
"Livi?" ucap Candra sambil memegang tangan kanan Livi.
"Iya," jawab Livi pelan.
Candra menyematkan sebuah cincin di jari manisnya . Livi pun begitu menyematkan cincin di jarinya juga.
Livi tersenyum malu, saat mata keduanya saling tatap.
"Eh eh Livi jangan salah tingkah..." batinnya karena Livi merasa gugup.
Para tamu itu menikmati makan-makan di taman belakang rumahnya. Livi terduduk di tepi ranjangnya, menatap kosong ke luar jendela.
Candra masuk ke kamarnya saja tidak tau.
"Livi?" suara Candra membuyarkan lamunannya.
"E Iya," menjawab sekenanya sambil menoleh.
"Kamu gak makan?"
"Enggak," mencoba menahan amarah di hatinya, Livi pura-pura berbicara sok manis.
Sekarang Candra duduk di sampingnya.
Livi sendiri gugup dan wajahnya merona.
"Kamu masih bisa kuliah seperti biasanya, beraktifitas seperti biasanya, aku tidak akan melarangmu, tapi aku minta kamu jaga sikap kamu dengan lawan jenis di luar sana. Paling tidak jagalah kehormatan kamu sebagai seorang istri," ujar Candra lirih sambil menunduk.
Livi masih terdiam.
"Aku keluar dulu ya?" ucap Candra lagi.
Livi mengangguk.
"Aku akan menunggumu cinta duluan kepadaku baru setelah itu aku akan memberikan cintaku," batin Livi tersenyum tipis saat melihat Candra yang sedang berjalan.
Malam pun datang.
Livi mempersiapkan bajunya dan barang-barangnya untuk dibawa ke rumah Candra.
Hanya sedikit yang di bawa.
Orang-orang pun sudah banyak yang pulang.
"Dah ma pa," Livi melambaikan tangannya saat mobil mulai berjalan.
"Mulai malam ini kita tinggal di rumahku," ucap Candra ramah.
Livi tidak menjawabnya.
"Umur kamu berapa Liv?"
"21."
Bibir Livi menggerutu. Masa si suaminya ini gak tau umurnya berapa.
__ADS_1
"Maaf kalo pernikahan ini mendadak. Aku juga sama kagetnya."
"Ngga papa. Menikah juga kan ibadah."
Candra tersenyum melihat wajah Livi yang tetap cemberut.
"Kamu gak mau tanya rumahku dimana?"
"Nantikan juga sampai."
Setelah itu tidak ada obrolan lagi. Candra sendiri lebih baik diam dari pada membuat Livi bosan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya ia sudah tau jawabannya.
Sampailah mereka di sebuah rumah yang megah. Tiga kali lebih megah dibanding rumah Livi.
"Ayo turun," Candra membukakan pintu mobilnya.
Livi turun menenteng tasnya.
Mereka masuk.
Livi celingukan.
"Di mana mama dan papa kamu?"
"Oh ayah dan Ibu tidak tinggal disini," jawab Candra pelan.
"Jadi kita disini tinggal berdua?"
Candra mengangguk.
Candra lalu berjalan, mengikuti Livi.
Livi menaruh tasnya di ujung tempat tidur.
"Ganti baju kamu lalu istirahatlah."
Livi menurut saja. Pergi ke kamar mandi lalu mengganti bajunya dengan piyama.
Cukup lama Livi di kamar mandi. Lalu Candra mengetuk pintu nya.
"Livi?" panggilnya pelan.
Livi lalu membuka pintu kamar mandi, mengintipnya, dimana Candra.
Livi berjalan sangat pelan.
Mendapati Candra yang duduk di sofa kamar itu.
"Sudah?" Candra menatap Livi.
Livi mengangguk.
"Duduk sini!" menepuk sofa di sebelahnya.
Livi duduk disana.
__ADS_1
"Kita bisa kan belajar saling menghargai mulai sekarang?" Candra bicara dengan sangat ramah.
"Bisa," jawab Livi terbata bata.
"Jadi mulai sekarang kita tidur satu atap, satu kamar, satu ranjang."
"Iya," mulai panik.
"Kalo begitu ayo naik!"
"Naik?" Livi melotot.
Candra naik ke tempat tidur duluan. Livi malah gugup sendiri.
Candra melebarkan selimutnya.
Livi mendekat lalu ikut naik.
Sudah gugup panas dingin tidak menentu.
"Sini tidur!" Candra merentangkan tangannya.
"Kamu tidak ganti baju dulu?" ucap Livi gugup.
Memang Candra sendiri masih memakai koko dan sarung untuk ijab qobul tadi.
"Kamu mau aku ganti baju?"
"E tidak-tidak. Terserah kamu saja mau pakai apa hehe," nyengir saking gugupnya.
Tapi Candra bangun dari tempat tidurnya, menuju lemarinya dan mengambil baju lalu masuk kamar mandi.
Beberapa menit lalu Candra keluar, Livi memandangnya.
"Keren banget !" batin Livi saat melihat Candra sudah memakai celana pendek dan kaos.
Candra berjalan mendekati Livi. Jantung Livi berdegup kencang.
Candra sudah merebahkan tubuhnya lagi disamping Livi.
Livi tidak berani melihatnya.
Sedangkan Candra seperti tergelak melihat tingkah aneh gadis disampingnya itu.
"Jangan apa-apakan aku malam ini. Aaa mama tolong," jerit Livi dalam hati.
Candra menarik selimutnya, menutup setengah badannya. Tidur memunggungi Livi yang masih dengan tingkah konyolnya.
Sebentar saja suasana sudah senyap. Dengan matanya yang tertutup Livi mendengar nafas yang teratur.
"Apa dia sudah tidur?" batin Livi sambil perlahan membuka matanya.
"Huftttt." Livi membuang pelan nafas gugupnya itu.
Livi tersenyum lega melihat Candra sudah tidur.
__ADS_1
Lalu menarik selimutnya sampai lehernya dan ikut tertidur.
"Mana tega aku memaksakan keinginanku sedangkan kamu belum menginginkannya," batin Candra sedikit melirik Livi yang tidur telentang di belakangnya. Tersenyum sebentar lalu benar-benar tertidur..