
"Rani?" sapa Diki melambaikan tangannya, melihat Rania yang celingukan mencari seseorang.
Rania menebarkan senyum indahnya, berjalan mendekati Diki.
Diki meraih tangan Rania setelah dekat dengannya, menggandeng nya lalu menarik kursi untuk di duduki Rania.
Rania duduk, tersenyum manis menatap Diki. Sungguh dinner yang romantis.
"Kamu romantis juga ya," ucap Rania malu-malu.
"Untuk gadis spesial, aku harus siapin yang spesial juga kan?"
Rania merona, berusaha menahan jantungnya agar terkontrol degupannya.
"Rania, aku pengen bilang sesuatu malam ini," ucapnya sambil menggenggam tangan Rania erat.
"Apa? " tanya Rania polos.
"Jadilah kekasihku," ucap Diki lagi semakin mengeratkan genggaman tangannya.
" Serius?"
"Ya."
wajah mereka berdua sama-sama tegang.
"hmmmm?" dehem Diki saat Rania menunduk.
"Bukannya lebih nyaman berteman seperti ini Diki?" Rania menatap Diki.
"Tapi aku ingin lebih serius,"
Rania masih terdiam.
flasback on: Setelah kejadian Rania pingsan, Diki terus gencar mendekati Rania. Rania pun semakin lama semakin nyaman dan mulai melupakan Haris.
Mereka sering jalan berdua, Diki juga bersikap baik pada Devi, dan Devi tidak lagi menanyakan tentang Haris.
Diki sendiri mulai ada rasa pada Rania.
__ADS_1
Hingga empat bulan berjalan mereka menjalin pertemanan, sekarang Diki ingin dia menjadi kekasihnya.
flashback off.
"Jawab Ran. Kalau kamu gak bisa pacaran,aku siap kita langsung menikah."
"Dik, apa yang kamu bicarakan?" Diki merasakan tangan Rania mulai dingin.
"Aku melamarmu sekarang. Selama ini kita udah saling mengenal, saling nyaman, apa lagi? Aku ingin sekali bersama sama kamu terus." Diki terus menggenggam tangan Rania.
"Diki apa tidak terlalu mendadak?" Rania melirik orang2 yang duduk bersebelahan.
"Aku tunggu jawaban kamu." Diki bertepuk tangan dua kali lalu empat koki berjalan berurutan membawa nampan berisikan paket dinner spesial. Diki sudah menyiapkannya seminggu yang lalu.
Para koki itu menaruh isi nampannya perlahan, menata sedemikian rupa hingga hampir penuh meja itu.
Setelah nya empat koki itu pergi, berjalan mundur membungkukkan badan. Diki kembali menatap Rania, menarik sebelah bibirnya, dan senyum itu yang selalu membuat Rania klepek-klepek.
"Jadi?"
"Aku... Aaaa? Apa orang tuamu tau tentang ini?" Rania benar-benar takut kejadian lalu terulang. Meskipun sudah biasa Diki membawanya ke rumah dan orang tua Diki selalu ramah dengannya.
"Pertanyaan itu tidak penting, dan kamu pasti tau jawabannya. Baiklah kalau kamu belum siap, aku tunggu jawaban kamu besok."
Diki tau gadis di depannya ini sedang grogi, Diki tersenyum menunduk. Bagaimana Rania bisa sepolos ini? batinnya.
Diki melepas genggamannya pada tangan Rania. Rania menarik cepat tangannya itu.
Diki mengambil cake di sebuah piring kecil lalu memotong cake itu dengan garpu. Mendekatkan ke mulut Rania.
Rania menatap Diki, masih dengan detakan jantung yang kacau.
"Enak?" tanya Diki setelah Rania memakan cake itu.
Rania tersenyum, kemudian mengambil garpu di tangan Diki, memotongnya lalu menyuapi Diki seperti yang Diki lakukan padanya.
"Terimakasih Diki," ucap Rania canggung.
Diki mengangguk. "Aku berharap bisa masuk dalam hatimu. Aku mencintai kamu Rania." Diki menatap Rania serius.
__ADS_1
Rania hanya bisa memberikan senyumannya. Lalu apa lagi?
Bahkan bibirnya saja terasa berat di ajak bicara.
"Diki, aku mau kita menikah." Kata-kata itu keluar begitu saja entah sadar atau tidak.
"Aaaaaaaa. Rania..." Diki mengusap wajahnya, bersyukur lalu memeluk Rania.
"Terimakasih, terimakasih Rani." Diki mencium tangan Rania berulang kali.
"Apa yang baru aku katakan? Hei mulut kenapa lancang sekali?" batin Rania menutup mulutnya dan masih terkejut menatap tingkah Diki.
"Ee Diki, bangun, malu di liatin orang." Rania salah tingkah sendiri menoleh noleh ke orang yang dekat dengan meja dinnernya.
"Aku gak peduli. Terimakasih terimakasih sayang." Diki masih saja bersimpuh dan menciumi tangan Rania.
"Diki..." wajah canggung Rania amat manis menurut Diki.
Setelah puas dengan unek-unek hatinya, Diki duduk lagi, masih memandang Rania dengan bahagianya.
"Apa melihatku seperti itu?" tanya Rania dengan wajah meronanya.
"Kamu cantik..."
"Ishhhh..." Rania mengalihkan kecanggungan dengan meminum jus di gelasnya.
"Kita makan, lalu pulang ya Dik? Kasian Devi sendirian."
"Iya... Devi tunggu aku jadi kakak ipar mu," teriak Diki lagi-lagi membuat Rania salah tingkah.
"Diki..."
"Hehe terlalu bahagia. Apa kamu tidak bahagia?" Diki masih setia dengan senyumannya.
"A aaku bahagia, aku juga bahagia Dik," ucapnya terbata.
Dinner itu berakhir setelah makanan mereka habis. Diki mengantar Rania ke rumahnya, tidak lupa membungkuskan makanan untuk Devi.
Dua anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu tidak bisa tidur semalaman. Melanjutkan obrolan lewat pesan WA hingga sang fajar tiba.
__ADS_1
Kalian pasti merasakan juga kan gimana bahagianya ketika baru di tembak oleh orang yang di cintai?
Atau saat kalian di lamar oleh calon suami? Nah seperti itulah perasaan Rania saat ini..