Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Baju


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Teh Ani sudah rempong masuk ke kamar, dia menyuruhku mandi dan berdandan cantik. Ia juga membawa beberapa baju cantik yang menurutnya cocok untuk dipakai kencan. Dia memang serempong itu. Aku yang kencan kenapa dia yang ribet, deh? Dia bahkan lebih bersemangat dari pada aku. Kuduga itu karena dia hanya ingin menjadikan aku kelinci percobaanya untuk didandani. Ih, ogah banget.


"Gak mau." Aku menolak gamis dengan pola kotak-kotak yang disodorkan Teh Ani. Lalu kembali menggeleng saat ia mengangkat kemeja berwarna biru telur asin. Sekarang amunisinya sudah habis, semua baju yang dibawa Teh Ani aku tolak dan sekarang menggunung di atas kasur.


"Terus kamu mau pakai apa?" tanyanya geram.


Aku mengedik, menunjuk pada baju kaus panjang berwarna biru langit dan celana training berwarna hitam yang sudah tergantung rapi di lemari. Seketika terdengar kesiapan dari samping, dari siapa lagi kalau bukan gadis rempong yang menjabat sebagai kakakku itu?


"Kamu mau kencan dengan baju itu?" pekiknya tidak terima. "Jangan malu-maluin. Ini kan kencan pertama kamu, harus cantik. Jangan pakai baju buluk begitu!"


"Itu enggak buluk, ya!" balasku kesal. Enak saja mengatai baju kesayanganku buluk. Masih bagus juga kok, baru kubeli sekitar enam bulan yang lalu.

__ADS_1


"Ya, ya, ya." Teh Ani membalas tidak peduli. "Tapi ini kan kencan pertama kamu, seenggaknya harus tampil spesial. Jangan kayak mau olahraga gitu!"


"Emang mau olahraga, kok," kataku enteng.


"Hah?" Teh Ani mengerjapkan mata, lalu menatapku tidak percaya. Dia bahkan sampai mengorek telinga. "Apa katamu?"


"Aku emang mau olahraga. Rencananya kami mau jogging bareng." Aku berkata bangga. Aku jadi gak sabar pengen ketemu Azam. Aku bahkan udah mandi walau tahu nanti bakal keringetan lagi. Ya, siapa orang kurang waras yang pengen jalan bareng pacarnya tanpa mandi? Enggak ada kayaknya.


Aku mengangguk mengiyakan. Mengambil baju dari lemari untuk dipakai.


"Hahahahahaha." Tawa Teh Ani pecah, aku segera membekapnya agar tidak membangunkan kedua adikku yang masih terlelap. Kalau mereka bangun nanti tambah rempong, pada pengen ikut. Ih, ogah banget bawanya.

__ADS_1


"Duh, Na. Parah sih, kamu. Ya udah sana. Aku dukung kamu pacaran sama siapa itu namanya?"


Aku tersenyum senang, lantas menjawab, "Azam."


"Nah iya sama dia. Kalian pacarannya emang beneran kayak bocah." Teh Ani membereskan bajunya yang berserakan di atas kasur, lalu berjalan keluar kamar. "Selamat bersenang-senang, aku kecewa sih gak bisa dandanin kamu. Tapi karena kamu mau capek-capek lari dan nanti bedaknya malah luntur, jadi mending gak usah aja. Dadah." Lalu dia menghilang di balik pintu.


Tak lama kemudian dia balik lagi. "Na," panggilnya, "bilang sama pacar kamu, lain kali ajak kencannya ke tempat romantis. Ke kafe kek, atau minimal ke Karang Resik." Lalu kembali menghilang. Kali ini dia tidak kembali lagi.


Aku mengangkat bahu, mengabaikan ucapan Teh Ani. Azam itu kencan aja harus aku yang ajak duluan, aku gak tahu kapan kami bakal pergi kencan lagi. Dia inisiatif ngajak jogging aja aku udah seneng. Tidak peduli apa kata orang, yang penting aku bisa berduaan bareng Azam. Untuk kali ini saja, aku tidak akan membandingkan dia dengan tokoh-tokoh romantis dari novel. Aku akan membiarkan kencan kami berjalan sesuai keinginannya. Biarkan dia yang memimpin. Karena bersama Azam, kejadian tidak penting pun kadang bisa menjadi romantis.


Setelah selesai merapikan pakaian, aku segera berpamitan kepada Ibu yang sedang memasak. Dia sempat curiga sebentar, tapi kemudian mengizinkanku pergi tanpa melihat lagi. Sibuk pada masakan.

__ADS_1


Aku memesan ojek online yang bisa membawaku ke Dadaha karena tidak ada angkot yang ke sana dari sini. Bisa sih, tapi harus dua kali naik. Ribet. Jadi aku putuskan untuk naik ojek saja. Aku menenangkan jantung yang seolah menggedor-gedor ingin keluar. Tenanglah jantung, jangan lebay. Nanti juga pas ketemu Azam tolong jangan ganjen dengan berisik di dalam sana.


__ADS_2