Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Ulang tahun Devi


__ADS_3

Seminggu setelah kepergian Diki ke Luar kota, semuanya berubah, terlebih saat Diki jarang menelfon atau membalas pesan Rania. Rania sudah menaruh hati pada Diki sejak terikat pernikahan, namun sekarang semuanya tak terbalas.


Diki pergi, entah benar-benar kerja atau urusan lain. Yang pasti Rania merasa tertipu sekarang, cinta dan kenikmatan sesaat.


Hari ini minggu, 27Juni bertepatan dengan ulang tahun Devi. Rania mencoba menghubungi Diki, berkali kali tapi tidak ada respon.


"Apa yang kamu lakukan di luar sana? Kenapa tak ada kabar sedikitpun?


Diki aku rindu, kamu bagaimana?


Seandainya tak ada lagi cintamu untukku, katakan baik-baik, jangan meninggalkanku tanpa alasan begini."


Sebanyak apapun Rania berkata, tidak akan ada jawabannya, sebab semua itu hanya berkecamuk di hatinya.


"Bangun dek, eh kita ke mall yuk!" ujar Rania, berusaha menyingkirkan ego yang mungkin adalah fitnahan untuk Diki.


"Nanti aja, Devi mau santai-santai di rumah mba."


"Emmm kak Diki kan belum pulang juga, kita beli eskrim berdua aja deh, ayo dong bangun."


Tanpa toleransi lagi, Devi berdiri tegap di atas ranjang, menghadap Rania dan hormat padanya sembari berkata, "Siap."


Melihat itu Rania tergelak, lucu sekali gadisnya itu.


Dengan langkah tegap maju jalan ke arah kamar mandi. Rania sampai menitikkan air di ujung matanya karena tertawa. Tapi wajah Devi datar-datar saja tuh seakan sedang jadi petugas upacara di sekolahnya.


Mereka berangkat ke mall menaiki angkot biasanya. Rania juga ingin mengunjungi rumah lamanya. Tampak rusak dan tidak terawat.


Dari depan rumah saja tampak bunga-bunga yang tumbuh tidak beraturan, rumput liar yang sudah meninggi, kemudian Rania dan Devi masuk,terasa sejuk saat pintu terbuka. Sepi, tidak ada kehidupan.


Rania menuju kamarnya, masih tertata rapi seperti terakhir kali ia meninggalkannya. Devi memeluk Rania, "Devi sekarang ulang tahun kan ya? Udah gede kamu ya dek, jadi anak yang solehah, ilmu yang barokah, lebih giat lagi belajarnya ya sayang."


"Terimakasih mba, Devi nanti mau jadi dokter. Ngobatin orang-orang sakit dan buat orang-orang senang karena sembuh," mereka berpelukan.


Rania menitikkan air matanya, teringat saat terakhir kali ayah dan Ibu merayakan ulang tahunnya, saat 11 tahun. Ingat kembali kenangan lama bersama mereka.

__ADS_1


Ada tiga manusia yang Rania rindu saat ini, Ibu, Ayah, dan Diki. Semoga yang ia terka-terka tentang Diki semuanya salah. Semoga Diki benar-benar kerja di jauh sana, tidak pergi karena bosan dengannya.


"Eh udah yuk kita jalan-jalan beli eskrim." Rania mengusap matanya, dan menarik nafas panjang-panjang.


"Hore, terimakasih ya mba."


"Iya. Yuk!"


Tak berapa lama mereka sampai di mall. Langsung saja membeli kue tart ukuran kecil dan lilin yang kecil-kecil juga. Lalu duduk di meja yang di sediakan di sana, rania menyulut lilin itu. Mereka berdua meminta harapan, memejamkan mata kemudian Devi meniupnya.


"Horeeee!" sorak keduanya.


"Sekarang kita potong kuenya," pinta Rania, "Coba ini Devi mam, a a?" Rania menyuapkan sepotong kue itu kepada Devi.


"Emmm enak mba."


"Terimakasih mba," pelukan sayang untuk Rania.


"Hehe sama-sama Devi," membalas pelukan Devi.


"Eh selfi dulu yuk!"


Sudah terkirim, tapi belum di balas.


Mereka lalu menghabiskan kue nya kembali.


"Devi mau hadiah apa?"


"Ini saja sudah cukup mba, Devi cuman mau mba dan mas Diki tetap menyayangi Devi."


"Emmm pasti sayang, tanpa di minta saja pasti mba sayang sama kamu selamanya. Tapi tidak tau dengan kak Diki," batinnya kemudian.


"Kak Diki pulang kapan mba?"


"Belum tau, Devi masih mau makan lagi?"

__ADS_1


Devi mengangguk, kapan si Devi menolak makanan? hehe.


Menghabiskan setengah hari di mall, rasanya asyik juga. Rania bisa melepas stresnya sebentar.


Dipandangnya ponsel lama itu, menunggu pesan dari Diki.


Dan benar ada pesan masuk. Buru-buru Rania membacanya.


"Ha kok mas Haris?"


"Rania, dimana kamu? Bisa kita ketemu?" Pesan dari Haris.


"Bisa mas, aku di mall yang biasa, tapi kamu tidak akan macam-macamkan?" balas Rania.


"Aku segera datang."


Rania harap-harap cemas sekarang, baru merasa bersalah saat mengijinkan Haris menemuinya. Bagaimana kalau Diki tau? Dia pasti semakin marah. Ah tapi apa salahnya bertemu teman?


"Rania?"


DEG


"Akhirnya kita ketemu, aku__"


"Mas jangan bilang kangen, aku mengijinkanmu bertemu bukan untuk kangen-kangenan."


"Ehem iya. Devi cantik?" mengelus puncak kepala Devi yang sedang menikmati eskrimnya.


"Kak Haris, aku kangen kak," seru Devi.


"Sama kakak juga kangen."


"Mana suami kamu Ran?"


"Sedang di luar kota. Mas silahkan kamu main sama Devi, aku gak mau terjadi fitnah, kamu bilang kan hanya mau ketemu Devi."

__ADS_1


"Eh iya, Devi mau gak naik mobil-mobilan?"


"Mau mau," kata Devi, menggenggam erat tangan Haris.


__ADS_2