Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Jalan Yuk?


__ADS_3

"Ada apa mas?." Tanya Yura.


"E aku mau bicara sebentar sama Rania?. "


"Kenapa mas?. " Rania sedikit khawatir, Jangan-jangan mas Kevin mau mecat aku.


"Nanti malam jalan yuk?. " ucap Kevin dengan nada bicara ketus seperti biasanya.


"Mas kalau ngajak jalan cewek tu bilangnya yang romantis, jangan ketus begitu. Kan ceweknya jadi takut. " Yura tergelak, tapi langsung diam kemudian setelah Kevin memelototinya.


"Kamu mau kan?. " Sekarang cara bicaranya sedikit memelan.


"Jalan kemana mas?. " Rania mulai salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kemana aja bisa kan?. Kamu mau atau tidak?. " Kevin membentak lagi.


Yura langsung menyikut lengan Rania.


"A iya aku bisa mas. Nanti malam ya?. " Rania reflek menjawab.


"Oke. Sudah sana pulang. "


Yura dan Rania saling tatap. Lalu bergandengan tangan berjalan menuju tempat parkir. Menaiki motor masing-masing masing kemudian motor mereka melaju beriringan.


Tak berapa lama kemudian, mereka lagi-lagi harus berpisah dipertigaan depan. Rania tersenyum selagi Yura masih terlihat, Yura pun membalas.


Setelahnya, Rania mengingat ajakan Kevin. Nanti malam jalan sama Kevin, padahal sudah janji mau jalan sama Haris.


"Aakh, kenapa hidupku serumit ini?!!!. " Teriak Rania ditengah perjalanan, untungnya sepi.


Sesampainya dirumah, Rania langsung mengajak Devi makan. Tapi Rania sendiri hanya menemani Devi karena masih kenyang.


"Mba nggak makan?. "


"Enggak mba masih kenyang, Devi mam dulu gih jangan sambil bicara. "


Devi mengangguk paham.


Selagi menemani Devi makan, Rania memainkan ponselnya. Mengirim chat kepada Yura.

__ADS_1


"Yura, nanti malam aku akan jalan dengan mas Kevin. Jadi aku tidak bisa mengantarmu bertemu Haris. " Pesan dikirim.


Pesan masuk, Yura. " Iya, aku juga sudah mengajak kak Haris jalan. Nanti malam kita ketemu ya. Kirim alamat ke aku dimana kalian akan bertemu. "


Duh gimana ini? kenapa malah ngajak mas Haris sih Yura?!. Batin Rania.


"Oh begitu? , tapi apa nggak sebaiknya kalian jalan berdua saja? kan mau ngobrolin masalah serius. " Protes Rania. Pesan dikirim.


Pesan masuk, Yura. " Wah kamu pinter banget si, mentang-mentang mau jalan sama si bos terus nggak mau diganggu. 😒 "


"Eh bukan begitu Yura. Yasudah nanti kita jalan berempat. " Pesan dikirim.


Pesan masuk, Yura. " Nah gitu dong. "


Dikamarnya, Yura tersenyum puas. Dia bisa melihat Rania bahagia karena bisa mendapatkan perhatian Kevin. Dan juga Yura sangat bahagia, karena nanti malam akan jalan sama Haris.


Meskipun dulu sering jalan berdua, tapi perasaanya berbeda. Karena dulu Haris dianggap sebagai kakak tapi sekarang dia menganggap Haris laki-laki dewasa yang membuat hatinya jatuh cinta.


Sedangkan diruang makan, Rania terlihat sedih. Bertolak belakang dengan suasana hati Yura.


Sedih sekali rasanya mengikhlaskan orang yang disayang untuk sahabatnya sendiri.


Devi sudah selesai makan sekarang, Rania pergi ke kamarnya untuk mandi. Devi pindah ke ruang keluarga untuk menonton televisi. Tak berapa lama kemudian, om dan tante pulang. Lalu menemani Devi menonton TV.


"Dimana mba Rania, sayang?. " Tanya tante.


"Di kamar, sepertinya sedang mandi tante. "


"Oh. Bagaimana sekolah kamu?. "


"Asyik dong tante. Terimakasih ya sudah menyekolahkan Devi disekolah hebat itu. " Devi memeluk tantenya.


"Terimakasih juga ya om. " Lalu bergantian memeluk omnya.


"Iya sama -sama sayang, jadilah wanita hebat kelak saat kamu sudah dewasa ya?. " Ucap om dan tante bergantian.


"Iya om, iya tante. "


Karena sore sudah mulai berganti malam. Om dan tante pergi ke kamarnya untuk mandi.

__ADS_1


Rania turun dari kamarnya, dan mulai memasak untuk makan malam. Tante menghampirinya didapur untuk membantu.


"Tante, nanti Rania ijin mau jalan sama temen ya?. "


"Kok jalan terus si? memang sama siapa?. "


"Sama Yura, sama bos kita juga kok. "


"Ya sudah, tapi tetap jaga diri baik-baik ya. "


"Iya tan, titip Devi ya tante. "


"Iya tenang saja. "


Setelah masakan siap, mereka semua berkumpul untuk makan malam. Devi tersenyum senang saat tante mengajaknya makan, padahal baru tiga jam Devi selesai makan dan sekarang mau makan lagi.


"Dek, kamu lapar lagi?. " Bisik Rania kepada Devi.


"Mba, kalau disuruh makan ya makan nggak boleh nolak rejeki. " Bisik Devi lagi.


Tanpa menjawab lagi, Rania kembali melahap makanannya. Dalam hatinya tertawa, adik gembul itu memang hobi makan.


Om dan tante hanya memperhatikan tanpa berkomentar, karena sudah jadi kebiasaan kalau sedang makan mereka tidak boleh bicara.


"Om, tante, Rania jalan dulu ya. Dek sama om, sama tante ya?. "


"Iya . Mba mau ketemu kak Yura ya??. "


"Iya, nanti Mba beliin sesuatu deh kalau Devi nggak nakal. "


"Devi kan nggak pernah nakal. " Protes Devi memanyunkan bibirnya.


"Iya deh, Devi kan anak yang baik. Ya sudah, om tante pamit dulu. " Rania salim.


"Hati-hati." jawab tante.


"Hati-hati ya, jangan pulang sampai larut. " Pesan dari om nya.


"Siap."

__ADS_1


Rania pun berlalu. Mengeluarkan motornya dari garasi lalu melajukan motornya menuju jalan Nirwana menuju kafe dan resto yang sudah direncanakan dengan Kevin.


__ADS_2