Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
love love lagi


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 19.30 WIB, Devi meminta Rania untuk membantu menyelesaikan PR dari sekolah.


Diki memanyunkan bibirnya, padahal inginnya habis pulang dari mall langsung saja main-main berdua sama Rania.


"Nanti dulu sayang, ya?" Rania seperti membujuk anak kecil saja. Dipeluknya agak lama, lalu mengecup di dagu Diki karena Diki tidak membungkuk maka Rania tidak sampai ingin mencium pipinya.


"Kamu pendek banget," ucap Diki dengan cemberut.


"Kamu yang terlalu tinggi, ya udah aku bantuin Devi sebentar, kalau begini terus nanti kelamaan."


"Udah sana."


"Senyum dong."


"Heemmmm."


Rania meninggalkan Diki di kamar, sebenarnya senyuman itu di buat-buat, Rania tau itu.


"Dek?" Membuka pintu dengan pelan.


"Iya. Sini deh mba. Yang empat ini Devi nggak bisa," tunjuk Devi pada buku dengan soal yang belum diisi.


"Em PR matematika. Sini mbak ajarin!" ucap Rania sambil coret-coret di buku kosong lain, Devi pun mengerti lalu mulai menulis di buku jawaban.


Dua puluh menit berlalu, PR Devi sudah selesai, Devi merajuk manja ingin di peluk Rania.


"Mba, Devi ingin di peluk, sudah lama Devi bobo sendiri terus," rengeknya, membuat Rania tidak tega.


"Ya sudah, sini mba peluk ya sayang." Rania meraih tubuh Devi, dia merasa Devi tampak kurusan, apakah karena kurang di perhatikan? Rania bertanya tanya sendiri.


"Bobo sekarang ya dek." Rania mengusap pelan puncak kepala Devi. Perlahan Devi terlelap.


Senyum lebar muncul karena melihat Devi sudah tidur, Rania tergelak kecil saat melihat Diki ternyata sedang berdiri di depan pintu kamar Devi.


"Yang satu tidur, masih ada satu lagi yang menunggu untuk ku peluk." batin Rania tersenyum geli menatap Diki dengan wajah cemberut nya.

__ADS_1


"Lama banget?" rajuk Diki menyandarkan kepalanya pada pundak Rania, "Aku ngantuk," lanjutnya.


"Ya ayo ke kamar, duh sayang berat banget. Awas dong." Rania menyingkirkan kepala Diki pada pundaknya.


"Emmm jangan lama-lama lagi di kamar Devi."


"Iya maaf, tadi dia minta di peluk, kangen katanya."


Mereka berjalan, Diki merangkul Rania menuju kamar, saat tinggal lima langkah sampai di ranjang. Diki mengangkat tubuh Rania, mereka saling tatap, saling melempar senyum.


Diki menjatuhkan dengan pelan tubuh Rania. Menciuminya penuh gairah. Rania sendiri kewalahan menerima ciuman dari Diki.


"Pelan-pelan!" lenguh Rania.


"Aku ingin."


"Pelan saja sayang."


Namun Diki tidak menghiraukan permintaan Rania. Terus saja menyerang Rania dengan ciuman, dari mulai wajah terus turun.


Dimalam yang sama, Haris menatap langit-langit kamarnya. Terbayang wajah Rania, membuatnya tidak bisa memejamkan mata.


Haris mengambil ponselnya, banyak sekali pesan WA dari papa, dari Hanindya juga.


"Apa kabarmu nak? Pulanglah, maafkan papa," pesan dari papanya.


"Haris, mama sakit sekarang, memikirkan kamu terus."


"Papa mohon pulang Ris, jangan menyiksa kami seperti ini," dan masih banyak pesan lainnya yang sudah lama.


"Haris, dimana kamu? Aku sedang mengandung anakmu sekarang, aku mau kita balikan!" pesan dari Hanin ini yang jadi perhatian Haris.


"Bagaimana bisa Hanin hamil anak aku. Kita memang tidur seranjang, tapi tidak pernah melakukan hubungan intim. Kenapa bisa?" gumam Haris, keesokan harinya dia kembali ke rumah orang tuanya.


"Papa senang akhirnya kamu kembali. Maafkan papa ya nak," ucap papa Haris.

__ADS_1


"Ris, Hanin hamil. Apa dia sudah mengabari kamu soal ini?" imbuh mama yang sedang duduk di kursi roda.


"Haris tau ma. Sekarang Haris mau ke rumah Hanin."


"Kamu nggak istirahat dulu? Mama kangen."


"Nanti Haris balik lagi, permisi ya ma, pa."


Haris melajukan mobil dengan kencangnya, merasa emosi, merasa di permainkan oleh Hanin.


Sesampainya di rumah mewah keluarga Hanin, Haris langsung masuk, ternyata Hanin sedang duduk di ruang tengah. Hanin langsung memeluk saat Haris berdiri di depannya.


"Sayang, akhirnya kamu pulang. Lihat, di dalam sini ada buah cinta kita," ucap Hanin sambil mengelus perutnya yang masih rata.


Haris menyeringai, "Ini anak aku ya?"


"Anak siapa lagi? Suami aku kan cuma kamu." Hanin memeluk lengan Haris dengan manja.


"EHEM Hanin. Emang pernah ya kita berhubungan intim? Bukannya selama menikah, aku sama sekali belum pernah menyentuh tubuhmu?"


"Kok kamu gitu? Kamu gak inget malam itu kita bangun tidur sama-sama tidak memakai pakaian?"


"Aku ingat, tapi nggak mungkin aku melakukan itu ke kamu."


"Jangan menyangkal lagi, mana mungkin suami istri tidur seranjang tapi tidak melakukan apa-apa?" mata Hanin berkaca kaca sekarang.


"Oh ya? Aku mau bukti." Haris menyingkirkan tangan Hanin dari lengannya.


"Bukti apa? Kamu menuduh aku selingkuh?"


"Mungkinkan? Karena selama ini aku tidak pernah melayani mu, mungkin saja kamu melakukan itu dengan laki-laki lain."


"Eh ada apa ini ribut-ribut??? Haris, kamu kemana aja selama ini? Hanin itu hamil, teganya kamu meninggalkan dia."


"Ma, maaf, Haris sibuk belakangan ini."

__ADS_1


"Ya sudah, jadi kalian gak jadi pisahkan?"


__ADS_2