
"Minta apa?" Rania akhirnya menjawab dengan pertanyaan yang jawabannya sudah dia ketahui.
"Kamu nggak ngerti?" Diki tidak habis pikir kenapa istrinya sepolos ini tidak tau apa yang dilakukan pengantin baru.
Rania menggeleng, tangan nya sudah basah karena keringat dingin yang tiba-tiba keluar dari tubuhnya.
"Kamu takut?" Diki memberhentikan mobilnya, menggenggam tangan Rania.
"Kenapa berhenti?"
"Jawab aku dulu, kamu takut?"
"Takut apa?"
"Kamu benar-benar gak tau maksud aku?"
Lagi-lagi Rania menggelengkan kepalanya.
"Aku akan melakukannya dengan pelan, kamu jangan takut."
"Kamu akan menciumku? Aku tidak takut kalau hanya itu, kan kamu pernah melakukan itu tadi," kata Rania. "Aku tau Diki, aku tau apa mau kamu, tapi aku benar-benar takut sekarang," batinnya.
Diki mengembangkan senyumannya "Aku mau lebih."
"Lebih yang seperti apa?"
"Ahhhh, nanti akan aku lakukan setelah kita sampai rumah." Diki melajukan lagi mobilnya. Dengan satu tangan tetap menggenggam tangan Rania. Dia tersenyum geli melihat tingkah Rania.
"Kamu gerah?" tanya Diki basa basi.
"Iya.Panas sekali."
"Sebegitu takutnya kah Rania?" Diki sesekali menatap wajah tegang Rania.
"Masih jauh?" tanya Rania karena memang belum tau rumah baru mereka dimana.
"Itu." Diki menunjuk bangunan mewah berdinding putih dan di itari gerbang besi di sisi-sisinya.
"Rumah besar itu?" tanya Rania lagi meyakinkan.
"Heem."
"Kok jauh dari rumah papa dan mama kamu?"
"Iya. Papa sengaja memilih rumah ini biar orang tua ku tidak terlalu ikut campur dengan rumah tangga kita."
Rania tersenyum, tampak lega mendengar penjelasan Diki. Rania benar-benar takut meladeni mama mertua dan kedua adik iparnya itu.
"Fani dan Sabila masih sekolah?"
"Fani sudah lulus kuliah, kalo Sabila kelas 3 SMA."
__ADS_1
"Jadi Fani seumuran aku ya?"
"Mungkin. Ayo turun."
"Aku gendong Devi dulu ya!" Diki menggendong Devi, Rania membuka pintu yang masih terkunci itu.
Rumah berlantai dua itu sungguh sangat mewah, Diki menaiki anak tangga dan Rania mengikutinya.
Di lantai dua ada empat kamar yang saling berjejer. Diki menyuruh Rani membuka pintu diurutan kedua dari samping kanan.
Lalu merebahkan Devi di tempat tidur yang sudah di tata dengan indah dan aksesori kamar full cantik dengan tema frozen.
Rania mencium kening Devi.
Diki melirik nya dengan tatapan nakal, lalu menuntun tangan Rania keluar dari kamar Devi.
"Diki," ucapnya lirih.
"Kamar kita yang ini." Diki memegang handle pintu di sebelah kamar devi, kamar di pojok kanan itu lebih luas dari kamar yang lain.
Dua kamar tersisa adalah ruangan kerja dan perpustakaan pribadi milik Diki.
Mata Rania tak habis-habisnya memuji kamar super mewah itu.
Diki membalikkan badan lalu mengunci kembali pintu kamarnya. Mengambil koper yang dari tadi di tenteng oleh Rania.
Lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Rania.
"Rani?" hidung mancung Diki sudah menempel dengan hidung mungil Rania.
"Kenapa?" jawabnya terbata-bata.
"Kamu lelah?"
Rania mengangguk.
Diki mengangkat tubuh Rania, terasa sangat enteng baginya. Memang tubuh Diki tidak terlalu besar tapi dia tinggi.
"Diki," ucapnya lirih, nafasnya sesak sepertinya kamar itu tidak ada oksigennya.
"Kenapa sayang?"
Sekarang Diki sudah duduk di tepi ranjang dengan memangku Rania. Tangan Rania melingkar pada leher Diki.
Diki menciumi sekitaran wajah Rania dengan lembut. Rania melenguh merasakan geli.
"Diki," ucapnya lagi.
"Kenapa?" masih tetap menciumi Rania.
"Kamu mau apa?"
__ADS_1
"Mau kamu."
"Aku__" kata-kata Rania terhenti dengan paksa, sekarang Diki ******* bibirnya. Lembut dan semakin dalam.
Hanya sebentar, Diki tau ini pengalaman pertama bagi Rania. Dia harus sabar, tidak mau membuat Rania ketakutan.
"Aku mau ke kamar mandi sebentar." Rania seperti mencari alasan.
"Silahkan, aku tunggu di sini." Diki menurunkan tubuh Rania, kemudian dia berbaring di ranjang.
Rania berjalan ke arah pintu, hendak membuka kunci pintu itu.
"Kamu mau kemana?" tanya Diki mengagetkan Rania.
"Ke kamar mandi."
"Itu kamar mandi." Diki menunjukkan pintu kamar mandi dengan lirikan matanya.
Rania segera berbalik menuju pintu itu dengan tergesa gesa.
Diki tersenyum geli melihat tingkah Rania.
"Dia gugup atau apa??? haha" tergelak sendiri di atas ranjang.
5 menit
10 menit
15 menit
Rania belum keluar juga dari kamar mandi.
Diki bersiul ria sambil terus melirik pintu kamar mandi itu.
Yang di dalam malah mondar mandir gak karuan.
"Semoga Diki sudah tidur sekarang," doanya sungguh mengarang sekali. Bagaimana bisa Diki tidur sedangkan dia belum mendapat kan yang diinginkan. Rania menggelengkan kepalanya berkali kali.
"Kenapa lama banget si!" Diki juga mulai bosan menunggu Rania.
"Apa sekarang dia sudah tidur?" pertanyaan yang unfaedah itu berkali kali dia ucapkan.
"Rani?????" Diki memanggilnya dengan kencang, sontak Rania terkejut di dalam.
"Dia belum tidur?" matanya membelalak, sangat gugup.
Perlahan Rania membuka pintu kamar mandinya, mengintip. Dia kembali salah tingkah saat melihat Diki yang terbaring hanya mengenakan kaos longgar dan celana pendek saja.
Rania membekap mulutnya sendiri karena hampir saja berteriak.
Diki terbahak dalam hatinya, kenapa bisa Rania begitu.
__ADS_1