Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Livi dan Apri End


__ADS_3

"Aku dijodohin juga sama anak temen bisnis papa. Aku pernah sekali lihat laki-laki itu bikin aku ilfil banget. Dia itu seorang ustadz, bahkan ke kampus aja dia pake sarung." Livi menceritakan dengan nada kesal.


"Beruntung dong kamu dapat calon suami ustadz." Apri memegang dadanya, belum sempat dia mengenal Livi lebih jauh taunya Livi sendiri sudah ada jodohnya.


"Tapi bukan seperti dia tipe aku." Livi mulai merengek.


"Emmm, kamu tolak aja kalo gitu."


"Asal kamu tau ya, kalo sampe aku menolak, bisa nih aku di kirim ke Antartika sama papa!"


"Sekejam itu?"


"Iya.Duh gimana dong ya. Aku bener-bener gak mau punya suami pak ustadz," merengek lagi.


"Emang tipe cowok impian kamu gimana?" tanya Apri penuh harap.


"Keren, mapan, badannya tinggi, romantis, aku kasih gambarannya itu seperti Haris," jawab Livi senyum-senyum sendiri.


"Yah aku kena eliminasi dong!" batin Apri.


Sadar akan tubuhnya yang gendut, tinggi pas-pasan, hidup masih nebeng ortu. Jelas-jelas akan kalah sebelum seleksi.


"Untung tanya-tanya dulu, jadi gak malu sendiri," batinnya lagi.


"Oh. Trus itu ustadz gimana?"


"Postur tubuhnya si oke. Tapi sarungnya itu yang jadi masalah."


"Tinggal dibilangin pake celana aja gitu, selesai kan?"


"Iya juga ya. Pinter bgt si Pri." Livi mulai tertawa.


"Hmmm biasa aja."


"Liv udahan dulu ya, udah masuk jam kantor nih."


"Iya deh. Bye Apri."


" Bye."


panggilan dengan Apri terputus. Livi masih enggan untuk pulang ke rumah. Akhirnya Livi memesan minum di kafe itu, memainkan ponselnya.


"Telfon Rania dia masih kerja, telfon siapa ya?" Livi masih menaik turunkan layar ponselnya.


Bosen banget sih! gerutunya.

__ADS_1


Papa memanggil...


"Halo pa?"


"Kamu sudah sampai rumah?"


"Sudah pa.. Kenapa?"


"Dimana kamu sekarang?" suaranya mulai meninggi.


"Di ru... mah pah."


"Jangan bohong. Pulang sekarang. Candra dan keluarganya ada di rumah kita sekarang. Papa pulang satu jam lagi. Tut tut tut..." telfon di matikan.


"Pulang? Duh apa lagi ini?"


Livi menuju kasir, membayar jus melon yang belum sempat ia minum. Lalu melajukan mobilnya dengan kencang.


Beberapa menit kemudian sampailah Livi dirumahnya. Membuka pintu. Ternganga melihat ada banyak sekali orang yang duduk di ruang tamu itu.


"Sayang kamu sudah sampai?" sapa mamanya Livi.


"Iya ma..." merapatkan giginya, mendekat ke mamanya lalu menarik pelan lengan mamanya menjauh dari para tamu. Semua orang memperhatikan Livi.


"Ayo cepet kamu siap-siap, sore ini juga kamu akan dinikahkan sama laki-laki itu." Menunjuk laki-laki yang duduk dipaling ujung.


" Candra?" menatap mamanya.


"Kamu sudah mengenalnya?"


"Baru tadi siang," berbisik pada mamanya lalu menggandeng tangan mamanya menuju kamar Livi.


" Apa-apain ini ma? Aku menikah sekarang?"


"Iya, ini perintah papa semalam."


"Ya ampun mama tega banget si. Livi masih mau kuliah." Mulai kesal kan


"Sudah menikah juga kan masih bisa kuliah..."


Tok- tok. Seseorang mengetuk pintu kamar Livi. Mamanya mempersilahkan dua orang perias pengantin untuk masuk .


"Maaa???" Livi merengek.


"Mandi dulu sana."

__ADS_1


"Gak mau ma."


"Kalo sampe papa pulang kamu belum siap, habis kamu."


Menatap mamanya sebentar, lalu masuk ke kamar mandi.


Livi pun menuruti perintah mamanya,andi beberapa menit lalu keluar lagi.


Keluar dari kamar mandi dengan cemberut.


"Sini duduk!" ucap mamanya sambil menyeret kursi yang ada di kamar Livi.


Livi duduk. Nurut saja saat di Pakaikan baju pengantin dan dirias.


Livi memejamkan matanya selama proses periasan. Pikirannya kosong tidak bisa berpikir apa-apa.


"Coba buka mata kamu!"


"Ma.." ucap Livi lirih sambil menatap kaca di meja riasnya.


"Ngga papa sayang, menikah itu bukan hal yang buruk. Kamu bisa belajar mencintainya setelah menikah nanti," ucap mamanya menenangkan Livi.


"Kamu sudah selesai?" Tiba-tiba suara pak Faris memecah keheningan.


"Sudah pa. Sayang ayo kita turun!"


Livi terus berdiri tanpa menjawab. Menggandeng lengan mamanya. Mereka berjalan menuju ruang tamu di bawah.


Semua orang yang tadinya saling mengobrol sekarang diam menatap Livi dengan mama papanya.


"Kenapa mereka semua menatapku ma?"


"Kamu kan cantik." Tersenyum pada Livi


Livi lalu menunduk, terlalu malu. Biasanya penampilan Livi memakai celana jeans, dan kaos saja. Memang agak tomboy si. Tapi sekarang, pake kebaya, rambut yang ditata rapi dan satulagi pake lipstik. Aaa Livi hampir pingsan saat pertama kali melihat dirinya dipantulan kaca tadi..


Livi duduk di tengah, masih tertunduk, didampingi mamanya.


Sekarang Candra mendekatinya, lalu duduk di sampingnya.


Candra dan penghulu berjabat tangan.Proses akad berjalan dengan khidmat.


"Sah semua?" ucap penghulu itu.


"Sah." orang-orang yang menyaksikan pun menjawab bersamaan..

__ADS_1


__ADS_2