
Ina mengendus udara, kenapa rasanya ada bau-bau mengerikan yang bertebaran? Bau apa ini? Bau kemenyan? Atau bau ketek Teh Ani?
Hidung gadis itu kembang kempis, sampai akhirnya ia bisa menemukan sumber tersangka dari bau menyengat yang teramat menyakiti hidung imut miliknya. Semakin ia mengendus, semakin dekat indra penciumnya dengan sumber bau tersebut, semakin mengernyit pula keningnya. Karena ternyata ... bau ini berasal dari keteknya sendiri.
Asem! Ternyata ia sendiri sumber dari polusi udara ini. Bikin malu saja.
Sepertinya bukan hanya ia yang mencium bau mengerikan ini, tetapi Ani juga. Raut gadis itu tidak baik, seolah baru saja terkena racun nenek sihir yang mencampurkan bangkai tikus, kaus kaki Eni, kotoran kecoa, kaki kelabang, dan berbagai jenis bahan unik lain untuk membuat ramuan sihirnya. Hidung yang ukurannya sama mini dengan milik Ina kembang kempis, sebelum kemudian sebuah jeritan bak artis-artis di sinetron saat menemukan suaminya selingkuh terdengar, benar-benar tidak merdu dan membuat telinga berdengung.
"Ina! Kamu bau asem! Mandi sana! Buruan!" titahnya bagai seorang putri raja yang menyuruh menghukum pelayan setianya demi melindungi diri dari intrik kejam di dalam istana.
__ADS_1
Ina mendengkus kesal, lalu segera bangkit berdiri sembari berkacak pinggang. "Sadar diri, Teteh juga belum mandi!" sinisnya sebal. Walau ketek Ani tak sebau keteknya karena menggunakan Rexnoza, tetap saja pasti bau juga walau sedikit.
Mengambil tas kesayanyannya, Ina berniat masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk. Belum sampai tiga langkah kakinya bergerak, Ani mendahuluinya, berlari dengan kecepatan bagai Valentino Rossi yang sedang melewati tikungan melawan saingan dengan nama-nama besar lainnya.
Ina berdecak sebal saat Ani berteriak sambil berlari, "Aku duluan mandinya!"
Ya, toilet di rumah ini memang hanya ada satu, salah satu alasan untuk rebutan di pagi hari dan berakhir dengan debat tak berkesudahan antara dirinya dan sang kakak.
Ana sudah menghilang entah ke mana, paling pergi menemui ibu yang entah sedang melakukan apa.
__ADS_1
Mencari posisi nyaman dengan menyandarkan punggung pada sandaran sofa, gadis itu menyiapkan mental sambil perlahan mulai membuka sandi ponsel. Ternyata benar-benar ada pesan dari Azam!
Dengan semangat 45 gadis itu segera membuka pesannya dan akhirnya hanya bisa mendesah kecewa ketika menemukan tanda titik dua dan tanda kurung di sana. Emot senyum. Sungguh sangat ketinggalan zaman. Padahal di WA banyak emoji lain yang bisa digunakan. Ternyata Azam punya sisi seperti ini juga.
Sekarang gadis itu mulai bingung, jika Azam hanya membalas dengan emot senyum seperti sekarang, APA YANG HARUS IA BALAS?
Dasar pacar kmvrt pemati obrolan! Balas apa kek gitu yang bisa bikin aku seneng, batin Ina meraung menyedihkan. Azam benar-benar menyebalkan! Padahal sudah satu minggu mereka tidak berkirim pesan, cowok itu ternyata tidak berubah. Padahal ia sedikit berharap si cowok patung itu bisa berbasa-basi walau sedikit. Menanyakan apa kek, kabar, sudah makan atau belum, sedang apa, atau pertanyaan remeh lainnya. Apa sesulit itu membuat Azam menjadi terbuka padanya?
Berharap terlalu tinggi memang tidak baik untuk kesehatan jantung dan jiwa, ia benar-benar kecewa. Padahal cowok itu sudah bilang kangen, tapi ... kenapa? Kenapa cowok itu masih suka mematikan obrolan? Kenapa Tuhan? Menyebalkan sekali!
__ADS_1
Ha! Ia jadi terlihat seperti istri-istri polos nan menyedihkan di sinetron azab yang berharap suaminya bisa peka dan segera pulang ke rumah, jangan mampir ke tetangga sebelah. Sungguh memilukan!
Sekarang Ina harus putar otak demi mencari bahan obrolan agar bisa berkirim pesan lebih lama.