
Menggunakan alasan kebelet pipis, Akbar izin pergi ke toilet. Nyatanya, ia mengunjungi bibi kantin yang sudah sangat ia rindukan. Gorengannya maksudnya. Mana sudi dia rindu pada bibi kantin yang setiap hari mesra-mesraan sama emang kantin. Akbar bukan pelakor.
Setelah puas menyantap enam gorengan, cowok itu membayar dengan harga pas. Tidak seperti teman-temannya yang lain yang saking kerenya makan lima ngomongnya cuma dua. Kasihan bibi kantin, lama-lama bisa bangkrut kalau pembelinya begitu semua.
Dirasa sudah terlalu lama di luar kelas, Akbar segera melenggang pergi dari kantin. Ia takut ketahuan guru piket yang cerewetnya bisa ngalahin emak-emak bunting yang lagi ngidam. Ia juga malas jika harus kena hukuman nyapu lapangan upacara, malu-maluin banget. Masa cowok segagah dirinya harus megang sapu lidi.
Akbar berjalan santai menaiki satu demi satu anak tangga yang menghubungkan kantin dengan ruang OSIS, untungnya ruangan itu kosong. Kalau ada penghuninya, alamat dia bakal dilaporin ke guru piket. Kadang ia merasa kesal, ingin protes, kenapa kalau dia pergi ke kantin dan ketahuan sama guru piket selalu dihukum, tapi kalau anak OSIS kumpul-kumpul saat jam pelajaran sedang berlangsung enggak pernah dimarahin. Dunia emang gak adil.
Cowok itu celingak-celinguk, mengintip kelas yang sedang belajar. Gurunya sedang membaca buku pelajaran di depan, fokus banget, gak sadar anak didiknya pada bandel. Ada yang saling bisik-bisik, mainin ponsel, bahkan ada juga yang sedang tidur. Akbar menggelengkan kepala, memang kelakuan yang namanya anak sekolahan semua sama aja. Mau kelas X, kelas XI, atau pun kelas XII, semua gak ada bedanya.
Akbar menyipitkan mata, mencoba fokus mencari seseorang yang ia tahu anggota kelas ini. Pacarnya Azam, Ini Fitriani. Setahunya, gadis itu duduk di meja kedua dari depan, tapi hari ini kursi itu kosong. Ke mana dia? Apa gak masuk? Rasanya tadi Azam enggak cerita apa-apa, deh.
Saat itulah tatapan matanya bertemu dengan gadis itu, gadis yang paling ingin ia hindari di sekolah ini. Ia segera membuang muka dan mempercepat langkah, tidak ingin berurusan dengannya.
Saat sudah sampai di lantai tiga, Akbar menghela napas lega, berpikir jika gadis yang ia tahu sahabatnya Ina itu pasti tidak akan mengejarnya. Tapi ia salah, gadis itu tiba-tiba saja muncul di depannya. Ah, ini pasti karena Akbar sempat melamun sebentar.
__ADS_1
Cowok itu berkeringat dingin, demi apapun di sekolah ini, ia tidak ingin berurusan dengan gadis di hadapannya. Ia trauma.
"Kenapa lari?" tanya gadis itu sambil mengatur napas, sepertinya ia juga ikutan lari untuk mengejar Akbar.
Cowok itu membuang muka, enggan menanggapi.
Ayu menghela napas jengah, lalu mulai membuka suara untuk menyampaikan keinginannya. "Bilangin sama si patung, pacarnya lagi mencret, dia ngedekem di toilet bawah dari tadi. Kasian, suruh dia temenin atau apa kek gitu. Kalo enggak beliin obat supaya mencretnya berhenti. Sama suruh beliin roti juga, itu bocah kayaknya belum sarapan. Sama air juga, tapi jangan dikasih susu. Si Ina bebal banget, sih. Udah tahu gak kuat makan pedes, malah ...."
Akbar meringis, iya, dia trauma sama gadis ini. Namanya Ayu, kalau udah buka mulut gak bakal berhenti dalam waktu dekat. Ia pernah mau ke toilet, udah kebelet banget, eh malah ketemu sama cewek ini. Dia ngomong kayak rel kereta, sampai hampir saja Akbar pipis di celana.
Cowok itu mengernyit, ia hanya menangkap jika pacarnya Azam sedang mencret. Selebihnya hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Ia memutar otak, mencari cara untuk memotong ucapannya. Akbar ingin segera kembali ke kelas.
Akbar menjentikkan jari. Ia segera angkat suara. "Berhenti! Oke, makasih informasinya. Aku bakal kasih tahu Azam sekarang, kasihan Ina kalau enggak segera diberi obat. Nanti dia dehidrasi, kalau mati karena kekurangan cairan kan berabe."
Ayu memasang wajah kurang senang, gadis itu tidak suka omongannya dipotong. Tetapi, saat ia akan kembali bersuara, Akbar sudah lari meninggalkannya. Membuat gadis itu hanya bisa berdecak kesal dan kembali ke kelas.
__ADS_1
Akbar mengusap dada lega saat sudah duduk di kursinya, akhirnya lepas juga dari gadis menyebalkan itu. Ia segera menoleh ke kanan, teman sebangkunya itu sedang fokus menatap ke depan. Entah dia fokus mendengarkan pembicaraan guru atau hanya sedang melamun. Akbar tidak tahu.
Akbar menyenggol kaki Azam, membuat cowok itu menoleh ke arahnya tidak senang.
Akbar hanya memasang senyum lebar, sudah biasa mendapat balasan menyebalkan dari sahabat sejak kecilnya itu.
"Pacar kamu lagi sakit," beritahunya dengan suara berbisik, takut kepergok guru tidak mendengarkan penjelasannya.
Azam hanya mengangkat sebelah alis, lalu fokus kembali ke depan. Membuat Akbar menggelengkan kepala tidak habis pikir. Kenapa banyak cewek yang suka sama cowok menyebalkan kayak dia? Ia sih ogah punya pacar yang diajak ngobrol aja susah.
Akbar lalu diam, dia mulai membuka buku pelajarannya kembali. Walau tidak tahu materi mana yang sedang gurunya bahas. Ia tidak terlalu peduli pada Ina, toh gadis itu bukan siapa-siapanya. Ia juga sudah menyampaikan pesan Ayu tentangnya.
Beberapa saat kemudian, Akbar memasang wajah terganggu. Azam benar-benar tidak bisa diam. Kenapa dengan cowok ini? Sangat tidak biasa.
"Sakit apa?" tanya Azam dengan suara yang terdengar gelisah. Membuat Akbar hampir tersedak air ludahnya sendiri. Jadi ini cowok bisa khawatir juga? Pantesan dari tadi enggak bisa diam.
__ADS_1
Akbar tersenyum kecil, memang hanya Ina yang bisa membuat Azam berkelakuan seperti manusia normal. Semuanya dimulai sejak Azam bertemu gadis itu satu setengah tahun yang lalu.
"Dia mencret," beritahunya sambil berbisik. Lalu, Azam segera bangkit dan izin keluar dari dalam kelas. Membuat Akbar kembali menggelengkan kepala tidak habis pikir. Cinta memang bisa mengubah kepribadian seseorang, ya.