
Malam ini hujan deras. Rania sudah membaringkan tubuhnya di ranjang. Memeluk Devi yang sudah tidur dengan pulas.
Rania ikut memejamkan matanya, merasa lelah dengan pekerjaannya hari ini. Karena sehabis istirahat siang kafe pak Arga begitu banyak orang yang berkunjung.
Malam berlalu begitu cepat, pagi ini Rania melakukan rutinitas paginya. Memasak sarapan, beberes, mandi lalu berangkat kerja.
Sesampainya di kafe, Rania membereskan meja-meja dan kursi-kursi itu, tidak lupa membersihkannya.
Novi pun datang, langsung ikut membantu. Novi juga menyalakan TV yang menempel di tembok kafe.
Berita heboh pagi ini.
Sebuah saluran TV menayangkan berita yang cukup menyita perhatian.
Rania tidak melihat TV itu, hanya mendengarkan suaranya saja.
"Haris Eka dan Hanindya resmi bertunangan hari ini. Siapa yang tidak mengenal mereka? Anak dari dua perusahaan ternama di kota ini. Pertunangan yang sangat mewah dan tentunya bikin baper para jomblo di luar sana."
Seorang pembawa acara menyiarkan langsung di tempat pertunangan itu di adakan.
Rania tergugah hatinya untuk melihat TV itu saat mendengar nama Haris.
Beberapa menit memperhatikan, terlihat pasangan itu berjalan bergandengan tangan, Hanin yang dengan anggunnya tersenyum lepas sambil menggandeng lengan Haris. Haris juga terlihat sangat tampan dengan setelan tuxedo yang di pakainya.
"Haris?" Rania mengucapkan nama itu lirih.
Wajah Rania memerah, air matanya hampir saja tumpah. Untungnya dia pandai menyimpan rasa.
"Dih Rania baper ya?" ejek Novi menyenggol Rania.
"Rania kamu baper beneran? Cup- cup jangan nangis dong." Novi benar-benar tidak tahu kalo Rania pernah dekat dengan Haris meskipun cuma seperti angin lewat.
__ADS_1
"Mereka cocok banget si. Aaa kapan ya kita dapet pasangannya, kerjaa mulu," rengek Novi yang ternyata baper juga.
Rania tersenyum kecut lalu melemparkan kain lap di muka Novi.
"Ih jorok banget sih Ran." Novi melempar balik kain lap itu.
"Kerja dulu yang bener, baru nikah." Rania kembali bekerja dan memalingkan wajahnya dari berita itu.
"Kalo dapat suami kaya, kan gak perlu kerja lagi." Novi memonyongkan bibirnya.
"Udah- udah , kamu lanjutin ini ya. Aku ke kamar mandi dulu," ucap Rania lalu beranjak ke kamar mandi.
Masuk lalu mengunci pintu kamar mandi. Rania menyalakan kran air, lalu menangis sejadi jadinya.
"Kenapa hatiku terasa sakit melihat mas Haris dengan perempuan lain? Bukannya aku yang menolaknya kemarin? Rania ayolah, kamu bukan seleranya mas Haris. Lagian kalaupun kemarin jadi, pasti kamu hanya akan jadi pembantunya saja, bukan istrinya. Jangan bodoh Rania..." Rania meluapkan sakit hatinya, meyakinkan hatinya untuk tak berpihak pada Haris lagi.
Setelah mulai terkendali, Rania membasuh wajahnya. Keluar dari kamar mandi lalu menghampiri Novi lagi.
"Lama banget di toilet. Ngapain si?" Novi kepo.
Hari semakin siang.Kafe mulai rame di datangi pelanggan.
Rania dan Novi merasa kerepotan. Pak Arga biasanya sedikit membantu tapi sekarang kenapa dia belum datang?.
Saat lagi sibuk-sibuknya, ponsel Rania berdering. Tapi Rania tidak berusaha menjawabnya. Dia berpikiran akan menelfon balik nanti saat sudah senggang.
Jam menunjukkan pukul empat sore. Rania dan Novi mulai merapikan meja-meja dan kursi. Lalu mencuci piring dan gelas yang kotor. Setelah itu mereka duduk santai di taman belakang sebelum pulang.
Rania teringat ada panggilan yang masuk tadi. Membuka ponselnya, "Mas Apri telfon?" gumam Rania.
Rania malas menelfon balik Apri karena menurutnya sudah tidak penting lagi. Lagian perkenalan mereka hanya seperti angin lewat saja.
__ADS_1
Rania dan Novi sudah akan beranjak pulang tapi ponsel Rania berdering lagi.
"Mas Apri lagi?" batinnya.
menatap lama layar ponsel nya itu,.
"Rania kok gak di angkat?" Novi mengagetkan nya.
"Halo?" lirih.
"Halo Ran, kamu dimana?" sapa Apri ramah masih sama seperti kemarin-kemarin.
"Di kafe, ada apa mas?"
"Aku kangen sama Devi. Sampe rumah nanti hubungi aku ya?"
"Iya mas."
"Kamu kok lesu gitu?"
"Iya tadi kafe rame banget, aku capek. Ya udah ya aku pulang dulu."
"Hati-hati ya." sambungan telfon terputus.
"Pulang sekarang?" tanya Novi.
"Iyalah, kan udah waktunya pulang." jawab Rania tersenyum.
Kerja mereka memang menggunakan waktu, ada sift siang ada juga sift malam. Tapi kalau kafe rame sekali biasanya pada di suruh lembur. Saat lemburan itulah Rania merasa senang karena ada uang bonus.
Rania dan Novi menunggu angkutan umum. Agak lama, tapi yang ditunggu datang juga.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian sampailah Novi di rumahnya. Dia melambaikan tangan pada Rania saat sudah turun dari mobil. Rania melanjutkan perjalanannya.
Beberapa menit kemudian Rania juga sampai di rumahnya. Turun dari mobil lalu berjalan santai menuju rumahnya..