
Haduh, susah sih, ya, kalau punya pacar serasa jomblo. Apa-apa harus sendiri. Andai Azam seperti di novel, dia pasti sudah datang dan membawakanku obat lengkap dengan air mineral satu botol dan roti. Hah, sudahlah. Sebaiknya aku berhenti berkhayal. Azam tidak akan pernah seperti itu.
Aku berjalan sambil menunduk, meraba perut yang masih terasa sakit. Aku janji gak bakal makan seblak buatan Teh Ani lagi. Nyusahin aja. Tepat saat akan berbelok, aku bertubrukan dengan orang lain hingga jatuh terduduk.
Aduh, sial sekali. Sedang sakit perut begini malah jatuh dengan bokong menyentuh lantai terlebih dahulu. Bukan apa-apa, tapi aku jadi pengen ke WC lagi.
Tanpa menatap siapa yang aku tabrak, aku segera meminta maaf dan kabur lagi ke WC untuk membayar setoran.
Ah, hari ini benar-benar menyebalkan. Aku merutuk sambil keluar dari dalam toilet. Masih sebal karena gagal pergi ke apotek, padahal aku sudah gak tahan. Semoga aja enggak pingsan karena kekurangan cairan. Kalau sampai dibawa ke puskesmas kan berabe.
__ADS_1
Bukan belaian kasih sayang yang akan kudapat, tapi omelan nyonya besar karena makan seblak. Beliau tahu aku enggak terlalu bisa makan pedas dan selalu berujung di toilet kalau makan sambelnya kebanyakan. Kemarin Teh Ani menambahkan cabai rawit sebanyak tiga puluh, enggak panas gimana ini perutku. Alamat harus puasa seblak seminggu penuh ini mah. Mama gak bakal ngizinin beli.
"Ina," panggil sebuah suara yang familier, membuatku mengangkat kepala. Mataku seketika membulat menyadari siapa yang sedang duduk di kursi besi depan toilet.
Sedang apa Azam di sini? Dia tidak mendegar suara mengerikanku saat buang air besar tadi, kan? Semoga tidak karena ini benar-benar memalukan. Aku memang berharap Azam ada di sini, tapi kok ya kalau ketahuan sedang diare rasanya malu banget.
Aku tidak mau bau dari toilet yang menyertaiku sampai ke hidungnya. Tengsin, bro. Setiap cewek kan pasti pengen tampil wangi di dekat cowok yang dia suka, terutama pacarnya. Aduh, mana aku belum sempat merapikan penampilan pula. Semoga enggak ancur-ancur amat. Aku juga pengen dianggap cantik sama Azam. Tapi enggak pernah berharap itu cowok bakal mengakuinya secara romantis seperti cowok-cowok di novel. Enggak bakal pernah terjadi.
Azam mengernyit, lalu berkomentar, "Jauh amat duduknya." Seketika hatiku jedag-jedug. Duh, dia kalau ngomong kadang suka asal, tapi jantung alayku bahkan lebih menyebalkan karena selalu semangat merespon. Aku gak mau dekat-dekat dengan dia karena takut melakukan sesuatu yang memalukan. Aku tahu diri setiap dekat Azam selalu salah tingkah. Jadi lebih baik aku agak menjauh saja.
__ADS_1
"Ini." Dia mengansurkan satu keresek kecil berwarna putih, dapat kulihat ada roti dan botol air mineral di dalamnya. Ini seriusan dia Azam? Apa dia gak lagi demam?
Aku memang berharap dia datang kayak gini tadi, tapi kalau beneran jadi kenyataan aku masih sulit percaya. Sepertinya aku harus menghapus kesan buruk Azam dari dalam otak sedikit, ternyata dia bisa romantis juga. Aih, jadi makin cinta.
"Ini titipan dari cewek cerewet di kelas kamu." Uh, baiklah. Dia keren sekali. Menghancurkan khayalan indahku dalam sekejap mata. Hanya dengan satu kalimat saja. "Cepat makan, katanya kamu lagi sakit. Geseran juga deh sedikit, kamu cukup ... bau."
Aku merampas keresek itu, mengambil roti di dalamnya dan memakannya dengan ganas. Berharap yang aku makan dan cabik-cabik adalah Azam. Dia gak bisa apa basa-basi, atau seengaknya jangan bilang bau. Aku juga udah tahu kalau masalah itu. Menyebalkan sekali. Namanya juga lagi sakit diare.
Ih. Hari ini aku benar-benar sadar. AZAM EMANG GAK ADA ROMANTIS-ROMANTISNYA!
__ADS_1