
Azam sudah menungguku di pintu masuk Dadaha yang dari jalan HZ, aku segera menyuruh tukang ojek berhenti. Setelah membayar ongkos, aku segera menghampiri Azam. Cowok itu hanya melirikku sekilas, lalu fokus pada ponselnya. Lah, kenapa aku malah dicuekin? Padahal ini kencan pertama kami, loh.
"Mau lari sekarang?" tanyaku mencoba mencairkan suasana setelah beberapa menit kami terdiam dan hanya berdiri di pinggir jalan. Orang-orang yang lewat bahkan banyak yang menatap kami aneh.
Azam menyodorkan ponselnya padaku, lalu berujar tanpa menatapku sama sekali, "Nitip."
Ih, ini cowok kenapa deh? Apa emang begini kelakuan aslinya? Meskipun aku pacarnya dia bakal tetep dingin sama aku? Kok ngeselin, sih!
Aku memasukkan ponsel Azam ke dalam tas kecil yang aku bawa, penasaran sih pengen lihat isinya apa aja. Aku kepo parah sama galerinya, apa Azam suka selfie alay juga? Kok aku gak bisa bayangin, ya, dia lagi nyengir ke arah kamera dengan jari telunjuk dan jari tengah terangkat membentuk tanda peace?
Hanya kutinggal sebentar memasukkan ponsel ke dalam tas, itu cowok sudah hilang dari sampingku. Aku pun mengejarnya dengan sedikit berlari. Kenapa dia pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun? Azam bahkan tidak mengajakku pergi bersama. Demi Tuhan, kencan macam apa ini?
__ADS_1
Aku mempercepat langkah, ingin berjalan di sampingnya. Enak saja aku dibiarkan mengintil di belakang, dikira aku pembantunya apa?
Seandainya ini adegan di novel, Azam pasti sudah menggandeng tanganku sekarang. Walau tidak berbicara apa-apa, tapi dia menunjukkan cintanya dengan tindakan.
Kenyataannya, cowok itu bahkan tidak menengok ke arahku sama sekali. Pacar macam apa dia? Haruskah aku memutuskannya sekarang juga? Tapi kan sayang, kami baru jadian dan ini adalah pertama kalinya kami keluar bersama. Masa aku harus menyerah sekarang?Tidak akan!
Setelah berbelok masuk dan melewati taman, kami pergi ke area tempat berlari. Ada spot khusus di mana ada banyak pedagang berjualan, bahkan perpustakaan keliling ada di sini. Kami melewatinya dengan cukup santai.
Banyak pedagang yang baru datang, ada tukang cilor yang sedang memarkirkan gerobaknya, tukang cimol yang mulai menggoreng cimolnya, tukang cilok yang mulai menghidupkan kompor, tukang rujak yang mulai sibuk memotong buah, dan tukang sandal yang mulai mebggelar kain untuk menjajakan sandal-sandal cantik dengan berbagai warna, ukuran, dan model.
Aku masih sibuk mengamati para pedagang tanpa menyadari Azam sudah mulai berlari. Kenapa para pedagang baru datamg? Padahal biasanya hari Minggu seperti sekarang banyak yang pergi jogging lebih pagi. Aku melirik jam tangan hitam yang bertengger manis di tangan kiri, pukul 06.15 pagi. Ternyata aku yang perginya kepagian.
__ADS_1
Tunggu, aku tidak telat. Berjalan dari gerbang ke sini memang cukup jauh, dan tadi kami membuang waktu dengan saling berdiam diri di pinggir jalan. Jadi wakar jika sudah lewat jam enam. Aku tidak terlambat sama sekali, lantas, kenapa Azam mengabaikanku? Apa salahku? Argh, cowok itu memang sulit dimengerti.
Kenapa dia bersikap layaknya cewek yang lagi ngambek? Dikira aku bakal ngerti kemauan dia tanpa bicara gitu? Ya kali aku cenayang. Aku kan gak bisa baca pikiran orang.
Sepertinya peran kami benar-benar terbalik, aku yang jadi pacar laki-laki dan Azam jadi pacar perempuannya. Kenapa malah dia yang main kode-kodean? Menyebalkan.
Setelah puas memperhatikan sekitar, aku berbalik untuk menghampiri Azam. Celingak-celinguk, aku mencari keberadaannya. Ke mana tuh orang?
Aku menyisir sekitar dan masih belum menemukannya juga. Akhirnya aku berlari ke depan dengan langkah cukup cepat, dan dia ada di sana. Sedang berlari sendiri dengan kecepatan sedang.
Azam itu ... sungguh, ya!
__ADS_1
"Kenapa kamu ninggalin aku, Kampret?"