
Pagi itu Rania dan Devi mempacking barang untuk di bawa ke tempat om dan tantenya, hanya barang penting saja yang di bawa. Setelah itu Rania pergi ke sekolah Devi untuk mengurus kepindahan.
Hingga siang menjelang sore, akhirnya Livi dan Candra datang. Sebelum pergi, Rania sempat menitikkan air matanya, campur aduk perasaannya. Sedih, kecewa, tak ada semangat untuk hidup semua jadi satu seakan Rania sudah jatuh ke kerak bumi paling dalam dan tidak bisa bangkit.
Livi merangkul pundaknya, mencoba memberi kekuatan untuk Rania. Candra yang sudah di dalam mobil dengan Devi, membunyikan klakson mobilnya. Rania dan Livi segera masuk juga ke dalam mobil.
"Udah, kita mulai hidup baru dari sekarang. Lupain yang kemarin-kemarin ya, Ran! Jangan di pikirkan lagi," ucap Livi menyemangati. Rania mengangguk.
"Devi mau duduk di depan?" Rania menepuk pundak Devi yang memang sudah duduk di kursi depan dekat Candra. Tau banget deh kalau adiknya itu suka sekali naik mobil.
"Iya, hehe maaf ya kak Livi. Nggak papa kan Devi duduk disini?" pintanya dengan manja.
"Nggak papa dong," tersenyum.
"Yuk! Kita jalan sekarang ya." Candra menghidupkan mesin mobil, melajukan mobil nya dengan pelan.
"Asyik kita bakal jalan jauh nih, Devi seneng deh bisa jalan-jalan. Oiya mba kok kak Diki nggak ikut? Emangnya nanti kak Diki nggak marah kalau mba Rani pergi jauh?"
"Enggak dek, kak Diki sibuk. Jadi udah ngebolehin kita jalan-jalan ke rumah om sama tante," jawab Rania berbohong lagi. Livi menggenggam erat jari-jari tangan Rania, berharap bisa menghangatkan hatinya.
"Makasih mba." Rania tersenyum menatap Livi. Livi mengangguk dengan senyum lebar.
Dua minggu sudah Rania tinggal di rumah Om dan tante, tiap hari juga Rania datang ke rumah Candra untuk menemani Livi. Setelah acara empat bulanan debay, Livi sudah di bolehin Candra main ke rumah orang tuanya karena sudah jarang mual dan lemas.
Selesai membatu tante masak, Rania bersiap untuk pergi ke rumah Livi. Devi pun sudah mulai masuk di sekolah baru.
"Ma? Rania? Devi?" seru Livi.
"Loh Liv? Kamu kesini sama siapa?"
__ADS_1
"Sendiri ma, bosen tau di rumah. Rania juga udah dua hari gak dateng," jawabnya cemberut.
"Memang kak Candra udah ngebolehin mba?"
"Udah Ran, aku udah fit sekarang. Emm mana Devi?"
"Devi udah mulai masuk sekolah. Duduk yuk mba."
"Oiya, aduh. Debay jangan tegang sayang, nih kita lagi di tempat nenek sekarang." Livi kesulitan duduk, karena perutnya terasa kram.
"Duh sakit ya mba?" Rania ikut ngilu melihat wajah Livi.
"Enggak, kram saja. Ma, kata dokter anak aku kembar lho."
"Oh ya? Syukur deh, mama senang. Pantesan ya kamu beda dari orang hamil yang lain. Baru empat bulan udah gede gitu." Kata tante april.
"Lucunya, seneng deh lihat mba Livi. Pasti nanti bakal tambah bahagia rumah tangganya. Nggak kaya aku." Rania tersenyum tapi tidak bisa membohongi hatinya yang masih terluka.
Rania mengangguk semangat, mereka berdua berpelukan, "Jangan sedih terus, kamu coba deh cari kerja. Biar sibuk trus nggak kepikiran Diki terus," ujar Livi lagi memberi saran.
"Iya Ran, jangan berlarut larut sedihnya. Kemarin tante lihat ada lowongan kerja di kafe depan. Kamu coba aja lagian jaraknya deket."
"Iya mba juga tadi sekilas lihat ada selembaran dari kafe itu yang butuh karyawati. Mau aku antar?" Livi menimpali.
"Enggak usah mba, aku datang sendiri aja besok. Terimakasih tante, mba Livi. Sudah menyemangati Rania selama ini."
" Emmm udah jangan sedih lagi ya?" Livi mengeratkan pelukannya.
"Udah sarapan belum Liv? Tadi mama sama Rania udah masak."
__ADS_1
"Udah dong ma, ma aku tu udah makan dua kali. Tadi sebelum subuh aku laper banget trus bang Candra masakin aku tumis bakso sama brokoli. Paginya aku bikin nasi goreng trus sarapan lagi. Ehe kayaknya debay hobi makan deh ma."
"Pantesan gemukan, tapi ga papa biar debay dan kamu sehat."
"Hehe iya ma. Duh ke kamar yuk, pegel banget nih!" Livi mengelus perutnya.
"Ke kamar aku aja mba, ya?"
"Boleh, yuk. Ma, kita ke kamar dulu ya."
"Iya sana. Mama mau ke rumah Bu sari dulu, mau arisan."
Di kamar.
"Mba, debay udah gerak-gerak belum?" Rania mengusap pelan perut Livi.
"Sesekali, tapi baru kaya kedut gitu si Ran. Ran? Kamu sama Diki udah melakukan itu belum si?"
"Itu? Berhubungan?"
"Iya, maaf deh kalau bikin sedih. Nggak usah jawab gapapa."
"Sudah mba, tapi untungnya aku minum obat penunda kehamilan. Soalnya aku belum siap hamil dulu dari awal."
"Syukurlah ... untung ya kamu punya pikiran begitu. Beli cemilan yuk, bosen banget tau."
"Di kulkas ada buah. Mba mau?" Livi mengangguk.
Rania bangun dari rebahan nya, lalu mengambil buah naga dan melon, mengupasnya kemudian memotong kecil-kecil. Hari menjelang siang, Livi tertidur pulas di tempat tidur Rania.
__ADS_1
Rania ikut merebahkan tubuhnya di samping Livi, lalu perlahan ikut tertidur.