Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#4


__ADS_3

Berbeda dengan bayangan Ina, ternyata kencannya tidak menjadi sebuah isu yang menghebohkan. Walau ada beberapa anak sekolah yang melihatnya hari itu, tapi mereka tidak menyebarkannya. Entah ia harus senang atau sedih dengan kenyataan ini.


Sudah dua hari Ina memblokir nomor Azam, sekarang yang gadis itu lakukan hanya membaca setiap waktu. Bahkan ketika pelajaran sedang berlangsung pun ia tidak terlalu fokus, lebih memilih untuk membaca novel saja. Teman-temannya sudah maklum, jika Ina sudah masuk ke mode membaca, gadis itu akan mengisolasi diri dan tidak akan terganggu oleh kejadian apapun yang ada di sekitar.


Ina sudah selesai membaca cerita Kak Ansar Siri, menurutnya Blue Attack cukup menarik. Ia jadi senyum-senyum sendiri saat membayangkan Nolan. Apalagi jika Olife sudah bertindak, kocak. Sekarang gadis itu sedang asyik membaca cerita berjudul Noisy Girl yang humornya segar. Ia suka dengan gombalan-gombalan Karin pada Ardi, otaknya mulai berpikir apa yang akan terjadi jika ia menggunakan gombalan-gombalan itu pada Azam. Ah, paling juga dicuekin, batinnya keki.


Ina jadi penasaran, sebenarnya sebebal apa sosok pacarnya itu? Apa ia harus memberinya olahan dari tanaman Putri Malu agar Azam bisa peka? Inginnya sih, ia juga bisa seagresif Karin, tapi apalah daya mental Ina tidak sekuat itu. Ia takut, alih-alih bisa romantisan, bagaimana jika Azam menyuruhnya untuk menggali kuburan dan mati saja karena kesal? Ih, membayangkannya saja Ina langsung mulas.


"Oy, Na!" Sebuah spidol meluncur mulus mengenai jidat seluas lapangan sepak bola milik Ina, membuatnya mengaduh dan tidak sengaja menjatuhkan ponsel. Ponselnya pun menghantam lantai dengan batrai dan casingnya tercerai berai.


Ina menggeram marah, lalu menatap tajam si pelaku yang saat ini sedang bersiul dan memalingkan wajah, merasa tidak bersalah. Sembari mendengkus kesal, Ina segera memungut satu per satu bagian ponselnya, menyatukannya kembali dan berharap benda persegi kesayangannya itu masih bisa menyala. Kalau sampai tidak bisa digunakan lagi matilah ia. Ayahnya tidak akan mau membelikan ponsel baru lagi karena Ina baru menggantinya satu tahun yang lalu.


"Apaan?" balas Ina sewot. Gadis itu masih mencoba menghidupkan ponsel, berdecak kesal karena loading yang lama.


"Kamu mau jadi petugas apa?" tanya Soni ikutan kesal.

__ADS_1


"Petugas apaan?" Ina masih belum sadar apa yang sedang didiskusikan oleh teman-teman sekelasnya. Ia segera melihat ke depan dan menatap papan tulis dengan alis bertaut. Ah, ternyata minggu besok giliran kelasnya untuk menjadi petugas upacara. "Paduan suara."


"Lah, sudah kuduga." Soni berdecak pelan. "Jangan jadi paduan suara dong, kita kekurangan orang buat tugas yang lain."


Wajah Ina mulai berubah, tiba-tiba saja gadis itu merasa kesal. "Gak mau, giliran anak cowok, dong! Bosen cewek mulu yang jadi petugas! Dari kelas X kalian gak pernah mau jadi petugas kecuali si Maman!"


Protesan Ina segera mendapat persetujuan, gadis-gadis yang sudah bosan menjadi petugas upacara segera angkat suara. Membuat diskusi yang tadinya berjalan damai mulai memanas. Sementara si pencetus protes pertama sibuk kembali dengan ponsel yang untungnya masih bisa hidup.


"Heh, semester kemarin udah pernah ya cewek semua yang jadi petugas, sekarang giliran cowok semua yang jadi petugas!"


"Iya, pemimpin upacaranya aja cewek! Dasar pada banci kalian semua!"


Ina tidak peduli akan suasana kelas yang benar-benar panas. Sampai-sampai Pak Yudi, guru yang selalu mendisiplinkan siswa-siswinya masuk ke dalam kelas. Mau tidak mau Ina harus berhenti membaca dan meletakan ponsel ke dalam laci meja.


"Ada apa ini? Kalian berisik sekali," omel Pak Yudi tidak senang, "Suara kalian sampai terdengar ke mushola bawah."

__ADS_1


Soni segera sigap menjawab, "Kami sedang berdiskusi membagi tugas untuk upacara hari Senin, Pak."


Pak Yudi mengerutkan dahi, menatap papan tulis dan seluruh kelas heran. "Terus kenapa berisik banget?"


Sebelum Soni membuka mulut, Ayu segera angkat suara. "Begini, Pak, kami hanya ...."


Ayu menjelaskan bahwa anak perempuan ingin keadilan karena setiap kelas XI MIA 1 mendapat giliran menjadi petugas upacara, selalu anak perempuan yang bertugas. Ia ingin sekali-sekali anak laki-laki yang lain menjadi petugas juga.


Pak Yudi jelas geram dan berakhir dengan beliau turun tangan untuk menujuk petugas untuk upacara, semuanya terdiri dari laki-laki. Soni menjadi pembaca Undang-Undang Dasar 1945, Maman jadi pemimpin upacara, Awan pembaca visi misi sekolah, pokoknya semua anak laki-laki menjadi petugas. Anak-anak perempuan merdeka untuk menjadi paduan suara.


Ketika diskusi selesai, Ina segera mengangkat tangan. "Pak, bagaimana kalau mereka malah sengaja kesiangan atau enggak masuk?" Gadis itu jelas tahu akal bulus teman-temannya yang lebih memilih kesiangan daripada menjadi petugas upacara.


Pak Yudi kembali berdecak, tidak mengerti kenapa untuk menjadi petugas upacara saja mereka susah sekali. Padahal kan ini bisa menjadi pengalaman yang bisa dikenang dan diceritakan sampai ke anak cucu.


"Tenang aja, nanti kalau mereka bolos denda aja Rp. 50.000, kalau sengaja kesiangan mereka bakal bapak suruh bersihin WC yang di dekat kantin."

__ADS_1


Anak-anak perempuan tersenyum puas, sekarang tidak ada lagi alasan untuk para pemalas yang hobi bolos itu mengelak dari tugas menjadi petugas upacara.


__ADS_2