Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Nama yang sama


__ADS_3

"Kak, aku harus kembali ke kafe. Minggu aku libur, kita bisa ketemu lagi kan?"


"Bisa, mau kakak antar?"


"Aku akan mengajak teman baruku, dia cantik loh kak. Aku sendiri saja, lagian kan dekat."


"Emang kenapa kalau cantik? Ya sudah kakak juga mau kembali ke kantor."


"Siapa tau kak Haris suka hehe."


"Ceritanya mau nyomblangin nih??"


"Hehe, ya sudah, aku pergi dulu. Dah, kak."


"Hati-hati!" seru Haris saat Yura sudah berjalan agak jauh, "Anak itu tidak berubah dari dulu, manjanya, postur tubuhnya, apa tidak bisa gemuk sedikit saja?" Haris tergelak dalam hatinya.


Haris pun masuk kedalam mobilnya lalu pergi berlawanan arah dengan kepergian Yura.


"Yura? Cepet banget?" Rania bangun dari duduknya saat melihat Yura mendekat.


"Cuma ketemu sama temen, lama nggak ketemu. Kebetulan siang ini dia ada waktu. Makasih ya Ran sudah menolongku."


"Sama-sama, lagian kafe sepi dari tadi. Temen kamu laki-laki?" Yura mengangguk.


"Pacar kali ya?"


"Eh bukan, dia kakak kelas aku waktu SMA dulu. Aku lebih menganggapnya kakak si heheh."


"Minggu besok, kita jadi jalan ya?"


"Kalau mas Kevin ngijinin tapi."


"Iyadeh, nanti aku kenalin ke kak Haris. Dia tampan loh."


"Haris????" Rania terkejut.


"Heem, kamu kenapa kaget gitu?"

__ADS_1


"Enggak kok, ya udah nih aku ada orderan salad sayur dua sama jus melon dua. Bungkusin deh."


"Siap."


Setelah pesanan di buatkan, Rania pun mengantarnya. Di perjalanan, Rania teringan kata-kata Yura, dia punya teman namanya Haris.


Namanya mungkin yang sama.


Tak terasa, waktu sudah sore. Yura dan Rania menutup kafe itu, dan Kevin membantunya. Kevin juga menawarkan Rania untuk pulang bareng, tapi Rania menolak dengan alasan bawa motor sendiri.


Lalu Yura tertawa sepertinya mulai ada sesuatu nih mas Kevin sama Rania.


Mereka bertiga menaiki kendaraan masing-masing, Yura dan Rania naik motor dan Kevin naik mobilnya.


"Sampai ketemu besok Yura!" Rania berteriak saat ada pertigaan yang memisahkan mereka.


Yura terlihat tersenyum, lalu membelokkan motornya ke kanan jalan.


Sesampainya di rumah, Rania mendapati Devi sedang belajar "Devi," sapa Rania.


"Mba sudah pulang?"


"Belum mba."


Tiba-tiba ponsel Rania berdering.


"Rania? Kamu sudah di rumah?" suara tante dari sebrang telfon.


"Sudah tan, tante belum mau pulang?"


"Belum, ini Livia malah pendarahan, sekarang di rumah sakit." Rania menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut.


"Kalian baik-baik ya di rumah!" ujar tante April.


"Iya tan, semoga mba Livi cepat membaik."


Telfon di tutup.

__ADS_1


Rania pun pergi ke kamarnya, membaringkan tubuh di ranjang. Mengingat Livi dengan perut buncit dan kebahagiaan di wajahnya saat bersama beberap hari lalu.


Tolong jaga mba Livi juga bayinya ya Allah.


Epilog


Pagi tadi Livi bangun dari tidurnya, agak siangan karena merasa lemas. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Livi berusaha turun dari kamarnya.


"Ma, mama!" seru Livi dari ujung tangga, tapi suaranya sangat lirih.


"Livi? Kenapa kamu?" tante yang melihatnya langsung berlari menaiki tangga, langsung merangkul Livi untuk turun.


"Hati-hati sayang," ucap tante April saat membantu Livi duduk di sofa.


"Ma, perut Livi kenceng banget. Kenapa ya?" Livi menggigit bibirnya menahan sakit.


"Sejak kapan? Duh sakit ya?" mama ikut mengelus perut Livi.


"Baru tadi habis subuh, aduh ma. Sakit banget." Livi menyandarkan tubuhnya disofa.


"Mama telfon candra dulu."


"Halo, Candra. Ini Livi perutnya sakit, kamu bisa pulang?" orang tua mana yang tidak panik melihat anaknya kesakitan.


"Hah Livi, kamu berdarah." Livi membungkuk melihat kaki yang sudah berlumuran darah.


"Aaa ma, gimana ini. Kita kerumah sakit, Livi mau nyetir sendiri." Livi berusaha bangun.


"Jangan! Bahaya, tunggu Candra sebentar lagi pulang."


Livi menangis, menahan sakit sekaligus khawatir dengan bayi di perutnya. Beruntunglah Candra segera datang, kemudian membawanya ke rumah sakit. Dan debay bisa selamat.


"Mba, Devi belum makan dari tadi, "Devi menghampiri Rania di kamarnya.


"Ya ampun Mba lupa dek, maaf ya. Ayo kita makan sekarang. Mba goreng telur dulu ya?"


Rania bergegas ke dapur lalu membuat telur dadar untuk Devi.

__ADS_1


Gara-gara melamun, Rania lupa mengurus Devi.


Malamnya, Rania dan Devi tidur awal, karena rumah sepi tanpa om dan tante.


__ADS_2