Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Jomblo 2


__ADS_3

"Heey apa yang kamu katakan tadi?" teriak Novi sambil mencoba menahan tangan Rania.


"Apa si? Kamu jangan keras-keras bicaranya," wajah Rania memerah menahan malu.


"Hahaha mas siapa? Kamu pernah pacaran? Hahaha." Novi benar-benar tergelak lepas.


"Tidak. Udah-udah Novi, jangan bikin malu," wajah Rania merah padam sambil melirik orang2 di sekitar tempat itu.


"Iya Iya maaf. Ayo kita naik?" Novi langsung menarik tangan Rania menaiki mobil-mobilan.


Rania sudah duduk di salah satu mobilan itu, entah kenapa hatinya tergerak untuk memilih mobilan yang sama seperti yang saat itu ia naiki.


Sebentar Rania melamun menatap mobil annya itu. Lalu tiba-tiba dari belakang mobilan yang dia naiki di tabrak oleh Novi dengan kencang, lamunannya pun buyar. Langsung melihat Novi yang tertawa lebar.


"Novi tunggu ya?!" mengejar mobilan milik Novi.


"Aaaa kamu gak akan bisa mengendalikan mobil ini, kamu kan belum pernah menaikinya," teriak Novi meledaknya.


" Lihat saja!" Rania menatap Novi sinis.


Lalu mengejarnya.


Satu jam mereka memainkan mobil-mobilan itu, lalu keluar dari area bermain karena nafas mereka benar-benar hampir habis.


"Kamu hebat juga, apa kamu pernah kesini?"


"Belum, aku ini kan memang multi talenta." Rania tertawa kecil.


"Ah Iya deh. Minum dulu yuk?"


Mereka pun memilih minuman yang ada di foodcourt, Rania lagi-lagi membeli minuman yang sama di tempat sama juga pada waktu itu. Rania memandangi lagi cup minuman di tangannya, masih merasakan tawa Devi di sampingnya dan juga tawa Haris.


"Aku masih saja ingin mengulangi hal bersamamu kemarin , aku benar-benar jatuh cinta kepada mas Haris" batin Rania sambil menyedot minumannya.


"Kenapa si bengong terus? Punya kenangan disini?" Novi kepo banget si.


"Iiih kapan si aku pergi jalan-jalan? Kamu kan tau sendiri."


"Hehe benar juga."


Mereka masih duduk di bangku yang sama saat Rania minum bersama Haris dulu. Sambil membincangkan banyak hal.


"Novi?"

__ADS_1


Sapa seorang cowok yang berdiri tepat di depan Novi dan Rania.


"Diki?" Novi membalas sapaannya.


"Kamu ngapain?" Cowok itu terlihat tampan dan sangat cool.


"Kita habis jalan-jalan saja, eh Iya kenalin ini temanku, Rania."


Rania dan Diki lalu saling tatap dan bersalaman.


"Rania..."


"Diki..." ucap mereka bergantian, sambil menebar senyum satu sama lain


"Boleh duduk?" Diki menunjuk bangku kosong di sebelah Rania.


"Boleh, duduk saja" jawab Novi.


"Kalian udah lama?"


"Lumayan, tadi kita main mobil-mobilan disana" jawab Novi lagi.


"Wah seru juga ya, sayang aku baru sampai hehe." Diki sungguh ramah orangnya.


"Kamu mau minum?" Novi menatap Diki.


Diki lalu berdiri, menuju food court yang menjual minuman sama seperti yang di beli Rania dan Novi. Tak berapa lama Diki duduk lagi di samping Rania.


"Eh habis ini nonton yuk?!" Diki bersemangat.


"Ayuk, Ran kamu mau kan?" ucap Novi.


"Maaf ini kan udah agak siang, aku mau pulang soalnya kasian Devi di rumah"


"Yah padahal kan kesempatan nih buat habisin hari libur kita." Novi tampak cemberut.


"Iya lain kali mungkin ya, aku bener-bener harus pulang." Rania menatap Novi dan Diki bergantian.


"Ya udah deh gpp, tapi janji ya lain kali bisa nonton bareng." Diki tersenyum pada Rania.


Setelah itu Rania keluar mall, Devi dan Diki masih berbincang bincang disana.


"Rania itu teman kerja kamu?" tanya Diki.

__ADS_1


"Iya,dan Devi itu adiknya, masih kecil. Jadi mau nonton?"


"Emmm emang orang tuanya kemana?"


"Udah meninggal, kamu kayaknya tertarik sama Rania?" Novi tersenyum.


"Enggak, ayo kalo mau nonton."


"Yuk!"


Mereka berdua lalu berjalan menuju bioskop di lantai atas. Menonton film yang sedang tayang di hari itu.


"Nanti aku minta nomor Rania ya?" ucap Diki saat sedang membeli karcis.


"Oke" jawab Novi.


Mereka berteman sudah lama, makanya bisa seakrab ini.


Perjalanan pulang Rania...


Di dalam angkutan umum, Rania masih mengembangkan senyumannya.


Masih berharap juga bisa bertemu Haris meskipun tau Rania sendiri tidak akan bisa memilikinya.


Tapi perasaan cinta pertamanya ini sudah membekas di hatinya.


"Halo mba?" Rania mengangkat ponsel yang berdering, telfon dari Livi.


"Ran, bisa kasih resep ke aku untuk makan siang?"


"Emm mba mau masak?"


"Iya, habis suami aku maunya makanan rumahan."


"Nanti aku kirim deh resep ke mba. Sekarang aku lagi di jalan."


"Bener ya? Makasih, kamu baik banget deh. Semoga Haris nyesel udah ninggalin kamu."


Rania kembali sedih, ucapan Livi cukup menyakitkan.


"Mba udah dulu ya?" Suaranya memelas.


"Kamu ngga papa kan Ran?"

__ADS_1


"Enggak mba, nanti aku kirim ya resep nya."


telfon di matikan, Rania kembali hanyut dalam lamunannya tentang Haris..


__ADS_2