Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Kepingan hati


__ADS_3

Siang itu Rania menghampiri Diki di ruang kerjanya, seketika kaget lalu mematikan panggilannya dengan Hanin. Rania mengernyitkan dahi melihat gelagat aneh Diki.


"Telfon siapa?"


"Temen bisnis, udah siap makanannya?" Rania menjawab dengan anggukan.


Mereka menuruni tangga bersama. Diki merangkul pundak Rania, "Habis makan kita jemput Devi ya, kamu ada waktu kan?" Rania menatap lekat mata Diki.


"Bisa. Tapi sebentar gak pakai main. Aku banyak pekerjaan soalnya," jawab Diki lugas membuat Rania mengendurkan pelukannya di pinggang Diki.


"Kamu mau kemana emangnya?" tanya Diki sembari duduk di kursi. Rania meraih piring di depan Diki lalu mengambilkan nya nasi beserta lauknya, "Inginnya jalan dulu, kan sudah lama kita__"


"Jalan-jalan mulu baru aja satu minggu. Jangan boros deh ya, belakangan ini bisnisku kacau." Diki melepas rangkulannya lalu berjalan cepat menuju meja makan. Rania mendesah keras, saat ini Diki berubah lagi. Secepat itu?


"Ya sudah kalau nggak bisa jalan nggak apa-apa kok sayang. Maafin aku." Lagi-lagi Rania mengalah.


"Hmm."


Makan siang itu sungguh tidak nikmat menurut Rania. Gampang banget berubah mood nya Diki.


Diki melajukan mobil dengan kencang menuju sekolah Devi. Rania sendiri terdiam masih duduk di ruang makan itu, Diki melarangnya ikut menjemput Devi.


Kemudian berjalan ke luar rumah untuk menghilangkan suntuknya. Bosan banget nggak ada yang harus di kerjain lagi. Harusnya tadi dia ikut saja itung-itung cari angin, tapi apa daya suami sudah melarang nya.

__ADS_1


"Diki, ada apa sebenarnya dengan kamu? Sebentar-sebentar sayang sebentar-sebentar nggak peduli, lelah hatiku pahami semua sikapmu." Rania terduduk lemas di kursi depan rumah, pikiran tentang foto yang ditemukannya di ruangan kerja Diki terlintas lagi. Membuat Rania berangan-angan entah kemana.


"Apa dia mantan pacar kamu? Atau kekasih barumu? Atau istri lain kamu? Diki, maafkan hati ini yang terus saja menuduh. Hiks." Rania terisak, kenapa suami yang dicintai sepenuh hati itu susah sekali di pahami.


Rania terperanjak saat klakson mobil berbunyi, Diki telah kembali lalu Rania berjalan mendekat dan membukakan pintu gerbangnya.


Devi menuruni mobil lalu salim dengan Rania, lagi-lagi hati Rania terasa sesak saat Diki berjalan masuk rumah tanpa menyapanya.


"Mba? Ayo masuk!" pinta Devi.


"Eh ayo, tadi senang 'kan dek di sekolah?"


Memalingkan mata yang berlinang dari pandangan Devi.


"Senang, kenapa mba nggak ikut jemput Devi?"


Diki tidak menjawab, malah mendengus keras lalu memijit pelipisnya sendiri, "Aku salah ngomong ya?" ucap Rania dalam hati.


Diki mengangkat panggilan di ponselnya sebelum Rania sempat berkata kata lagi, "Ya, halo? Kenapa lagi?" kata Diki.


"Hmm besok aku akan pergi, " mendengarkan orang di sebrang telfon berbicara, "Baik, see you," jawabnya kemudian. Lalu memerosotkan badannya dan sekarang Diki bersandar pada punggung sofa.


Rania kelu sendiri melihat ekspresi Diki sampai tidak berani bertanya lagi. Diki beralih menatapnya, Rania panik sendiri, Diki semakin mendekat. Lalu dengan entengnya membopong Rania memasuki kamar kosong di samping ruang keluarga. Rania tidak berani bicara apa lagi berontak. Hanya menundukkan pandangan nya dari tatapan seperti petir yang ingin menyambar-nyambar itu.

__ADS_1


Di hempaskan nya tubuh Rania begitu saja di ranjang, lalu dengan paksa Diki menarik pakaian Rania. Rania berusaha menahan dress yang dipakainya tapi kalah kuat dengan tenaga Diki.


Hampir keluar air matanya kalau saja tidak di tahan, Diki menekan lengan Rania kuat, hingga Rania meringis kesakitan. Hidung keduanya kini bersentuhan, Diki menatap tajam mata Rania.


Satu menit kemudian, Rania menangis. Diki masih mencengkramnya dengan sangat kuat, "Kalau sudah nggak cinta, ceraikan saja aku! Jangan siksa aku begini. Hiks hiks," dengan bibir yang bergetar Rania mengatakan uneg-uneg di hatinya.


Diki tersenyum picik, "Rani, kamu kira selama ini aku mencintai kamu?" ucapnya sangat lirih hingga seperti bisikan saja.


"Kalau begitu kenapa kamu menikahiku lalu meniduriku?" mata Rania membulat.


"Karena kamu bodoh. Mau-maunya saja di tipu olehku. Sekarang kembalilah sama pacar gilamu itu si Haris!" bisik Diki lagi.


Seketika itu Rania semakin histeris,"Apa maksudmu hah!"


"Karena Haris sudah menyakiti sepupuku Hanin, sebagai balasannya aku menyakitimu karena kamu wanita kesayangan Haris," Diki menyeringai, merasa puas telah menyakiti Rania.


"Lepas. Lepaskan aku!!!" Rania mulai memberontak, namun tetap mengontrol suaranya, sadar ada Devi di lantai atas.


Diki menggigit bibir Rania dengan keras hingga keluar darah segar dari bibir Rania, Rania menahan tangisnya dan membuat hatinya ngilu.


"Kamu ********!!!!! Lepaskan aku!" Rania mencoba melepaskan diri dari Diki.


"Mulai malam nanti, kamu pergi dari rumah ini. Karena kekasihku Tiara, sudah pulang dari luar negeri dan kami akan segera menikah," bisik Diki lalu tertawa.

__ADS_1


"Terimakasih sudah memberikan tubuh indah ini untukku," lanjutnya, Diki mencium keras leher Rania hingga meninggalkan bekas di sana, "Bawa kenang-kenangan ini pulang!" lanjutnya.


Diki melepaskan cengkraman di tangan Rania, bangun dari atas tubuh Rania lalu merapikan bajunya. Rania meringkuk di atas ranjang masih sesenggukan.


__ADS_2