
"Ni orang gak capek apa mulutnya, ngobrol gak selese-selese dari tadi." gerutu Haris melirik Apri yang masih telfonan sama Liviana.
Haris mendesah keras.
"Udah lah ngobrolnya, aku bosen tau gak dengerin kamu. Mana keras banget suaramu!" Haris menegur Apri.
"Tutup telingamu, kalo gak mau dengerin aku," Apri cuek.
"Kenapa Pri?" terdengar Livia mencari tau karena dengar keributan.
"Haris nih iri kali dengerin kita ngobrol hahaha"
Lagi-lagi mereka mengobrolkan hal-hal yang nyeleneh. Haris pun menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Mas kita sampai mana?" Suara Rania yang imut serak khas bangun tidur.
"Eh udah bangun, bentar lagi sampai Ran," jawab Haris menoleh kebelakang.
Rania menguap dan masih mengusap matanya. Haris tersenyum melihat gadis kecil itu seperti masih kekanakan saja.
"Kamu lapar Rania?" tanya Haris lagi.
"He.em kita makan bekal ku yuk."
"Oke. Pri cari rest area ya kita makan siang dulu."
"Hmm," jawab Apri se singkat2nya.
Akhirnya mereka bisa meregangkan otot-otot yang kaku karena hampir tiga jam duduk di mobil.
Rania membangunkan Devi yang masih tidur di pangkuannya.
"Dhe bangun, kita turun yuk?" Rania mengelus kening Devi.
"Udah sampai ya mba?"
"Belum, kita istirahat dulu. Kamu lapar kan?"
Devi mengangguk. Mereka turun lalu membuka bekal yang di bawa Rania. Sebenarnya Haris enggan makan makanan yang sudah dingin, tapi dia tidak ingin mengecewakan Rania.
Semuanya makan, Apri nih yang ngambilnya paling banyak.
"Ternyata sesederhana ini calon istriku. Aku semakin ingin cepat memiliki nya. Aku pasti akan bahagia hidup dengan perempuan yang tak banyak menuntut ku," batin Haris sambil menatap Rania yang sedang makan sekalian menyuapi Devi.
"Mas Haris gak sama ayam goreng nya?" tanya Rania karena melihat Haris hanya mengambil tumis sayuran saja.
"Ini aja udah enak banget." Sambil tersenyum.. Membuat hati Rania dag dig dug lagi.
__ADS_1
"Devi mau eskrim?" Dengan manjanya menunjuk freezer yang ada di toko dekat mereka makan.
"Nanti ya kita habiskan dulu makanan ini," Rania membujuk Devi.
"Boleh ya kak?" menoleh pada Haris.
"Boleh.Nanti ya." Haris tersenyum.
Setelah makan siang selesai, Haris menggandeng tangan devi membeli eskrim.
Beli empat sekaligus.
"Banyak sekali kak?" ujar Devi.
"Kita juga mau, cantik. Memangnya cuma kamu yang suka eskrim hehe," canda Haris.
"Hehe kirain buat Devi semua."
Mereka menuju mobil, Rania dan Apri sudah ada di sana.
"Emm cantik, kamu mau gak duduk di depan? Biar bisa lihat-lihat mobil besar." Haris merayu Devi. Sebenarnya maksudnya itu biar dia bisa duduk dekat Rania.
Apri yang mendengarnya langsung memonyongkan bibirnya. Tau niat Haris yang sebenarnya.
"Emang boleh kak?"
"Horeeeee. Duduk di depan." Devi malah teriak kegirangan.
Haris menoleh ke Rania lalu mereka tersenyum. Haris saja yang cemberut karena sebentar lagi akan melihat pasangan yang sedang di mabuk cinta.
Haris membukakan pintu depan. Devi duduk.
Lalu mobil mulai berjalan lagi. Mereka menikmati es krim masing-masing.
Devi masih saja tersenyum senyum dan menggelengkan kepalanya. Dari kecil Devi belum pernah naik mobil bagus seperti itu.
"Masih jauh mas?" tanya Rania.
"Enggak, beberapa menit lagi juga sampai," jawab Haris.
"Ran, sini!" menepuk kursi supaya Rania mendekat.
Rania langsung mendekat. Apri mengamati dari spion depannya mulai berdehem.
Haris dan Rania duduk berdekatan, Rania menyandarkan kepalanya dilengan Haris. Masih sambil menikmati es krim nya.
"Aku mau nyobain punya kamu dong," Haris mulai nih.
__ADS_1
"Kan samaan mas?" Rania mengamati eskrim mereka yang sama persis.
"Tapi aku mau nyobain es krim yang kamu pegang." Ngeyel.
"Sama mas. Nih lihat, sama kan?"
"Aku mau itu," mulai cemberut.
"Hmmm ya udah nih," menyodorkan es krim miliknya.
"Suapin."
Rania tersenyum. "Kenapa mas Haris ini?" Lalu menyuapi es krim yang dibawanya.
"Sama kan?" Rania tersenyum lagi.
"Enggak, lebih enak karena bekas bibir kamu," berbisik di telinga Rania.
Rania membelalakkan matanya lalu berpaling melihat ke luar kaca mobil. Haris tertawa kecil melihat wajah Rania merona lagi.
"Mau punya ku?" Haris mendekatkan eskrimnya pada Rania.
"Enggak," sambil menahan tawa.
"Mau ya?" berbisik lagi.
"Enggak. Es krim nya samaan." Rania ikut berbisik.
Apri berdehem lagi melihat tingkah dua orang di belakangnya itu.
PLUK.
Tiba-tiba Haris menempelkan sisa eskrimnya di bibir Rania. Bibir Rania belepotan, sejenak mereka terdiam lalu Haris dan Rania tertawa keras.
Rania membersihkan wajahnya dengan tisu. Haris melahap habis es krim nya lalu mereka tertawa lagi.
"Kak masih jauh?" tanya Devi pada Apri.
"Enggak, habis ini belok trus langsung deh sampe rumah kak Haris." Apri menjelaskan.
Rania memandang rumah besar di tepi jalan.
"Wah rumahnya besar banget mas," ucap Rania.
Haris hanya tersenyum. Apri membelokkan mobilnya ke garasi depan rumah besar itu.
"Kita sampai..." teriak Apri sambil memberhentikan mobilnya..
__ADS_1