Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
PDKT


__ADS_3

Rania sudah membaringkan tubuhnya di ranjang, memainkan ponselnya sambil menunggu Devi selesai belajar.


Biasanya Rania menonton bebtube di ponselnya sebagai hiburan, kali ini dia menonton kisah cinta yang menurut dia menarik.


Di tengah-tengah film yang ditontonnya, tiba-tiba ada panggilan masuk. Nomor baru, "Hai, Rania"


Suara laki-laki, Rania belum menjawab malah mencoba mengingat suara siapa itu.


"Ini Rania kan?" ucap laki-laki itu lagi.


"Iya...Ini siapa?"


"Aku Diki"


"Diki?" Rania terlihat mengernyitkan dahinya, siapa Diki ini.


"Kamu pasti lupa. Hmm kita yang ketemu di mall empat hari yang lalu"


"Diki temen Novi?"


"Iya, akhirnya ingat juga hehe"


"Oya ada apa Dik? Darimana kamu dapat nomor ponselku?"


"Mau kenal lebih dekat aja sama kamu, aku minta ke Novi hehe, boleh kan?"


"Boleh kok."


"Kamu lagi apa sekarang?"


"Mau tidur nih, kalau kamu?"


"Masih di hotel," jawab Diki dengan ramah.


"Kamu bekerja di hotel?"


"Enggak kerja si...Tapi main aja kesini"


"Main?" Rania tidak paham dengan arti ucapan Diki, jadi dia juga bingung harus jawab apa lagi.


"Yaa aku biasa nginep di sini, kadang juga cuma mampir istirahat doang, karena ini hotel papa ku," jelas Diki.


"Owwww gitu." Rania agak canggung menanggapi ucapan Diki.


"Eh besok kamu kerja nggak?"


"Iya si. Memang kenapa?"


"Besok aku mampir ya?"


"Aaa? Mampir ke rumahku?"


"Ke kafe lah..." Diki tertawa kecil.


"Boleh, e udah dulu ya."


"Emang nya udah ngantuk?"


"Sudah."


"Sampai besok Rania," terlihat Diki tersenyum.


Rania memutus sambungan telfonnya.

__ADS_1


Kali ini lampu ponselnya berkedip, tanda pesan masuk. "Selamat malam Rania, boleh kan aku mengenalmu lebih dekat?" pesan dari nomor yang sama yang barusan menelponnya .


Rania tersenyum, mungkin dekat dengan Diki bisa perlahan mengalihkan pikirannya pada Haris.


"Tentu. Kita boleh berteman 🙂" balasan pesan dari Rania.


"😁 makasih Rani."


"☺"


Pesan terakhirnya dari Rania.


"Dhe ayo bobo udah malam." Rania menghampiri Devi yang masih belajar.


"Ayo mba..." Devi terus membereskan buku nya. Lalu menaiki ranjang diikuti Rania. Mereka tidur saling peluk. Masuk dalam ruang mimpi nya masing-masing.


_____________________________________


Senyum yang cerah dari bibir Rania mengalahkan sinar mentari pagi ini.


Setelah tugas paginya selesai, Devi juga sudah berangkat sekolah, Rania pun berangkat ke kafe.


Menunggu angkutan umum di tempat biasa. Tak berapa lama menunggu angkutan itu datang, Rania menaikinya.


Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di kafe tempatnya bekerja. Rania turun, membayar nya lalu masuk ke kafe.


"Tumben Novi belum datang," gumam Rania kemudian mengambil kunci di tas kecilnya.


Novi, Rania dan pak Arga memang memegang kunci kafe itu. Pak Arga sudah mempercayakan Rania dan Novi untuk mengurus kafenya itu saat dirinya tidak bisa datang.


Rania mulai mengelap meja dan kursi kafe, tidak lupa mengepel nya. Tak berapa lama Novi datang. Rania menyambutnya bahagia.


"Novi kamu datang juga."


"Seneng dong, aku jadi gak sendirian lagi," memberikan senyuman manisnya.


"Ah kaya gak biasa sendiri aja." Novi tertawa kecil.


"IIIhhh Novi, mulai kan kamu!" rengek Rania .


"Hehe becanda masa gak boleh."


"Nggak kalo menyangkut kejombloanku ini."


"Hehe Iya deh sory, Ran, kamu inget Diki kan?" ucap Novi sambil mengelap gelas-gelas di meja.


Rania hanya mengangguk.


"Dia hubungin kamu nggak? Soalnya dia minta nomor kamu waktu kita mau pulang."


"Semalam dia telfon," menjawab sekenanya.


"Trus kamu tanggepin?"


"Iya."


"Kayaknya kalian bakal cocok deh."


"Kamu jang..."


"Pagi," seseorang menyapa memotong ucapan Rania.


Mereka berdua menoleh bersamaan.

__ADS_1


"Diki?" sapa Novi.


"Hmmm Hai, Rani?" Rania tersenyum.


"Siapa yang nyapa, balas nyapanya ke siapa. Diih." Novi menutup mulutnya.


"Hai juga Nov," merasa tersindir. "Kok masih sepi banget ya."


"Kamu ngapain pagi banget kesini?"


"Mau ketemu Rania" tegas Diki.


"Wah, wah yang langsung pdkt" ledek Novi melirik Rania.


"Novi..." Rania mengedip kedipkan matanya.


"Oh iya dong. Aku boleh duduk kan?"


padahal Diki sudah duduk.


"Apaan si, udah duduk juga malah baru minta izin." Novi memonyongkan bibirnya.


"Hehe kenapa tuh bibir? Habis kena sedot wc ya kok panjang amat," canda Diki.


"Eh emang kamu kira ini bibir apa kloset?" Novi mulai menekuk tangannya ke pinggang merasa kesal.


Rania sudah mulai tertawa melihat dua orang itu saling ejek.


"Kloset," ucap Diki lagi tapi lirih.


"Apa? Keluar aja deh kalo kesini cuma mau ngejek!"


"Maaf, maaf, hehee jangan gitulah aku kan mau ngapelin Rania."


"Bodo!" Novi cemberut.


"Nanti aku traktir seblak."


"Yang bener?!" Novi langsung tertarik.


"Hmmmm"


"Oke, tapi dua porsi," rengek Novi.


"Sudah kuduga." Diki berdecak.


" ya?" Novi meyakinkan.


"Oke, tapi kamu jadi orang pertama yang dukung aku deketin Rania."


Rania yang sedari tadi tertawa, kini diam menatap Diki.


"Oke." membulatkan kedua jarinya.


"Bagus."


"Ran, gak ada yang marahkan kalo aku deketin kamu?" terang-terangan.


"Alhamdulillah ya Allah akhirnya Rania laku juga," ucap Novi membuat Rania tidak jadi menjawab pertanyaan Diki. Novi bicara agak keras dan menadahkan telapak tangannya dengan raut wajah yang memelas.


Diki tertawa melihat tingkah Novi.


"Novi..."

__ADS_1


"Aduh duh ,duh ampun ampun..." Novi meringis kesakitan saat Rania mendekat lalu tiba-tiba mencubit keras lengannya.


__ADS_2