Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#14


__ADS_3

Saat acara apel masih berlangsung, ada seseorang yang datang ke kelas XI MIA 1. Dia adalah anggota inti Pramuka yang bertugas untuk memastikan tidak ada siswa yang mangkir dari apel. Kali ini yang kebagian tugas adalah Feni, kelas XI IIS 2.


Gadis itu mengernyit heran saat mendapati semua anggota kelas XI MIA 1 berada di kelas. "Kenapa gak ikut apel?" tanyanya entah pada siapa.


Ayu yang sedang berselfie ria segera menatap tamu tidak diundang itu, tidak terlalu senang karena sudah mengganggu aktifitasnya. "Kami mau latihan upacara nanti."


Feni mengangguk mengerti, memang kelas yang bertugas untuk menjadi petugas upacara boleh tidak ikut kegiatan Pramuka. Tapi gadis itu kembali bertanya, "Kenapa gak ikut baris aja dulu? Nanti bisa kan memisahkan diri di sana."


Ayu hanya berdecak malas, memangnya siapa yang mau baris di bawah sinar matahari terik seperti sekarang? Lebih baik berdiam diri di kelas, kan lumayan bisa menghambat penghitaman kulit.


Tidak mendapat respon memuaskan, Feni hanya bisa keluar dari kelas dengan raut wajah tidak senang.

__ADS_1


Ketika apel selesai, speaker yang tertempel di beberapa sudut sekolah berbunyi. Membuat anak-anak XI MIA 1 yang sedang bersantai ria berdecak malas.


"Kepada kelas XI MIA 1 ditunggu di lapangan untuk latihan upacara."


Pengumuman itu diulang tiga kali, membuat para penghuni kelas XI MIA 1 bangun dengan malas-malasan. Mereka menuju lapangan di mana sudah ada beberapa pengurus OSIS yang akan menemani mereka latihan.


Setelah meletakkan tas di kursi besi di depan ruang TU, Ina duduk lesehan di koridor. Malas berdiri di lapangan yang terlihat menyilaukan karena pantulan sinar matahari. Dia meminta agar dirigen berlatih di koridor saja agar paduan suara juga bisa menyanyi dengan bebas di bawah atap. Terlindung dari UV A dan UV B yang bisa merusak kulit.


Usulannya disambut dengan antusias oleh anggota kelas yang lain dan hampir semua teman laki-lakinya memutuskan untuk berlatih di koridor juga. Pengurus OSIS juga setuju karena malas harus berdiri di tengah lapangan di saat cuaca sedang panas-panasnya. Tentu saja ada pengecualian, yaitu bagi yang bertugas sebagai pengibar bendera. Membuat ketiga cowok itu marah-marah tidak jelas seperti cewek yang sedang PMS.


Suasana latihan pun jadi tidak kondusif, karena alih-alih melanjutkan nyanyian yang belum selesai, teman-teman Ina malah sibuk menyenggol bahu gadis itu dan menggodanya.

__ADS_1


"Cie yang disamperin sama pacar!"


"Aduh, tumben banget nih kamu diapelin, Na!"


"Na, samperin sana! Jangan bikin pangeran batu nunggu lama."


"Iya, Na, samperin sana. Gimana kalau dia kesal dan malah mutusin kamu?"


"Na, jangan macam-macam ya, nanti pas mojoknya, sekarang masih siang!"


"Na, hati-hati, jangan lupa pakai pengaman."

__ADS_1


Ina mengernyit tidak mengerti akan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Soni. Cowok itu memang bertukar tugas dengan Parhan untuk menjadi dirigen. Gerakan tangannya yang gemulai benar-benar membuat beberapa perempuan iri.


Tidak ingin membuat keributan semakin menjadi, Ina pun memutuskan untuk menghampiri Azam. Walau hatinya masih kesal karena masalah kencan dan akun Instagram, ia tidak ingin teman-temannya tahu hanya untuk menjadikan dirinya bahan ejekan mereka.


__ADS_2