Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Qobiltu


__ADS_3

"Apa sudah bisa kita mulai ijab qobul nya?" tanya sang penghulu, pak Ramdan,lelaki berumur kisaran 50 tahun itu seraya tersenyum menatap Diki.


Diki mengangguk, Rania menatap Diki meyakinkan. Semua saksi ikut serta duduk di barisan kursi yang tertata rapi di belakang Rania dan Diki duduk.


Dengan khidmat Diki mengikuti ucapan pak Ramdan dengan sekali tarikan nafas dan sangat lancar.


"Sah? sah?" pak Ramdan menatap para saksi dan mereka menjawab, "sah" bersamaan.


"Rania aku biasaaaa!" teriak Diki sembari membopong tubuh Rania. Spontan saja mata Rania membulat melihat tingkah suaminya itu.


"Ciee," teriakan para tamu menyoraki pengantin baru itu.


"Malu, turunin aku Diki!" wajah Rania merona seketika.


Cup.


Diki mengecup kening Rania, lalu menurunkannya.


Orang tua Diki yaitu Pak Indra dan Ibu Eriyani mendekat, kemudian Rania dan Diki mencium punggung tangan mereka.


Pak Indra terlihat bahagia karena putra sulungnya sudah menikah. Tapi tidak dengan Bu Eri yang menatap Rania dengan sengit serta kedua adik perempuan Diki, Fani dan Sabila.


Ibu mertua dan kedua adik iparnya itu tidak menjabat tangan Rania dengan baik.


"Mungkin mereka akan menerimaku seiring berjalannya waktu," batin Rania masih dengan senyuman manisnya.


Devi dan Livi mendekat, Rania memeluk erat Devi, bergantian dengan Livi.


"Selamat ya Ran, semoga kamu bahagia, rumah tangga kalian tentram. Ya?" Livi memberikan selamat.


"Terimakasih Mba"


"Kamu cantik sekali," puji Livi.


"Mba juga cantik"


"Ehem" Diki berdehem karena dari tadi dia seperti tidak terlihat meskipun berdiri di sebelah Rania.


"Masa gak ada yang muji kegantengan ku ini si?" Diki berlagak sok ganteng. Eh tapi memang ganteng si.


"Oh gantengnya adik sepupuku ini. Aku jadi kesemsem," canda Livi.

__ADS_1


"Ehem." Candra tiba-tiba muncul di belakang Livi dan merangkul pinggangnya.


"Ehe tentu kesemsem sama kamu bang." Livi nyengir, udah kebiasaannya.


"Oh ya? Tadi bilang sepupuku ganteng itu apa?" Candra menggoda Livi.


"Becanda. Ehm sekali lagi selamat ya buat kalian berdua."


"Makasih kakak sepupu," canda Diki.


Mereka tertawa bersama .


Siang menjelang sore, satu persatu tamu berpamitan pulang.


Terakhir Livi dan keluarganya.


Om Faris tampak tidak tega meninggalkan Rania dan Devi. Tapi apa boleh buat, sekarang gadis kecil itu sudah bersuami.


"Nak Diki, om titipkan Rania dan Devi sama kamu. Om tau ini merepotkan tapi om mohon jaga mereka dengan baik."


"Baik om, pasti saya akan jaga Rania dan Devi dengan baik. Tidak perlu khawatir."


Pak Indra dan juga Bu Eri yang mengantarkan mereka hingga pintu keluar hotel.


Setelah mobil berjalan, pak Indra dan Bu Eri kembali masuk ke dalam.


"Pa, Livi perhatiin sepertinya Bu Eri tidak suka dengan Rania. Soalnya dari tadi dia dan dua anak perempuannya menatap sinis terus ke Rania." Ucap Livi mengungkapkan isi hatinya.


"Jangan berkata begitu. Kita tidak boleh berprasangka buruk ke orang lain." Candra langsung saja menyerobot menjawab ucapan Livi.


"Benar Liv, kita kan tidak tau betul sifat asli mereka. Semoga saja bersikap baik pada Rania dan Devi," pak Faris menenangkan.


"Iya pa."


Di dalam hotel.


Diki mengajak Rania dan Devi ke rumah yang sudah pak Indra siapkan untuk mereka tinggali.


Mereka sudah berganti pakaian biasa, dan akan pergi. Rania yang berjalan di belakang dengan menarik koper kecil di tarik lengannya oleh Fani, adik pertama Diki.


"Kenapa dhe?" Rania tersenyum saat menoleh pada Fani.

__ADS_1


"Jangan sok baik, kita tau kalau kamu menikah dengan kak Diki karena pengen kaya kan? Dasar gembel." Bisik Fani mencibir Rania.


Seketika hati Rania merasa perih, seperti ada sayatan luka yang terbuka kembali mendengar perkataan Fani.


Ibu dan Sabila menatap Rania penuh kebencian. Dan tersenyum sinis.


"Maaf aku ti__"


"Rania, ayo sayang."


Tiba-tiba Diki memanggilnya dan ini sangat kebetulan, Rania bisa langsung pergi dari 3 wanita yang membencinya itu.


"Permisi," ucapan terakhir Rania, fani langsung melepas cengkraman nya di lengan Rania dan menjejakkan keras kakinya ke lantai.


Tiga wanita itu kemudian naik ke lantai 6,menemui pak Indra yang sedang mandi.


Tak berapa lama pak Indra dan anak serta istrinya pun pulang ke rumah mereka.


"Sepertinya Devi kelelahan," ujar Diki menoleh ke arah adiknya yang duduk di belakang.


"Iya. Apa lagi ini sudah terlalu petang. Biasanya Devi tidur siang." Rania tersenyum.


"Bagus dong kalau gitu. Nanti kita tidak perlu meninabobok kan Devi dulu," tersenyum manja.


"Hmm tapi Devi tidur sama kita kan? Aku gak tega kalau dia tidur sendirian."


"Rani, nanti aku gimana mau manjain kamu kalau Devi tidur bareng kita?" Diki mengernyitkan alisnya.


"Kasian kan, aku gak tega," wajah Rania memelas.


"Lagian kamar nya sebelahan, boleh ya?" Diki merayu.


"Kasian."


"Ah kamu, nanti kan aku mau__"


Menyeringai, Diki mencubit kecil dagu Rania.


Rania menunduk, perasaanya saat ini sangat kacau.


"Bolehkan aku minta itu nanti?" Diki terus saja menggoda Rania padahal jelas-jelas wajah istrinya itu sudah merah merona menahan malu.

__ADS_1


__ADS_2