Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#32


__ADS_3

"Ngapain kamu jam segini masih di sini?" Ani bertanya heran, ia berniat untuk mengambil air minum di dapur, tapi malah menemukan penampakan kutil anak di ruang keluarga. Tersangka yang sedang menghancurkan goreng kacang dengan gigi-gigi tajamnya itu tampak fokus melotot pada layar persegi yang diletakkan di atas meja.


"Lagi mau ngirim bom ke rumah orang." Ina menjawab datar, sudah sebal karena pesan dari sang pacar, sekarang tetehnya malah muncul, bikin kesalnya naik berkali-kali lipat.


"Hah?" Ani mengerjap tidak mengerti, namun sayang, adiknya itu tidak menjawab lagi. Melainkan fokus pada ponsel yang baru saja berbunyi. Ia pun melanjutkan langkah ke dapur.


Ina mendengkus kesal. Kenapa Azam nyebelin banget malam ini? Chatt-nya berisi banyak kata-kata narsis yang berhasil membuat ia bergidik ngeri. Ya, walau dengan berat hati ia mengakui kalau semua itu benar.


"Yakin mau nyari pacar baru?"


Ina tersenyum sinis, dikira ia tidak berani apa nyari pacar baru? Cowok di sekolah bukan cuma Azam saja, tapi ... yang ia suka memang hanya Azam.


Ina mendecih, hatinya benar-benar tidak bisa dikondisikan.

__ADS_1


"Yakin seyakin-yakinnya kucing bakal lahiran, bukan bertelor. Lagian cowok masih banyak, bisa aja kan yang jadi pacar baru aku kakak kelas lain, A Akbar misalnya. Atau mungkin teman sekelas? Hm, tapi berondong boleh juga, aku enggak masalah pacaran sama adik kelas."


Ina sedikit tertawa kecil, entah kenapa dia merasa senang setelah mengetik itu. Apa Azam di sana bakal merasa kesal sepertinya? Semoga aja iya.


Memangnya siapa yang suka bahas cowok lain sama cowok sendiri? Ina aja kalau misal Azam bahas cewek lain sama dia pasti kesal banget. Apalagi kalau yang dibahas cewek yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih disayang Azam. Ah, suasana hati Ina semakin buruk saja.


Beberapa saat kemudian ponsel Ina kembali berbunyi. Ia dengan cepat membuka pesan dari Azam, penasaran dengan balasannya.


Seketika Ina ingin muntah darah, duh Gusti, punya pacar satu kok gini amat. Mana yang kata novel punya pacar dingin-dingin kulkas bakal sweet banget? Mana yang kata novel cowok dingin kalo punya pacar bakal bucin pangkat sepuluh? Manaaaaaaaaa??????


Ina kehilangan kata-kata dan hanya mampu membalas huruf acak.


"Asdfgjsjslldld."

__ADS_1


Sementara Ina mencak-mencak, Azam tertawa semakin keras di kamarnya. Setelah reda, ia berpikir sebentar, apa balasannya tadi menyinggung Ina? Walau ia tahu enggak ada yang meyatakan suka selama Ina bersekolah, bukan berarti tidak ada yang suka pada pacarnya. Hanya saja mereka tidak terlalu menunjukkannya entah karena apa. Salah satunya adalah teman sekelas Ina sendiri. Gadis itu teramat tidak peka pada sekeliling karena terlalu fokus padanya. Satu hal yang cukup Azam syukuri sekarang.


Balasannya memang bisa dikatakan cukup kejam, karena ia juga benar-benar tidak senang dengan balasa Ina tadi. Enak saja gadis itu mau mencari pacar lain, mana pakai bawa-bawa nama Akbar pula, Azam benar-benar tidak suka.


Sepertinya untuk malam ini ia sudah cukup puas menjahili Ina, ia harus berhenti jika tidak ingin sang pacar benar-benar mencari cowok baru.


"Ini sudah malam, kamu belum ngantuk?"


Azam tersenyum kecil ketika membaca balasan dari Ina.


"Belum, aku lagi kesel sama seseorang! Pengen nabokin ginjalnya. Kalau mau tidur duluan, tidur aja sana. Moga mimpi buruk! Aku mau baca novel aja, bye!"


Setidaknya malam ini mereka sudah ada kemajuan.

__ADS_1


__ADS_2