
"Livia, dimana sepatu hitam abang yang kemarin?" ucap Candra dengan lembut.
"Ada di bawah kursi bang," teriak livi dari kamar mandi.
"Oh itu." Candra membungkuk lalu mengambil sepatunya di bawah kursi.
Livi pun selesai mandi.
"Abang pulang jam berapa nanti?"
tanya Livi ramah.
"Mungkin sampai sore, soalnya nanti abang mengajar di dua kelas sekaligus."
"Eemmm nanti delivery pedes saja ya?" memasang wajah imutnya.
"Enggak, kamu harus masak," tersenyum pada livi.
"Ya udah... Hati-hati ya bang."
"Kan abang belum sarapan, kok udah ngusir?"
"Hehe kirain abang lupa sarapan," nyengir.
"Jangan bertele tele, cepat ganti baju lalu buatkan abang tumis sosis saja biar cepat."
"Oke," membulatkan ke dua jarinya lalu membuka almari.
"Bang, kemana baju-bajuku?" menatap sinis Candra.
"Itu di almari bajumu semua..."
Livi mengambil satu baju, "Ini kan gamis?" memandangnya dengan heran.
Candra melihat dan menahan tawanya.
"Abang mengganti semua model bajuku?" suaranya meninggi.
"Livi, abang menggantinya semalam. Abang mau livi menutup aurat mulai sekarang, pakai itu cepat."
Dengan cemberut livi memakai baju gamis itu, "Nah pas kan?" Candra memuji.
"Mas... ini bukan selera aku..." memonyongkan bibirnya.
"Dulu aku juga bukan pria idaman kamu kan? Tapi sekarang kamu sudah menganggapku sebagai suami. Begitu juga dengan pakaian itu, lama-lama pasti terbiasa dan suka."
__ADS_1
"Iya deh, livi berjalan sambil menghentak hentakan kakinya."
"Setelah rambut kamu kering pakai juga jilbab ini ya!" Livi menoleh, memandang sehelai kain di tangan Candra dengan warna senada dengan gamis yang dipakainya.
"Aku harus pake jilbab juga bang?" membelalakkan matanya.
"Iya...Ayo sana buat sarapannya dulu," tersenyum licik.
Livi menuju dapur, menghentakkan kakinya keras ke lantai, Candra hanya tersenyum geli melihat tingkah istri tomboynya memakai gamis, meskipun masih belum terima, Candra ingin melihat livi jadi istri yang sholehah, menutup auratnya dan juga patuh padanya.
"Apa si bang Candra ini, nanti pasti di ledekin deh di kampus kalo penampilanku kaya gini," gerutunya di dapur, livi masih menarik narik baju gamisnya.
"Livi cepat ya abang udah telat nih!"
"Iya."
Livi membuka kulkasnya , mengambil sosis dan kecap. Sekarang Livi sudah handal menaklukan dapur, dan Candra pun sudah beneran suka dengan masakan Livi. Walaupun dua minggu yang lalu dia berpura pura selalu bilang enak untuk masakan yang livi buat, kadang asin sekali kadang hambar, dan lama-lama rasanya mulai cocok di mulut Candra.
Livi membawa sepiring sosis tumis ke meja makan, Candra sudah duduk di sana.
"Emmm enak, makasih ya sayang" Candra melahap dan lagi-lagi memuji masakan livi.
Livi tersipu malu meskipun sudah berkali kali di puji oleh suaminya. "Habis sarapan, abang ajarin kamu pakai jilbabnya ya?" Candra menatap Livi dengan penuh cinta.
"Aku bisa bang, nanti aku nonton di bebtube aja. Abang kan udah telat," menyebarkan senyuman manjanya.
"Iya abang sayang."
Hemmm pengantin dadakan itu benar-benar sudah saling jatuh cinta.
Candra pun keluar rumah, di ikuti Livi. Livi bersalaman dengannya, dan Candra melajukan mobilnya menuju sekolah tempat dia mengajar.
Livi masuk ke kamarnya, memandangi dirinya di depan kaca, memakai gamis yang di berikan suaminya.
Livi membuka aplikasi belanja online lalu memilih kaos dan celana jeans seperti yang biasa dia kenakan.
Sambil menunggu baju nya datang, Livi mencuci piring di dapur. Tak berapa lama bel pintu berbunyi.
Livi menghampirinya..
"Kak Livi?" kata kurir yang membawa kotak kecil di tangannya.
"Iya saya Liviana."
"Oh iya ini pesanannya kak, tolong tanda tangan disini!" Kata kurir itu menyerahkan selembaran kertas.
__ADS_1
Livi tanda tangan disitu lalu membawa masuk bajunya.
Livi kegirangan, akhirnya dia bisa pakai baju seperti biasanya.
"Nah ini baru aku suka hehe,"
"Sekarang aku bisa berangkat kuliah," gumamnya kegirangan.
Livi mengemudikan mobilnya menuju kampus, baru saja mobilnya keluar dari garasi tiba-tiba ponselnya berdering.
"Bang Candra?" batinnya menatap ponsel.
"Ha lo bang?" Livi bicara dengan lirih.
"Pulang lah, jangan masuk kuliah!"
"Kenapa bang? Aku harus kuliah."
"Pulang sekarang!" Candra masih bicara lembut.
"Tapi kenapa bang?"
"Abang melarang kamu keluar dengan baju seperti itu."
"Baju yang bagaimana? Kan aku pakai baju dari abang!"
"Pulang sekarang sayang!"
"Bang aku pakai baju dari abang,"
"Oh ya? Coba abang VC kamu ya?"
Livi kebingungan sendiri, dan benar Candra VC. Lama Livi tidak mengangkat VC itu.
"Hehe" Livi tersenyum kecut saat mengangkat VC dari Candra.
"Kamu bohong, dan sekarang kamu harus minta maaf!"
"Oya deh maaf ya bang," memanyunkan bibirnya.
"Baik, sekarang pulang ya adik abang yang manis."
Livi hanya mengangguk, lalu mematikan ponselnya, dan sekarang Livi membelokkan mobilnya menuju rumah lagi.
"Huft apa si abang ini??? Aaaaa sebel banget?!!!!!" gerutu Livi saat sampai di rumahnya..
__ADS_1
~terimakasih readers yang sudah membaca cerita ini, jangan lupa tinggalkan like dan poinnya di bawah, tambah ke vaforit juga ya. Terimakasih kakak-kakak readers semua. Big hug 🤗~