Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Pertemuan kembali


__ADS_3

Hari minggu yang dijanjikan, Haris menelepon Apri meminta untuk menemaninya weekend kali ini bersama Yura.


Tanpa ba- bi- bu lagi Apri langsung bersemangat. Meskipun di SMA dulu Apri tidak terlalu dekat dengan Yura, tapi Apri pernah meliriknya, Yura adik kelas yang populer.


Yura adalah gadis yang cantik, tidak kalah menggemaskan dari pada Rania.


Di rumahnya, Yura terlihat sedang memilah baju, satu persatu dicoba, sampai hampir habis baju dilemarinya. Dan sangat berantakan karena baju-baju yang berceceran di atas ranjang.


Terakhir, Yura mantap memakai kaos biru langit yang ia padukan dengan pleated mini skirt dengan warna pink, sangat manis. Semakin memancarkan kulitnya yang putih bersih.


Yura berlenggak lenggok sendiri didepan cermin kamarnya, lalu mengikat sembarang rambut pirangnya itu dengan ikat rambut berhiaskan pita. Orang-orang pasti tidak akan mengira kalau umurnya sudah mendekati 25 tahun. Baby facenya sangat memanjakan mata.


Segera ia mengambil ponsel diatas ranjang, mencari kontak nomor Rania, kemudian menelfonnya.


"Ran? kamu sudah siap?" Seru Yura, dia sangat senang pagi ini.


"Sudah, tapi aku masih memikirkan alasan untuk Devi, adikku. Dia merengek minta jalan-jalan, tapi kan ... aku tidak enak jika mengajaknya." Rania berbisik di ponselnya, karena Devi masih ada di kamar.


"Bilang saja kalau kamu bekerja hari ini." Yura tertawa kecil.


"Benar, eh sebentar deh," Rania menyembunyikan ponsel dibalik punggungnya kemudian mendekati Devi.


"Dek, mba ditelfon nih sama bos. Maaf ya hari ini kita nggak bisa jalan-jalan."


"Ya udah nggak papa, tapi janji kalau udah ada waktunya ajak Devi jalan-jalan?" Devi melipat tangannya di dada dengan pipi yang dikembungkan, Rania tertawa geli melihat tingkah Devi.


"Iya-iya mba janji."


"Udah bisa nih, tapi tunggu setengah jam lagi ya. Om dan tanteku belum sampai rumah," ucap Rania ditelfon, "Ya, aku tunggu deh," Yura tersenyum senang, lalu mematikan panggilannya.


Padahal aku hanya akan bertemu kak Haris, kenapa bisa sebahagia ini??? batin Yura.


Sembari menunggu Rania, Yura selfi-selfi di kamarnya. Tidak lupa di up ke IG-nya. Tak berapa lama, Apri memberikan koment.

__ADS_1


Aprilio _nard, "Cantik banget deh,"


Yura @95 , "Thanks, kak Apri apa kabar?"


Aprilio_nard, "Baik, mau kemana nih cantik?"


Yura@95, "jalan sama gebetan,😁😁😁."


Diwaktu yang sama, ada chat masuk dari Rania. "Keluar deh, aku udah dibawah nih."


Bergegas Yura turun dari kamarnya, berlarian sampai tak menyapa mama yang sedang menyeduh teh diruang tengah. Sang mama hanya geleng-geleng kepala melihat anak gadisnya itu.


"Hai? Rania cantik," Yura tersenyum malu-malu sambil memberikan pujian untuk Rania, tanpa direncanakan , pakaian mereka samaan, hanya beda di warna saja. Rania memakai kaos warna putih polos dan bawahan hitam. Sangat cocok untuknya.


Rania memandangi Yura dari atas sampai bawah, begitu juga dengan Yura. Beberapa saat kemudian mereka tertawa bersamaan.


"Kok bisa sama begini ya?" ujar Rania.


"Iya, sepertinya hati kita sudah klop deh, hehe," balas Yura.


"Belum tau si tujuannya kemana, kita ketemu temenku aja dulu dijalan depan sana."


"O ya udah yuk naik," Rania menghidupkan mesin motornya.


"Terimakasih Rania, kamu sangat baik," puji Yura, kemudian Rania melajukan motornya dengan pelan.


Rambut indah mereka terurai di udara, sesekali, Yura merapihkan rambut ke belakang telinganya.


"Aku malu dong nanti kalau kamu ketemuan sama pacar," Rania mengawali obrolan ditengah perjalanan.


"Eh pacar siapa? Dia itu kakak kelas aku dulu waktu SMA," Yura mendekatkan wajahnya kepundak Rania.


"Udah jujur aja si!" Rania tergelak.

__ADS_1


"E- ee stop!! itu mobilnya," Yura menepuk -nepuk pundak Rania dan mendadak Rania mengerem motornya hingga kepala keduanya terbentur.


"Aduh," ucap mereka bersamaan, lalu Rania mengelus belakang kepalanya, Yura pun mengusap keningnya.


"Hehe maaf, ngagetin ya?" kata Yura WATADOS banget.


"Hmm kamu si, mobil siapa si?" Rania menoleh ke kanan jalan.


"Mobil temen aku, ehm bentar ya aku samperin dulu," Yura pun turun dari motor Rania, berjalan menyebrangi jalan mendekati sebuah mobil.


"Kak Haris!!!" seru Yura memanggil saat sudah sampai ke mobil itu. Kebetulan kacanya terbuka, jadi Yura mudah mengagetkannya.


"Ngagetin!! Yuk jalan!" Haris bangun dari sandarannya, hendak turun.


"Aku nggak disapa eh?" ujar Apri menyindir .


"Hehe Hai kak Apri? Maaf tadi nggak kelihatan." Yura nyengir, lalu menyipitkan matanya melihat kedalam mobil. Apri duduk di belakang, sehingga Yura tak melihatnya.


"Hmmm, jadi ini nih kak Haris gebetan kamu hehe.Yuk naik!" Apri membuka pintu belakang.


"Hehe, eh tunggu, aku kesini sama temen. Tapi dia bawa motor, gimana dong?" Yura menunjuk ke arah Rania. Haris dan Apri pun melihatnya.


"Rania," batin Haris, tapi segera ia mengusap matanya. Tidak begitu jelas karena silau.


"Ya udah, taruh aja motornya di depan warung sana. Nanti pulangnya kita ambil lagi." Apri memberi saran.


"Ee ayo dong kalian ikut kesana, capek ni!" rengek Yura.


"Dasar cewek, jalan 10 centi aja ngeluh!" Apri tergelak disana.


"Ih kak Apri apaan sih!" Yura pun masuk kedalam mobil, perlahan Haris mengemudikannya. Tinggal tiga meter lagi kini jarak mobilnya dengan motor Rania. Jantung Haris tiba-tiba berdegup sangat kencang. Begitu juga dengan jantung Rania, akibat degupan di jantungnya yang cukup kuat, Rania reflek memegangi dadanya.


"Rania?" batin Apri, saat sudah melihat Rania dari dekat.

__ADS_1


Barang kali ada yang tanya WATADOS itu apa? hehe, singkatan dari WAjah TAnpa DOSa ya readers. Selamat menunggu up selanjutnya, jangan lupa tinggalkan like di bawah. Boleh koment juga menurut kalian novel ini bagaimana. Terimakasih sudah membaca.


__ADS_2