
Pada hari Jumat biasanya selesai belajar para siswa tidak boleh dulu pulang. Gerbang akan dikunci oleh guru piket, mereka akan menutup telinga pada siswa yang berisik izin keluar yang kenyataannya ingin kabur.
Ada sebuah jadwal pengajian yang tidak boleh dilewatkan, sesuai angkatan. Para siswa akan mempelajari kitab kuning atau biasa juga disebut kitab gundul. Karena kekurangan pengajar, pelajaran akan dibagi dua. Kelas X dan XI disatukan, sementara kelas XII akan mempelajari kitab yang berbeda.
Tetapi ada pengecualian, kelas yang kebagian jumsih atau bersih-bersih tidak akan mengikuti pengajian, begitu pula kelas yang minggu depannya kebagian sebagai petugas upacara. Entah ini kebetulan atau konspirasi alam semesta, kelas Azam minggu ini jadwalnya untuk bersih-bersih dan kelas Ina akan latihan untuk upacara besok.
__ADS_1
Pengajian kelas X dan XI akan dilakukan di salah satu ruangan khusus berukuran besar yang biasanya digunakan untuk kegiatan ekstrakulikuler, sementara kelas XII akan dilakukan di salah satu kelas yang ukurannya paling besar. Karena cukup banyak kelas disatukan, biasanya ruangan akan penuh sesak. Tapi pengajian akan berjalan khidmat, bagi yang fokus mendengarkan. Kalau anak-anak bandel sih, ada yang ngemil, ada yang bisik-bisik, ada juga yang nunduk memainkan ponsel. Sungguh tidak patut ditiru.
Sebenarnya ruangan yang cukup besar lainnya adalah mushola, apalagi ada pembatas juga untuk perempuan dan laki-laki. Tapi mushola biasanya harus dibersihkan, karpetnya dijemur dan dipukul-pukul dengan sapu lidi yang khusus untuk membersihkan karpet. Lantainya harus disapu dan dipel. Kacanya juga harus dilap sampai kinclong.
Karena banyak yang harus dibersihkan, kelas yang bertugas biasanya akan membagi tugas. Mereka akan sibuk mencari sapu dan pelan. Meminjam ke kelas lain yang kadang lupa dikembalikan, sehingga tragedi kehilangan alat-alat kebersihan sering kali menjadi topik utama setiap hari Sabtu tiba.
__ADS_1
Saat melihat Ina ada di lapangan, Azam dengan sengaja memilih untuk bertugas di bawah juga. Ia memilih untuk membersihkan kaca TU agar bisa memperhatikan Ina dengan leluasa. Akbar bahkan hampir tersedak air ludahnya sendiri saat mengetahui keputusan sahabatnya. Biasanya anak cowok memang jarang membantu, paling hanya menggotong karpet ke pagar di depan ruang OSIS untuk dijemur, terus nanti mengembalikannya lagi ke mushola. Mana mau mereka bantu-bantu, kalau pun ikut membersihkan paling hanya seadanya saja, untuk menghindari omelan para gadis di kelas yang menyebalkan.
Azam membawa beberapa kertas tidak terpakai yang ia temukan dari laci meja guru, lalu segera keluar dari kelas. Akbar pun memutuskan untuk mengikuti Azam sambil membawa tas, berniat langsung pulang jika pintu gerbang sudah terbuka. Ia juga dengan baik hatinya membawakan tas Azam agar nanti tidak perlu lama menunggu cowok itu kembali ke kelas dulu.
Di lapangan, Ina sedang berjongkok dengan buku yang dibuka di halaman tengahnya tersimpan rapi di atas kepala, menutupi sengatan sinar matahari yang siang ini cukup ganas. Ia tertawa terbahak-bahak saat melihat gerakan tangan Parhan yang sedang berusaha digemulaikan. Tangannya kaku sekali. Mirip seperti robot rusak yang dipaksa menari, sungguh pemandangan yang menggelikan, terlebih dengan tubuhnya yang bongsor, kelakuan cowok itu terlihat semakin absurd saja.
__ADS_1