
Kenyataannya, Azam tidak seperti yang orang-orang pikirkan. Hanya karena dia pendiam Azam sampai dijuluki cowok dingin. Padahal aslinya bukan begitu. Ia bisa tersenyum dan bercanda juga. Ketika punya pacar ia juga bisa bersikap romantis, seperti pergi jalan bareng, nonton bareng, dan melakukan banyak kegiatan manis bareng pasangan seperti orang pacaran biasa.
Tapi itu dulu, ketika Azam masih tinggal di Jakarta. Orang tuanya bercerai tepat ketika ia lulus SMP, mereka memilih untuk berpisah dan berkarir. Tidak ada yang mau membawanya. Azam harus rela dikirim ke kampung untuk tinggal bersama nenek dari ibunya. Walau setiap bulan kedua orang tuanya mengirimkan uang, tetap saja ia merasa sakit hati dan diabaikan. Cowok itu merasa tidak diinginkan karena orang tuanya lebih memilih untuk melanjutkan karir daripada mengurusnya.
Azam pindah secara buru-buru dan mendadak karena harus mencari sekolah untuk melanjutkan pendidikan. Awalnya cowok itu merasa marah dan tidak bisa membayangkan hidup bahagia di kampung. Niatnya adalah segera lulus SMA dan mendaftar kembali kuliah di Jakarta. Azam yakin kedua orang tuanya tidak ada yang akan melarang. Jadi Azam hanya menjalani hari dengan hampa dan berharap waktu bisa berputar dengan cepat.
__ADS_1
Hal yang berada di luar rencana Azam adalah masuk ke sekolah swasta yang tidak terkenal, apalagi berbasis agama islam. Banyak sekali hal baru yang harus ia pelajari. Ditambah mata pelajarannya dua kali lipat lebih banyak dari SMA negeri biasa. Di sekolah negeri kan paling hanya ada satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam, tapi di sekolah ini mata pelajarannya dipecah lagi. Ada Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih, Akidah Akhlak, Al-Qur'an dan Hadist, dan yang paling membuat otaknya mendidih adalah mata pelajaran Bahasa Arab.
Belum lagi waktu itu ia tidak bisa berbahasa Sunda, membuatnya lebih banyak diam karena tidak bisa berkomunikasi. Memang seharusnya di sekolah menggunakan bahasa Indonesia karena ini merupakan kegiatan formal, tapi sekolah di kampung seperti ini kebanyakan orang-orang saling berinteraksi dengan bahasa Sunda, bahkan guru yang mengajar pun lebih banyak menjelaskan menggunakan bahasa daerah.
Siapa yang menyangka sikap pendiamnya malah menarik perhatian banyak kaum hawa, membuat Azam dikejar-kejar banyak gadis. Walau mereka tidak seagresif teman-temannya saat mau mendekati cowok di Jakarta sana, tetap saja dikejar banyak gadis tidak membuat Azam nyaman. Ia pun dengan sengaja menjadi lebih pendiam dan menjauhi keramaian.
__ADS_1
Harus Azam akui, kota yang dikenal sebagai Kota Satri ini penduduknya memang ramah-ramah. Mereka murah senyum dan selalu membantu Azam sebisannya. Tapi, cowok itu sudah terbiasa tinggal di lingkungan yang individualis, sampai sekarang pun ia masih belum bisa beradaptasi sepenuhnya.
Sebenarnya Azam cukup bosan, menurutnya tidak ada hal yang menarik di sini. Tidak ada tempat untuk hiburan semacam Dufan atau Trans Studio, ia juga harus menerima kenyataan tidak bisa berbuat banyak akan kondisinya dan hanya terus berusaha menekan jiwa pemberontak yang menginginkannya untuk segera kembali ke Jakarta dan menikmati kehidupan di sana.
Hal lain yang membuat Azam tidak nyaman adalah teman-temannya cukup kampungan, banyak gadis yang melancarkan pendekatan untuk mengejarnya tanpa kenal lelah. Seolah mereka baru pertama kali melihat cowok ganteng saja. Walau memang benar, jarang sekali ada cowok yang benar-benar ganteng di sekolahnya. Paling hanya satu atau dua per angkatan. Ia tidak terlalu bersyukur karena memiliki paras di atas rata-rata karena banyak sekali gadis menyebalkan yang sengaja berkeliaran di sekitarnya. Alih-alih senang, cowok berambut ikal itu malah merasa risih.
__ADS_1
Satu hal yang Azam syukuri, neneknya benar-benar tulus menyayanginya. Berbeda dengan ibunya yang selalu sibuk, setiap pagi neneknya akan menyiapkan sarapan dan menyambutnya dengan makanan hangat kembali ketika pulang sekolah. Walau bukan dengan lauk mewah ala restoran, ia sudah senang.
Baru kali ini cowok itu merasakan kasih sayang yang cukup tulus. Membuat keinginannya untuk kembali ke Jakarta sedikit berkurang.