
"Sory..." Novi masih meringis berharap Rania melepas cubitannya.
"Hehe..." Rania malah salah tingkah, memandang Novi dan Diki bergantian.
"Om Arga-nya nggak datang?" tanya Diki.
"Belum.Biasanya si agak siang," jawab Novi.
"Kamu kenal Pak Arga?" Rania penasaran.
"Kan Om Arga ini omnya aku," jelas Diki.
"Oh gitu." Rania tersenyum lagi.
Obrolan mereka berlangsung lama, dan setelah pak Arga datang, Diki justru berpamitan pergi.
"Kenapa mau pergi Dik?" tanya pak Arga.
"Aku mau ke rumah dulu om, soalnya udah tiga hari aku gak pulang."
"Ya udah hati-hati ya."
"Baik, permisi ya... Bye Ran," melambaikan tangannya dan senyum dengan manisnya.
"Kalau kamu suka, pepet terus ya, Rania ini gadis baik," bisik pak Arga pada Diki saat berjabat tangan.
"Oke," bisik Diki membalas.
Diki mengerlingkan sebelah matanya pada Rania sebelum keluar dari kafe. Rania pun tertunduk malu. Pak Arga dan Novi juga tertawa saat menatap wajah Rania yang merona.
"Aaa cie,cie yang jadi target pdkt," ejek Novi.
"Gak sadar diri banget si." Rania balas mengejek, karena memang Novi sendiri jomblo.
"Mulai berani nih," Novi tertawa kecil.
__ADS_1
Rania pun tidak menanggapinya lagi, lalu duduk sambil menunggu ada pelanggan yang makan atau minum di kafe. Novi terlihat masih sibuk menata gelas dan piring di samping westafle.
Hari menjelang siang, satu persatu orang mulai berdatangan, Rania dan Novi mulai di sibukkan dengan pesanan mereka.
_____________________________________
Hingga tengah hari tiba kafe semakin rame. Novi dan Rania tidak sempat beristirahat. Tapi mereka tetap sigap membuatkan pesanan orang-orang karena sudah terbiasa.
Akhirnya jam kerja selesai, pukul 04.30 menit mereka membereskan dan membersihkan kafe. Setelah semua beres mereka bersamaan keluar kafe dan menaiki angkutan umum dengan tujuan yang sama karena rumah mereke searah.
Rania mengambil ponselnya di tas, lampu ponsel itu terus berkedip, Rania tau sejak tengah hari tadi tapi dia belum sempat membukanya.
"Rania, pulang kerja nanti aku jemput ya?" pesan dari Diki.
"Nggak usah, ini aku lagi di jalan mau pulang, maaf baru sempat membalas."
Rania menunggu balasan lagi di ponselnya sambil membuka pesan lain.
"Rania, aku Haris, maaf telah membuat mu kecewa. Maaf juga sudah meninggalkanmu."
Novi yang sedari tadi memainkan ponselnya terus kaget. "Rania kamu kenapa? Rania?" Novi gelagapan.
Ada empat orang lain di dalam angkutan itu, mereka semua panik dan menggoyang goyangkan tubuh Rania. Kemudian salah satu menyuruh sopir untuk membawa Rania ke klinik terdekat.
"Rania bangun..." Novi masih berusaha membangunkan Rania, dengan kepanikan.
Beberapa waktu kemudian, sampailah mereka di klinik kasih sayang, lumayan dekat dengan rumah Rania.
Dua orang laki-laki di angkutan itu membopong Rania. membawanya masuk klinik, seorang perawat langsung menunjukkan kamar pemeriksaan. Di tidurkan Rania di tempat tidur kecil klinik, lalu dokter yang sedang duduk di meja kerjanya langsung berdiri. Perawat itu menyuruh bapak-bapak untuk keluar. Setelah membayar angkotnya, Novi menghampiri Rania yang sedang di periksa.
"Bagaimana keadaan teman saya dok?" tanya Novi panik.
"Mba ini kelelahan, telat makan juga, dan stres," Jawab dokter dengan tenangnya lalu menghembuskan nafas panjang.
"Tapi tidak apa-apa 'kan dok?" mereka kini sudah duduk berhadapan.
__ADS_1
"Tidak papa, hanya perlu istirahat lalu menjaga pola makan. Ini resep obatnya, bisa di tebus nanti setelah mba itu bangun," jelas dokter dengan ramah.
"Terimakasih, apa dia akan lama pingsannya dok?" Novi sangat khawatir.
"Tidak.Dia hanya syok saja.Sebelumnya pa yang telah terjadi kalau boleh tau?" Dokter perempuan itu terlihat ramah.
"Saya kurang tau, kita sedang naik angkot dan memainkan ponsel masing-masing ,tiba-tiba dia pingsan," jelas Novi.
"Dia belum bersuami kan?"
"Belum..." Novi menggelengkan kepalanya.
"Biasanya remaja seperti kalian sangat rentan stres, bisa karena keluarga, dari teman-temannya atau dari pacar. Nah pacar ini yang paling tinggi pengaruhnya terhadap emosional seseorang."
"Apa Rania punya pacar? " gumam-gumam sendiri."
"E maaf dok, tapi..."
"Mas Haris, jangan pergi mas," tiba-tiba ucapan Novi terhenti saat mendengar ucapan Rania yang lirih .
Novi langsung menghampiri Rania.
Menggenggam tangannya .
"Rania?"
"Mas Haris, aku kesakitan disini. Tolong kembali."
"Rani kamu mengigau? Siapa Haris? Rania bangun..." Novi panik lagi.
Rania masih menutup matanya, dan sebutir air mata menetes dari ujung matanya.
"Rania bangun..."
"Sudah biarkan saja," ucap dokter menenangkan Novi.
__ADS_1
Lalu Novi dan bu dokter duduk kembali. Sesekali Rania terisak, Novi bisa merasakan betapa sesaknya isakan itu karena Novi pernah putus cinta..