Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Tragedi Bola Voli


__ADS_3

Jadi, itu obat dari siapa? Enggak ada yang berniat meracuniku, kan? Ih, kok jadi serem. Tapi kayaknya enggak deh, kalau mau meracuni kenapa harus lewat Azam. Walau enggak banyak yang percaya, tapi sebagian besar tahu aku pacarnya Azam. Cuma karena kami saling diam dan tidak menunjukkan tanda-tanda memiliki hubungan, berita itu semakin pudar. Kecuali di kelasku tentu saja. Mereka percaya aku pacarnya Azam, karena beritanya keluar dari mulut Ayu, sahabatku sendiri yang sering membongkar aib temannya. Gadis itu susah untuk menjaga rahasia, makanya suka sekali berbicara jujur.


Ah, kepalaku jadi pening gara-gara memikirkan obat. Bukannya menyembuhkan, itu obat malah bikin otak runyem.


Melihat aku hanya diam melamun, Ayu menyeretku pergi. Aih, kenapa gadis ini bar-bar sekali? Aku pun hanya bisa mengikuti dengan pasrah di belakangnya.


Sambil menunggu Ayu mencuci tangan, aku pergi ke pinggir lapangan. Menonton permainan bola voli dari tim gabungan. Siapa yang mau berpartisipasi tinggal masuk di posisi kosong. Di setiap tim terdiri dari kelas berbeda-beda, ada kelas X, XI, dan XII. Juga ada dari jurusan IPA dan dari jurusan IPS.

__ADS_1


Biasanya kalau sedang gabut, aku juga akan ikut bermain. Bermain voli bersama laki-laki cukup menyenangkan. Aku bisa mendapat kesempatan menerima bola kuat, melakukan smash, dan menunjukkan kemampuanku yang sebenarnya dalam voli. Aku memang tidak semahir atlet, tapi aku juga sudah latihan voli sejak SD. Jadi permainanku enggak jelek-jelek amat.


"Gak ikutan main, Na?" tanya Idong, salah satu teman satu ekskulku. Dia berdiri di sampingku sambil mengamati alur pertandingan.


"Enggak ada posisi kosong," ujarku setelah meliriknya sekilas.


"Kamu seharusnya dilarang main voli siang-siang gini lagi, sih," ujarnya terdengar menyebalkan.

__ADS_1


Cowok itu mengembuskan napas lelah, lalu menatapku penuh simpati. "Bukan karena itu, tapi kamu ingat tragedi beberapa bulan yang lalu?" tanyanya yang membuat keningku mengernyit heran. Tragedi apa? Kenapa otakku tidak bisa mengingatnya sama sekali?


Melihat kebingunganku, cowok itu lantas tertawa keras. "Itu loh pas tragedi bola voli masuk ke penggorengan," ujarnya, lalu tertawa lagi.


Seketika wajahku memerah mengingat kejadian itu, benar-benar memalukan. Kantin terletak di sebelah lapangan yang bisa diakses dari lapangan secara langsung. Karena lapangan ini sangat multifungsi, saat senin untuk upacara, saat pelajaran olahraga bisa jadi lapangan voli, lapangan bulutangkis, lapangan futsal, dan bisa juga jadi lapangan basket walau hanya setengah. Alhasil, tidak ada jaring yang mengelilingi lapangan untuk mencegah bola memantul jauh dari lapangan. Nah, karena kantin letaknya bisa dikatakan juga diagonalnya lapangan voli, kadang bola suka nyasar ke sana.


Saat itu jam istirahat, aku ikut meramaikan permainan bersama teman-teman yang lain. Kebatulan ada Kia, teman satu ekskul yang ikutan juga. Kami dipisah jadi lawan, karena dia sangat kuat dan keren, aku jadi terlalu bersemangat. Saat mendapatkan kesempatan untuk spike, aku memukulnya dengan seluruh kekuatanku. Bola masuk karena tidak ada yang menerimanya, kebetulan bola itu terarah ka daerah kosong. Tapi bolanya memantul keras ke arah kantin. Hanya dengan dua kali pantulan, bola itu langsung terjun ke penggorengan. Padahal bibi kantin sedang menggoreng mendoan. Minyak yang hampir memenuhi wajan itu tumpah, untungnya bibi kantin sedang melayani pembeli yang cukup jauh dari sana, jadi dia aman dan tidak apa-apa. Untungnya lagi minyak panas itu tidak tumpah ke atas kompor, tapi ke lantai. Kalau ke atas kompor yang sedang menyala, aku tidak yakin apa yang akan terjadi. Mungkin ledakan keras dan kebakaran. Mengerikan. Aku tidak ingin membayangkannya.

__ADS_1


***


Happy new year!!!!


__ADS_2