Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Kunjungan ke rumah mertua


__ADS_3

Selepas mengantar Devi, Diki membawa Rania ke rumah orang tua Diki. Sepanjang perjalanan mereka mencuri pandang satu sama lain. Selepas pertengkaran, membuat tingkah mereka canggung seperti baru pertama pacaran.


"A -aku minta maaf," ucap keduanya bersamaan.


"Aku yang minta maaf," balas Rania kemudian.


"Jangan di ulangi ya?" Diki tetap menatap ke depan.


"Kamu juga, kalau pergi tetap kasih kabar." Rania mulai memanyunkan bibirnya.


"Jangan cemberut deh. Siang ini sebelum Devi pulang sekolah, kita habisin waktu di kamar. Oke?" melirik Rania dengan tatapan ingin menerkam. Dan senyum khas Diki.


"Mana mungkin bisa? Mama kan__" menggantung kata, tapi Diki tetap paham maksudnya.


"Tenang, aku hanya mengambil berkas di meja kerja papa. Habis itu kita pulang."


Bukan tidak menerima orang tua Diki, tapi mendengar itu Rania senang, tadi saat di ajak ke rumah mertuanya tiba-tiba dadanya berdenyut hebat seperti akan naik roller coaster saja.


Bibi membukakan pintu setelah beberapa kali bel rumah di tekan.


"Pagi tuan muda, nona?" sapa bibi, pembantu di rumah orang tua Diki, sambil membungkukkan badan.


"Silahkan masuk," imbuhnya.


"Permisi Bi." Rania turut membungkukkan badannya saat lewat di depannya. Diki tidak membalas sapaannya sama sekali.


"Wah anak papa. Kalian datang juga, silahkan duduk. Rania duduk sini nak." Dengan ramahnya Pak Indra menyapa mereka.


Tak lama kemudian datang bu Eri. Dengan wajah datar nya, dan kipas itu. Sudah seperti botol dan tutupnya saja, tidak mau terpisah.


"Pagi ma," Rania menyapa bu Eri, dengan canggung.


"Diki, lama sekali kamu tidak pulang? Mama pikir sudah melupakan kami," ucapnya ketus, lalu matanya menatap Rania , tajam seperti ingin mencongkel mata Rania saja.


"Ma!" pak Indra menatap jengah istrinya itu.


Rania menggeser duduknya, lebih menempel pada Diki. Mama dan papanya juga duduk bersebelahan.

__ADS_1


"Bik tolong buatkan minuman," seru pak Indra.


Dengan secepat kilat minuman sudah ada saja di meja, "Terimakasih bi," ucap Rania seraya tersenyum padanya.


"Silahkan minum nak!" Pak Indra mempersilahkan. Rania menjawab dengan senyuman. Lalu tidak tahan ingin tau bagaimana ekspresi mama mertua, akhirnya rania mencuri pandang dengan meliriknya. Tetap saja masih dengan tatapan tajam itu.


"Huh aku menyesal telah melirik beliau," batinnya.


"Mana berkas yang papa bicarakan kemarin? Aku mau mengambilnya."


"Oh bentar lah, kalian kan baru sampai."


"Aku sibuk pa. Harus cepat-cepat ke kantor."


Pak Indra kemudian bangun dari duduknya. Menaiki anak tangga dan menghilang. Diki menatap Rania , lalu beralih menatap mama.


"Mama gak pengen nih mengenal menantunya? Dia baik lho." iseng Diki sambil mengelus pundak Rania.


Rania tersenyum menatap mamanya.


Mama malah semakin cepat mengibaskan kipasnya.


"Ini . Sudah papa tanda tangani. Kalian mau sarapan dulu bukan? Sepertinya bibik sudah masak."


"Tidak pa. Terimakasih. Kami pulang dulu." Diki mendekati papa dan mamanya lalu salim, Rania mengikutinya.


Mobil melaju sedang, di dalam Rania menyandarkan kepalanya di kaca mobil.


Diki meliriknya, "Kamu harus siap-siap!" ucapnya.


"Untuk apa?"


"Untuk tugas yang tidak kamu kerjakan selama seminggu ini?" tersenyum nakal.


Rania menutup wajah dengan kedua tangannya, seketika memerah wajah mulusnya itu.


"Kamu sudah paham ya sekarang, tidak perlu di jelaskan lagi," ejek Diki.

__ADS_1


Rania tidak menjawab, hanya tergelak kecil dan malu-malu.


"Delapan hari kali tiga!" canda Diki lagi.


"Apa?" Rania membelalakkan matanya.


"He'em. Harus minum jamu dulu biar kuat."


"Hey? Apaan deh? haha" tertawa garing.


Sesampainya di rumah, Diki melepas pelan dress yang di pakai Rania. Melakukan adegan ciuman hingga puas, lalu menyelesaikan hasrat mereka.


Hingga puas.


Keduanya mandi bersama, berendam di battup dan melakukannya lagi. Sampai Rania meringis kesakitan. Lalu Diki berhenti mengerjai Rania.


Setelahnya Rania pergi ke dapur. Banyak tugas paginya yang belum selesai karena tadi mengerjakannya tidak sesuai jadwal.


Diki Masuk ke ruang kerjanya. Melihat lihat keadaan di sana. Kemudian tersadar sesuatu di laci kecilnya, "Foto itu? "


Di bukanya laci paling bawah itu. Semua foto-foto masih tertata di sana. Diki mengambil semuanya kemudian meletakkan di koper yang ada di atas lemari.


"Apa Rania melihatnya? Tapi dia tidak menanyakannya padaku," gumam-gumam sambil melihat isi laptopnya.


"Sayang, makan dulu yuk!" ajak Rania, membuyarkan lamunan Diki.


"Emm bentar ya, sini dong," Diki menjentikkan jarinya, lalu Rania mendekat.


"Sini!" menjentikkan jarinya lagi. Rania mendekatkan wajahnya di dekat wajah Diki.


"Sekali lagi???" tergelak sendiri.


"Iiiiihhhhhh kejam banget si. Sakit tau!" gerutu Rania, membuat Diki tertawa lepas. Puas sekali bisa membuat Rania panas dingin.


"Ah ah!" candanya lagi menirukan suara Rania,sembari bangun dari duduknya. Kemudian merangkul Rania menuju ruang makan di bawah.


Rania semakin malu saja di buatnya, lalu memukul mukul pelan dada Diki.

__ADS_1


Pagi ini, biarkan selamanya seperti ini, Tuhan.


__ADS_2