
Kemarin Ina pulang sambil hujan-hujanan, ia lupa membawa payung dan memaksa menerobos hujan lebat. Ia memang naik angkot, tapi dari jalan raya ke rumahnya cukup untuk membuat Ina menggigil. Terlebih, setelah sampai di rumah Ina tidak langsung mandi, melainkan malah main hujan-hujanan bersama Eni.
Alhasil, hari ini Ina menggigil di kelas, suhu tubuhnya naik dan ia tidak bisa menangkap pelajaran dengan baik. Merasa kasihan, Leli mengangkat tangan dan meminta izin untuk membawa Ina ke UKS, Ayu ikut mengikuti Ina untuk membantunya saat menuruni anak tangga karena UKS ada di lantai satu.
Di UKS Ina dirawat oleh Leli yang kebetulan anggota PMR, tubuhnya diselimuti dan ketika dicek, suhu tubuhnya ternyata 38 derajat Celcius.
"Kamu mau pulang aja, Na? Ini tinggi banget, sekalian ke puskesmas dulu." Leli menempelkan punggung tangannya ke kening Ina, gadis itu hanya bergumam tidak jelas karena terlalu pusing.
Tak lama kemudian Ayu masuk membawa segelas teh hangat. "Kamu udah makan, Na? Kalau udah minum obat penurun panas dulu, gimana?"
Ayu membantu Ina duduk dan membantunya minum.
"Pusing, pengen tidur dulu aja."
Ayu dan Leli saling berpandangan, lantas mengangguk.
"Beneran gak mau pulang? Kalau mau aku minta bapak kamu buat jemput," Leli kembali menawarkan, tapi Ina hanya menggelengkan kepala.
Akhirnya kedua temannya itu hanya mengangguk dan mengompres Ina sambil sesekali berbincang dengan suara rendah. Mereka tidak berniat kembali ke kelas, selain karena malas, mereka juga tidak mungkin meninggalkan Ina sendiri.
__ADS_1
Jika sakit Ina tidak terlalu parah, gadis itu pasti akan membayangkan adegan romantis di novel di mana si cowok rela bolos demi menemani pacarnya yang sedang sakit di UKS. Sayang, kepala Ina terlalu pusing untuk diajak berkhayal ria. Lagipula sekolahnya tidak akan mengizinkan perempuan dan laki-laki berduaan di ruangan tertutup. Jadi kali Ina akan beristirahat saja dengan tenang.
"Kamu gak mau ngasih tahu si patung?" Ayu berbisik sambil sesekali melirik Ina.
Leli menbenarkan letak handuk yang digunakan untuk mengompres Ina, lalu menatap Ayu heran. "Kenapa enggak kamu aja yang bilang?"
Ayu nyengir, lalu membuang muka. Ia terlalu malas untuk berurusan dengan cowok yang tingkat cueknya mengalahkan patung di pinggir jalan itu. Ia trauma diabaikan sampai hampir pipis di celana saat kelas X dulu.
"Ogah," ujar Ayu sembari melambaikan tangan.
"Ya udah."
"Udah, jajan aja sana, biar aku tidur lagi aja."
"Tapi kamu sama siapa di sini, Na, kalau kita pergi?"
Ina memutar bola mata malas mendengar ucapan Ayu, lebay sekali.
"Kalian pergi aja, biar aku yang jagain Ina."
__ADS_1
Suara seseorang yang baru masuk membuat ketiganya segera menoleh ke arah pintu. Di sana pacar Ina sedang berdiri dengan wajah datarnya. Ayu dan Leli mengerjapkan mata tidak percaya, mereka bahkan sampai mengucek mata saking tidak percayanya seorang Azam datang untuk menjenguk Ina. Tapi tetap saja orang yang paling terkejut adalah Ina sendiri. Apa kabar kalau ia sakit memang sudah diketahui oleh semua orang? Sampai-sampai Azam yang letak lantainya berbeda bisa tahu.
"Tunggu apa lagi? Sana pergi."
Ayu melotot tidak suka mendengar perintah Azam. "Heh, maaf aja, ya, kita gak bakal biarin Ina berduaan sama cowok macam kamu di ruangan tertutup!"
"Macam kamu?" Dahi Azam mengernyit tidak senang mendengar ucapan Ayu.
Leli hanya meringis, ia pun memaksa Ayu keluar untuk membiarkan Azam berbicara pada pacarnya. Ia tidak mau mengganggu orang yang sedang pacaran.
Azam menghampiri Ina ketika kedua sahabatnya sudah tidak terlihat lagi, ia meletakkan punggung tangannya di kening Ina, membuat gadis itu menutup mata dan merasakan kehangatan tangannya.
"Panas banget. Mau pulang aja?"
Jika tidak sedang sakit Ina pasti jingkrak-jingkrak karena ternyata Azam bisa bertingkah manis juga, tapi yang bisa ia lakukan hanya menggelengkan kepala. Ina merasa malu karena cowok itu melihatnya dalam kondisi lemah akibat kebodohannya sendiri.
"Seriusan? Nanti kamu malah ngerepotin teman-teman kamu, loh."
Ina cemberut, ia tarik kembali pikirannya kalau Azam tadi bersikap manis. Memangnya kapan Azam bisa bersikap manis? Kapaaaaan?
__ADS_1