
Ina bersembunyi di belakang Ayu karena malas menjadi bahan tontonan. Ini lantai tiga, tempat anak-anak kelas XII berkuasa. Ia tidak ingin disebut sedang cari perhatian. Tapi ia juga tidak ingin disebut sebagai gadis yang sok malu-malu kucing di depan pacar. Yang bakal gosipin dia sih pasti anak-anak cewek. Makhluk satu ini memang selalu punya seribu satu bahan ghibahan everywhere everyday.
Mau Ina melakukan apapun dia pasti tetap salah di mata mereka, terlebih cowok yang paling banyak diincar sekarang menjadi pacarnya. Padahal kan Ina malu bukan sama Azam, tapi sama teman-temannya yang berisik itu.
Akhirnya karena malas menjadi bahan ledekan, Ina mempercepat langkah menuju ruang lab. Bahasa. Tindakannya ini mengundang ledekan dari teman-teman Azam semakin keras.
"Wah, si Ina kabur. Kejar dong, Zam! Lari-larian di koridor macam film India."
Azam hanya memutar bola mata malas mendengar ledekan teman-temannya, karena Ina sudah pergi, ia pun memutuskan untuk kembali duduk.
Ina yang hampir sampai ke lab. Bahasa menepuk jidatnya keras, gadis itu baru ingat kalau dia ingin mengabari Azam bahwa dia enggak punya kuota. Kalau tidak diberi tahu sekarang bisa-bisa dia tidak bertemu lagi dengannya karena cowok itu keburu pulang.
Akhirnya Ina balik lagi dan mendekati Azam, tentu saja dia jadi bahan cie-ciean. Ia mencoba mengabaikan mereka dan memberi kode pada Azam agar mendekat. Cowok itu menatapnya heran sebentar sebelum menghampiri Ina, tentu saja dengan latar belakang suara cie-cie yang semakin bergema.
Kenapa teman-temannya norak sekali? Seperti belum pernah melihat orang pacaran saja.
__ADS_1
"Aku enggak punya kuota," beritahu Ina, setelah itu segera kabur ke laboratorium kembali menyusul teman-temannya, ia tidak tahan mendengar ledekan teman-teman Azam yang semakin menjadi-jadi.
Azam mematung sejenak, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Ina adalah pacar pertamanya di tingkat menengah atas, ia tidak pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya. Pacarnya saat SMP dulu tidak pernah kekurangan pulsa. Ia jadi semakin mengerti perbedaan antara tempat tinggalnya dulu dan sekarang.
Uang jajan mereka tidak sama, meskipun jajanan di sini lebih murah. Terlebih setahu Azam keadan keuangan keluarga Ina termasuk biasa-biasa saja.
Akbar menepuk bahu Azam dari belakang, lalu merangkulnya. "Dia ngasih kode, tuh, minta dibeliin pulsa," ujarnya sambil tertawa.
Benarkah? Kenapa Azam merasa Ina hanya ingin memberitahunya saja?
Dia yang tidak peka atau pikiran Ina memang sulit ditebak?
"Seriusan?" Ani tertawa terbahak-bahak saat Ina curhat pacarnya ngisiin pulsa 10k. Memang wajar sih buat ukuran anak sekolah, tapi hari gini 10k cukup buat apa? Cuma buat beli kuota 1 GB dengan tenggat waktu seminggu doang. Mana adiknya polos banget pula, merasa enggak enak dan minjem uang buat ganti pulsanya.
"Nih, ya, dengerin!" Ani mengeluarkan mode mau ceramah ala emak-emak mau nasihatin anaknya yang kelewat bodoh. "Punya pacar tuh harus yang bisa dimanfaatin. Buat apa pacaran kalau cuma kirim pesan doang, harusnya kamu rajin minta isiin pulsa biar gak perlu minta uang sama Ibu lagi. Hemat. Ini fungsinya kamu pacaran, jangan jadi anak bodoh yang buta karena cinta."
__ADS_1
"Tapi aku gak enak."
"Udahlah terima aja, bilang makasih, terus rajin-rajin minta pulsa."
"Tapi, Teh ...."
Ani melenggang pergi meninggalkan Ina yang masih merasa tidak enak karena sudah dibelikan pulsa oleh Azam.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Halo, maaf aku baru update, aku beneran lupa **
Jarang buka NT sekarang soalnya, hehe
Aku usahain buat update lagi tiap hari deh mulai besok, semoga beneran bisa istiqomah, dan kabar gembiranya aku udah nyiapin outline sampai tamat, jadi insya Allah enggak akan kena writer blok, semoga ehe.
__ADS_1
Ada yang mau ignya aku follow? Ayo tulis di komentar, nanti aku follow
Maaf juga aku masih belum sempat balas komen kalian, nanti kalau udah senggang aku balas satu per satu, see you <3