Biarlah Aku Berdosa

Biarlah Aku Berdosa
Pernikahan Haris dan Hanin


__ADS_3

Seminggu setelah bertunangan, tepat hari ini Haris dan Hanin melangsungkan akad nikah. Semuanya dipersiapkan dengan sangat singkat tapi tetap mewah. Pernikahan mereka di liput oleh berbagai chanel TV.


"Ran, so sweet banget ya mereka..." ucap Novi yang sedang menatap televisi di depannya.


Rania yang sedari tadi sibuk menyiapkan meja kafe pun menoleh, "Apa si pagi-pagi udah nonton TV, bersih-bersih dulu lah Nov." Rania masih belum memperhatikan acara TV itu.


Novi sendiri masih tetap menatap TV sambil senyum-senyum, "Aaa aku bisa betah di rumah kalo punya suami seganteng dia," gumam Novi.


"Novi itu pernikahan siapa si?" Rania mulai ingin tau tapi belum melihat TV.


"Itu yang seminggu lalu tunangan masuk TV juga. Haris dan Hanin."


DEG?!!


Rania mulai berjalan ke arah TV, matanya membulat saat melihat yang sedang menikah itu Haris.


"Tampannya..." Novi masih mabuk karena ketampanan Haris.


"Oh mereka, serasi banget ya Nov?" tersenyum tipis.


"Heem," manggut-manggut tersenyum sendiri.


Rania yang tak kuasa menahan air matanya langsung berlari ke kamar mandi.


"Apa lagi yang kamu harapkan dari lelaki yang sudah beristri Rania? Kamu mau seperti ini terus?" Rania bertanya jawab dengan dirinya sendiri.


Pak Arga yang baru saja datang ke kafe dan ingin BAK pun mendengar isak tangis Rania.


"Siapa di dalam?" tanya pak Arga sambil mengetuk pintu.


Rania keluar setelah membasuh wajahnya.


"Kenapa Rania? Mata kamu sembab?"


"Saya ga papa pak... Permisi..." melangkah meninggalkan pak Arga.


"Hemm dasar remaja," gumam-gumam sendiri.


Rania melihat Novi sudah mengerjakan tugasnya, dan TV sudah di matikan.


"Kok TV nya di matiin?"


"Mati aku ketahuan pak Arga tadi, kamu si gak bilang-bilang kalo pak Arga datang," cemberut pada Rania.

__ADS_1


"Kan aku dari toilet."


"Padahal lagi seru banget acaranya" cemberut dengan masih mengepel lantai.


Rania merasa lega karena TV nya mati, jadi tidak harus melihat atau mendengar tentang Haris lagi.


Kembali ke acara pernikahan..


Semua tamu undangan sangat puas dengan pelayanan di dalam pesta itu. Semua fasilitas yang nyaman dan juga jamuan makanan yang terlihat menggoda perut.


"Hai selamat ya bro. Wah senengnya akhirnya nikah." Apri yang baru saja datang itu langsung memeluk Haris.


"Kemana aja baru dateng?" Hanin menyapa Apri sok akrab.


"Biasa urusan kantor, hehe, makan yuk lapar nih." Apri ketawa-ketawa gak punya malu.


Hanin pun tertawa melihat tingkah Apri.


Haris tidak menunjukkan ekspresi bahagia sedikitpun. Apri memaklumi karena tau apa yang Haris pikirkan, tapi tidak mau mengungkapkannya di depan Hanin.


"Sayang kamu mau minum?" ujar Hanin ingin membuat Haris memperhatikannya.


"Enggak," menoleh sekilas.


Haris hanya mengangguk.


Setelah Hanin pergi, Haris menghampiri Apri yang sedang memilih makanan.


"Pri kamu sudah menghubungi Rania?"


tanya Haris pelan di telinga Apri.


"Sudah, " jawabnya tidak berpaling sedikitpun dari makanan-makanan itu.


"Apa yang kamu tanyakan?"


"Aku belum sempat menanyakan apapun, karena kemarin aku sibuk, begitu juga Rania," jawab Apri dengan wajah datar.


"Arghhh?!" Haris mengacak rambutnya.


"Kenapa?" Apri menoleh ke Haris dengan membawa piring penuh makanan.


"Aku ingin tau kabarnya."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Karena aku kangen dia..."


"Kenapa...?"


"Aku pukul ni ya!" Haris kesal.


"Ya maksud aku kenapa kamu ingin tau kabarnya dan kangen sama dia?"


"Kamu apa-apaan si?" sudah mendekati Apri, menantangnya.


"Kamu tidak perlu bertanya kabarnya."


"Kamu kok nyolot gitu?"


"Kamu gak punya pikiran? Udah janji-janji mau nikahin tapi tiba-tiba nikahnya sama wanita lain. Jangan sebodoh itu kamu tidak tau gimana kabar Rania!" Apri benar-benar kesal.


"Apa Rania mengatakan cemburu padamu?" masih penasaran.


"Ris, jangan bodoh begitulah. Jelas Rania kesakitan menahan perasaannya, kamu sudah menyakitinya."


"Kamu kan playboy, gimana caranya meminta maaf yang benar? Aku ingin meminta maaf padanya, kamu tau sendiri pernikahan ini bukan mau ku."


"Aku gak pernah nyakitin wanita seperti yang kamu lakukan, jadi aku gak ada solusi" Apri duduk dan mulai makan.


"Jujur ya Pri, awalnya aku memang ingin menjadikan Rania benteng saja, untuk melindungiku dari perjodohan ini, tapi setelah papa menghinanya seperti itu setiap jam menit detik aku selalu memikirkan perasaan Rania. Kamu juga melihat gimana usahaku meminta maaf padanya waktu itu." Haris menjelaskan dengan panjang lebar hingga terlihat urat-uratnya .


Dan apri hanya manggut-manggut saja sambil masih menikmati makanan di depannya.


Haris geleng-geleng melihat tingkah Apri. Sepertinya laki-laki itu tidak mau peduli dengan masalah Haris.


"Sayang..." Hanin menghampiri Haris.


Memeluk lengannya, dan menyandarkan kepalanya di dada Haris.


"Han, tolong jaga sikap kamu." Haris menepis tangan Hanin .


"Kenapa? Kita kan sudah menikah..."


Haris tetap tidak tertarik dengan kecantikan Hanin. Tetap menepis tangan Hanin.


Apri hanya menoleh dan melanjutkan makan lagi.

__ADS_1


"Bener-bener ya ni bocah?!" umpatnya dihati, kesal melihat tingkah Apri dan Hanin.


__ADS_2