
Ina terlalu larut dalam kesenangannya saat kemudian tiba-tiba datang sebuah pesan dari Azam, isinya berupa foto riwayat percakapan mereka. Seketika matanya membulat ketika melihat apa yang dikirimnya. Kapan dia mengirim itu? Ina dari tadi kan sibuk mengerjakan tugas, ia juga tidak ngelindur seperti dulu. Tidak mungkin pesan itu terkirim sendiri. Hanya ada satu orang yang patut dicurigai, siapa lagi kalau bukan tetehnya?
Ina berteriak kesal, "Teh Ani nyebelin banget sih!" Tapi kemudian ia kena marah mamanya. "Ina berisik! Jangan teriak-teriak, udah malam!"
Ina pun berakhir dengan menelan kembali kemarahannya dan berjanji akan membalas dendam pada tetehnya besok. Ina kemudian mulai mengetik balasan untuk Azam.
Maaf itu bukan aku, tapi Teh Ani yang lagi iseng. Nyebelin banget, deh!
Ina kemudian berusaha menyelesaikan tugasnya secepat mungkin, dia tidak peduli lagi benar atau salah, yang penting tugasnya selesai karena hanya tinggal 1 soal. Setelah selesai, Ini segera membereskan bukunya dan meletakkannya di meja belajar di kamar. Ia merebahkan diri di atas kasur, lalu fokus pada ponselnya.
Pesan dari Azam datang 10 menit kemudian. Entah sedang apa cowok itu sehingga membalas pesannya sangat lama.
Oh kirain kamu, emang kamu nggak mau gitu aku panggil sayang?
MAU. MAU BANGET!
__ADS_1
Ina ingin menjawab dengan itu, tapi urung, ia lebih memilih menghapus lagi ketikannya. Ina harus jaim di depan Azam, meskipun sebenarnya, sebelum-sebelumnya imejnya sudah hancur di depan Azam. Cowok itu terlalu sering menjahilinya sehingga Ia seringkali marah-marah dan menghancurkan imejnya sendiri.
Yakin gak mau aku panggil sayang?
Entah kenapa Ina merasa Azam sedang mengolok-olok dirinya, dan kalau ia balas, ia pasti jadi bahan olok-olokan cowok itu, lagi. Ia pun memutuskan untuk tidak membalas pesan Azam dan tidur saja. Dia juga sedang malas berbohong karena sebenarnya ingin sekali dipanggil sayang oleh Azam, tapi kalau dia kasih tahu, kesannya kok ngenes amat, ya. Masa dia harus bilang dulu kalau mau dipanggil sayang? Jadi pilihan terbaiknya adalah tidur, lupakan, dan besok bangun dengan pikiran yang lebih ceria. Tidak usah memusingkan panggilan sayang lagi, toh selama mereka pacaran enggak ada masalah dengan hanya saling memanggil nama. Mereka masih bisa saling berkomunikasi dengan lancar.
Konyolnya, dua puluh menit kemudian, pesan dari Azam datang lagi. Ina yakin Azam tahu ia belum tidur dan sengaja meledeknya.
Selamat tidur, Sayang.
Semoga kamu mimpi indah.
Pesan kedua dari Azam semakin membuat Ina mabuk kepayang.
Bersama Genderuwo.
__ADS_1
Pesan ketiga Azam berhasil menghancurkan seluruh khayalan manis Ina. Sekarang gadis itu ingin mencabik-cabik daging Azam dengan gigi serigalanya. Kenapa cowok itu pandai sekali menaikan harapan Ina dan menjatuhkannya ke dasar jurang? Ina ingin menangis! Kenapa ia bisa suka pada cowok semacam Azam? Ina rasanya ingin berteriak, "Kembalikan perasaanku!"
Ina semakin kesal saat pesan dari Azam kembali datang.
:))
Hanya emot senyum, tapi berhasil memporak-porandakan pertahanan kekesalannya. Ia pun tanpa babibu lagi segera men-dial nomor Azam. Cowok itu baru mengangkatnya pada dering ketiga. Tanpa mengucapkan salam, Ina langsung mengungkapkan isi hatinya sepenuh hati.
"Azam kmvrt! Mati aja sana!"
Terdengar kekehan cowok itu sebelum kalimat manis yang penuh dengan nada ejekan darinya mengudara.
"Love You too, Sayang!"
Ina sama sekali tidak senang mendengarnya, terutama ketika ia bisa mendengar suara tawa keras cowok itu. Ia jadi menyesal menelepon, tahu begini lebih baik Ina tidur saja dari tadi.
__ADS_1