Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Kenapa dengan Livi?


__ADS_3

Selesainya di kelas kuliah pagi, Livi menuju mobilnya, melihat jam tangannya menunjukkan pukul 11.40 wib.


Saat hampir sampai di parkiran kampus, papa nya terlihat sedang berdiri di dekat mobilnya. Bersama seseorang.


"Itu kan papa. Siapa yang bersamanya?" ujar Livia lirih sambil menengok nengok siapa orang yang bersama papa nya, tidak jelas karena terhalang tubuh besar papanya.


Livi mendekat.


"Papa?" sapa Livi.


"Liv, udah selesai?" mengangguk kemudian menatap orang yang di depan papanya itu.


"Oooo mahluk bersarung?" gumamnya begitu terkejut.


"Kenalin, ini anak temen kantor papa. Namanya Candra. Ayo Livi perkenalkan dirimu," ucap om Faris sambil menepuk pelan pundak Livi.


Livi melongo. "Ini pak ustadznya?" bicara lirih.


"Livi?" Laki-laki bersarung itu menyapa Livi duluan.


"Liviana," ujar Livi mengulurkan tangannya pada Candra.


"Maaf" Candra mengatupkan kedua tangannya di dada, tanda tidak mau bersalaman.


Livi menarik tangannya cepat. "Duh malunya" gumamnya lagi.


"Kalian sekampus, masa belum pernah bertemu?" ujar om Faris mencairkan suasana.


"Saya sering berpapasan dengan Livi om," ucap Candra dengan sopan.


"Benarkah? Baik mulai sekarang dekatkan hubungan kalian ya."


"Papa mau ke kantor lagi. Tadi ayahnya Candra menelfon papa untuk mempertemukan kalian. Sekarang kalian sudah bertemu, jadi silahkan lanjutkan perkenalan kalian."


"Baik om"


"Baik pa"


Jawab Livi dan Candra bersamaan.


Pak Faris melajukan mobilnya meninggalkan Livi dan Candra di parkiran.

__ADS_1


Candra tersenyum pada Livi. Livi malah memonyongkan bibirnya, mendekati wajah Candra lalu berbisik.


"Kalo mau mendekatiku, jadilah lelaki seperti tipeku. Apa ini pake sarung, malu-maluin aja." Bisiknya sambil mencolek sarung yang di pakai Candra.


Lalu berlalu, menaiki mobilnya dan meninggalkan Candra yang hanya tersenyum menjawab bisikan Livi.


"Papa.Terimakasih sudah mempertemukan aku dengan pak ustadz yang santuy. Kenapa gak sekalian papa kirim aku ke pondok pesantren! Livi hanya bisa mengumpat dalam hati, meluapkan kekesalannya.


Baru tadi pagi dia menertawakan laki-laki bersarung itu lalu apa sekarang? Laki-laki itu yang mau dijodohin dengannya.


"Sungguh hari yang indah. Hahahaha indahnya hari ini..." Teriak Livi sambil menggigit bibirnya. Kesal.


Livi terus melajukan mobilnya dengan kencang. Ponselnya berbunyi..


"Males.Apri," gumamnya sambil meletakkan ponselnya.


Berdering lagi.


"Halo.Kenapa?" Livi mengangkatnya dan berbicara dengan sangat keras.


"Bisa gak teriak gak si? Emang kamu lagi jadi suporter bola sampe harus teriak-teriak begitu?" Apri ikut-ikutan kesal.


"Ngga papa, maaf ya tadi batre aku low. Jadi obrolan kita terputus deh"


"Hmmmm," jawab Livi cuek


"Kenapa Liv? Keliatannya lagi marah."


"Emang harus ya jaman sekarang itu di jodoh-jodohin?" tanyanya dengan suara agak serak.


"Siapa yang di jodohin?" sontak Apri terkejut.


"Aku."


"Ha?" teriak Apri.


"Apri kenapa teriak, sakit nih telingaku!" Livi pun berteriak.


"Kamu juga teriak ngapain ngomel-ngomel"


"Udah deh matiin aja. Sebel banget si!" Livi hampir mematikan ponselnya.

__ADS_1


"Eee jangan- jangan, tunggu jangan dimatiin dulu," Suara Apri sudah pelan lagi.


"Jadi mau cerita Haris dan Rania gak?" Livi memonyongkan bibirnya.


"Iya iya ni aku ceritain ya."


"Jangan putus-putus lagi!"


"Iya bawel.Eh kamu duluan deh cerita katanya mau di jodohin?"


"Gak.Males.Kamu aja yang cerita!"


"Tapi jangan ngambek lagi lo," jurus rayuan Apri mulai beraksi. Haha


"Heem." Livi memberhentikan mobilnya di sebuah kafe. Lalu melanjutkan obrolan dengan Apri.


"Tadi sampai mana ya?" tanya Apri.


"Kalo gak mau cerita, matiin aja! Gak usah basa- basi!" Livi mulai kesal lagi kan.


"Ehehe jangan, Ya ni aku mulai. Om Faisal memarahi Haris dan mengatai Rania gadis miskinlah, gadis kampunganlah, trus Rania menangis, pergi dari rumah Haris. Haris bertengkar dengan papanya. Saat Rania hampir naik angkutan umum tiba-tiba om Faisal menghampiri Rania bersama Haris. Bilang kalo sudah merestui hubungan Haris dan Rania. Tapi Rania tidak mau, terlanjur kecewa katanya. Rania pulang ke desanya, dan malamnya Haris dijodohin dengan anak temen kantor om Faisal. Begitu Livi cerita singkatnya." Apri menghela nafas panjang.


"Ya ampun kasian banget. Rania baru pertama kalinya jatuh cinta lo, gimana kalo nanti dia trauma?" Livi sangat serius menanggapi cerita Apri.


"Ya aku aja sampe hampir sesak nafas lihat drama mereka berdua, sakit bgt tau gak kalo aja kamu kemarin nyaksiin."


"Dengerin ceritanya aja aku nyesek Pri."


"Mau gimana lagi. Belum jodoh kali."


"Heem..." Livi terisak.


"Jangan nangis lah."


"Siapa yang nangis?"


"Ya kamulah. Emangnya aku gak tau apa. Sekarang ceritain gimana ceritanya kamu di jodohin?" Apri tergelak kecil.


"Gak mau."


"Curang," jawab Apri

__ADS_1


__ADS_2