
Ina dan Azam masuk ke dalam angkot, mereka duduk bersisian. Inginnya sih bisa menyender cantik di pundak sang pacar, tapi Ina ogah jadi bahan gosip dan terlebih takut ditangkap petugas keamanan. Mereka masih memakai seragam dan sekarang masih waktunya sekolah, jika tidak berbekal surat keterangan dari sekolah, mereka berdua pasti sudah berada dalam bahaya. Meskipun angkot itu bisa dibilang kosong dengan hanya mereka dan seorang ibu yang baru pulang dari pasar dengan barang bawaan hampir memenuhi separuh badan angkot sebagai penumpang.
Tapi terkadang yang namanya ibu-ibu memang berbeda, radar ghibahnya bisa aktif kapan saja dan di mana saja. Ina sudah mencoba duduk tegak, tapi pusing di kepala membuatnya harus menyeder ke jendela mobil, Azam yang merasa kasihan ingin membantu Ina agar menyender padanya saja, tapi mata emak-emak yang menatapnya tajam membuat ia menahan diri. Ia bukan takut dimarahi, tapi takut reputasi Ina dan sekolahnya jadi jelek.
"Kalian mau ke mana? Kok gak sekolah?"
Azam meringis, dari nadanya saja ibu-ibu ini sudah terlihat sangat curiga. Ia bisa mencium bau-bau gosip yang akan disebarkan ke tetangga si ibu ini. Kira-kira bunyinya seperti ini:
"Tahu enggak, Bu, tadi pas pulang dari pasar saya ketemu dua anak sekolahan di angkot. Cowok sama cewek, mereka pasti pacaran. Kayaknya sih mereka bolos dari sekolah. Apalagi ceweknya kelihatan lemes banget, saya curiga banget sama mereka, abis ngapain, ya?"
Open ghibah sekali ending-nya.
Takut yang dipikirkannya terjadi, Azam segera angkat suara.
"Saya mau mengantar teman saya pulang, Bu, dia sedang sakit."
"Oh?" Ibu itu memanjangkan lengannya untuk menyentuh kulit Ina. "Owalah, panas banget ini. Udah di bawa ke puskesmas?"
"Belum, Bu, tapi tadi sudah diberi obat di UKS."
__ADS_1
"Aduh, kasian banget. Harus buru-buru dikompres ini biar demamnya turun."
Ina hanya mengerang sedikit, ia memijat kepalanya yang sangat pusing. Matanya juga terasa berat dan sulit untuk terbuka.
Azam merasa terlalu suudzon, ia sekarang bisa lega karena sepertinya ibu tadi tidak seburuk yang ia pikirkan. Akhirnya, karena takut Ina terjatuh dari duduknya, ia pun memberanikan diri untuk memegang pundak gadis itu dan menahannya.
Sayang, harapan Azam hanya harapan semu. Si ibu kembali bertanya dengan pertanyaan yang bisa bikin orang jantungan.
"Terus kenapa kamu yang antar?"
"Maaf?"
Mati. Azam meringis, harus jawab apa dia? Ini ibu-ibu otaknya tajam banget kalau lagi jatuhin orang.
"Takutnya teman saya ini pingsan, Bu, kalau diantar anak perempuan kan nanti malah berabe dan ngerepotin banyak orang."
Azam benci harus bicara sebanyak ini. Ia ingin segera turun dari angkot menyebalkan ini.
Azam pun mendekatkan mulutnya ke telinga Ina dan berbicara pelan.
__ADS_1
"Na, rumah kamu masih jauh?"
Ina mengerjap sebentar, lalu menjawab dengan suara rendah.
"Berhenti di perempatan Mitra Batik."
Azam segera mengangguk, untunglah sebentar lagi mereka bisa turun.
Si ibu yang melihat kelakuan dua sejoli di depannya merasa geregetan. Berani sekali dua anak muda ini bermesraan di siang bolong, mana masih pakai seragam pula.
"Kenapa gak diantar pakai motor aja biar lebih cepat sampai?"
Azam ingin memutar bola matanya malas, tapi takut dosa karena enggak sopan sama orang tua.
"Takut dia enggak kuat, Bu. Kalau pingsan dan jatuh dari motor nanti kasian dianya."
Azam melihat si ibu akan membuka mulut lagi, tapi untungnya ia sudah sampai di tempat tujuan.
"Kiri, Mang!" Azam membantu Ina untuk turun dari angkot, tas Ina sudah ada di gendongannya sejak tadi, membuatnya terlihat lucu karena membawa tas perempuan. "Saya duluan, Bu."
__ADS_1
Azam segera membayar agar angkot itu bisa cepat pergi dari hadapannya.