukan tatapan cinta seperti kemarin-kemarin. Namun tatapan saling membela diri.
"Toh aku juga gak tau kalau kamu sendiri di luar sana tidak macam-macam," imbuh Rania lagi, kemudian membuat kemarahan Diki memuncak dan sudah mengangkat tangan kirinya lagi ke udara.
"Tampar!!!! Tampar aku!!!! P****** gak berguna!!!!! " teriak Rania. Kemudian beranjak dari atas ranjang, keluar dari kamar dengan setengah berlari. Menghampiri Devi yang sedang meringkuk ketakutan karena mendengar teriakan-teriakan dari kamar sebelah.
"Devi, sayang, ayo kita pulang ,sini cantik. Kita pergi dari sini ya!" Rania menyibakkan selimut dari tubuh Devi. Lalu menggendongnya keluar dari kamar menuruni tangga.
Devi memeluk erat leher Rania, matanya membulat menatap ke depan. Semakin takut saat menoleh dan Diki ada di belakang, mengejarnya.
"Pergi dari sini dan tunggu kehancuranmu!!!!" teriak Diki menekankan, jika Rania berani pergi maka hidupnya akan hancur..
__ADS_1
___Jalan ceritanya terlalu berbelit belit ya readers? Maafkan author yang baru pemula ini. Tapi akan di usahakan, cerita nya agar rampung tanpa menyisakan kekecewaan untuk kalian 😔 ___