Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Ingin Putus


__ADS_3

Seharusnya aku putuskan saja ini cowok satu. Tingkahnya menyebalkan sekali. Dia bukan cowok dingin romantis seperti di novel dan film. Tapi cowok kampret yang bahkan enggak bisa menyenangkan hati pacarnya. Argh, pengen putus tapi masih cinta. Pengen putus tapi sayang aku yang nembak. Pengen putus tapi capek aku yang udah berjuang. Kampret bener deh!


Setelah selesai memakan roti dan meminum obat yang aku yakin dari Ayu ini, aku hanya diam sambil menunggu kapan giliran setor ke toilet selanjutnya. Karena aku tahu ini obat gak bakal langsung bekerja secara instan.


Azam juga diam di sisiku. Aku tidak ingin membuka percakapan karena masih kesal, dan cowok itu sepertinya memang tidak ada niatan untuk membuka suara terlebih dahulu. Memang begitulah Azam yang aku tahu. Lagi pula dia ngapain sih masih di sini? Bukannya dia cuma mau nganterin titipan Ayu? Kenapa enggak balik lagi ke kelas?

__ADS_1


Ah, aku tahu. Sepertinya dia ke sini untuk bermain game. Aku lupa kalau dia memang sering mojok di sini. Mungkin kelasnya sedang kosong, dan dia berpapasan dengan Ayu di koridor depan. Lalu kenapa dia enggak ngeluarin ponselnya? Hah, bodo amat.


Walau cerewet, harus kuakui Ayu adalah teman yang baik. Dia cukup pengertian. Aku akan berterima kasih padanya nanti. Tapi kenapa dia harus menitipkannya pada Azam? Maksudku, kedatangan Azam memang membuatku senang, dan saat dia membawa roti tadi, tidak bisa dipungkiri aku senang. Tapi kenyataan memang kejam, cowok itu menghancurkan harapanku begitu saja.


Kenapa juga aku harus suka padanya? Kayaknya aku udah buta, emang gak ada lagi cowok yang lain apa di sekolah ini? Kayaknya masih banyak, deh. Tapi kenapa hatiku malah kecantol sama Azam? Aih, ini pasti gara-gara novel dan film yang aku tonton. Aku terbawa suasana dalam cerita fiktif itu. Sekarang aku sudah sejauh ini. Mana bisa aku balik lagi.

__ADS_1


Saat kembali dari toilet, aku sengaja mengambil tempat duduk di kursi yang berbeda. Aku tidak ingin mendengar Azam mengataiku bau lagi. Cukup satu kali, aku sudah cukup sadar diri.


Ah, apa aku balik ke kelas aja, ya? Kayaknya perutku udah agak mendingan. Sepertinya ini pilihan terbaik. Aku segera bangkit, mengambil botol air minum yang isinya tinggal setengah.


Dari jarak satu meter aku memperhatikan Azam yang sedang menunduk sambil bermain game. Sepertinya dia sangat fokus sampai tidak menyadari kehadiranku. Atau dia sadar tapi tidak peduli. Cih. Kenapa aku selalu berpikiran buruk, sih? Ah, sudah lah. Sebaiknya aku segera kembali ke kelas saja.

__ADS_1


Inginnya aku pergi tanpa menatap Azam lagi, tapi aku rasa itu tidak sopan. Setidaknya tadi dia sudah berbaik hati membawakan titipan obat untukku. Jadi aku akan mencoba menjadi gadis baik, lagi.


"Azam," panggilku lumayan keras. Cowok itu hayang berdehem tanpa mengangkat kepala, tanda tidak mau diganggu. Apa game lebih menarik daripada aku, ya? Apa bagi Azam game lebih penting dari pacarnya? Seketika kepercayaan diriku turun. Maksudku, aku bahkan tidak mempunyai suatu kelebihan untuk bersaing dengan game kesukaannya. Bagimana ke depannya? Aku jadi tidak yakin dengan nasib hubungan kami.


__ADS_2