Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Hah?


__ADS_3

Gara-gara pesan dari Azam semalam, aku jadi tidak fokus. Mulai dari salah pakai baju, sampai salah ngerjain soal. Pengaruh Azam buat kesehatanku benar-benar besar ternyata.


Aku sudah tidak sabar menunggu bel pulang berbunyi, apa sebenarnya yang Azam maksud jangan dulu pulang? Jantungku benar-benar berisik dari tadi. Apa yang ingin dia bicarakan? Aku ... penasaran.


Apakah dia akan meminta maaf? Atau dia hanya ada keperluan tentang sekolah? Uh, rasanya kepalaku akan pecah jika terus memikirkannya.


Teeettt. Teeeettt. Teeeettt.


Akhirnya bel pulang berbunyi juga. Tapi berbeda seperti kebiasaan, aku tidak langsung beres-beres. Aku ingin mengirim pesan pada Azam, di mana kami akan bertemu. Dia benar-benar tidak memberi tahu apa-apa. Tapi kok rasanya segan, ya? Ya sudah deh, nunggu dia datang aja.


Ah, Ina! Ke mana perginya keberanianmu selama ini, hah? Bukankah kau punya banyak amunisi dari novel-novel yang kau baca? Lelaki dingin macam Azam memang sulit dimengerti!


"Kamu gak pulang, Na?" Ayu bertanya heran. Ia sudah menggendong tas bersiap keluar dari kelas.


Aku gelagapan. "Mau, kok. Duluan aja."


Dia menatapku aneh sebentar, lalu mengangguk, "Oke."


Ah, sekarang hanya tersisa aku di kelas. Sudah berapa lama waktu berlalu sejak bel berbunyi? Aku tidak ingat.

__ADS_1


"Owalah, ternyata di sini." Suara seseorang dari pintu membuatku menoleh, A Akbar dan Azam!


Aku hanya mampu diam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Kami nungguin kamu di depan gerbang tahu!" A Akbar mengomel yang membuatku meringis.


"Maaf, soalnya Azam gak ngasih tahu di mana tempat aku harus nunggu."


A Akbar sepertinya merasa tercerahkan, ia menggelengkan kepala seolah tidak habis pikir. Apa yang akan berbicara denganku itu A Akbar? Syukurlah, aku jadi lega. Aku pasti akan merasa canggung jika hanya berdua dengan Azam. Lagipula memangnya apa yang akan kami bicarakan? Tidak ada.


"Ya sudah, Ina-nya udah ketemu. Aku ke kantin dulu, oke? Dah!" A Akbar pun meninggalkan kelas dengan santai.


Aku hanya mampu melongo. Suara langkah kaki Azam menyadarkanku, ia berjalan dan duduk tepat di sampingku. Aku hanya menatap lulus ke papan tulis, tidak berani menengok ke arahnya.


"Ada apa?" tanyaku setelah hening cukup lama.


"Pacar," ujarnya yang membuatku mengerutkan alis tidak mengerti. Aku pun terpaksa menatap Azam yang ternyata sedang menatapku juga. Uh, ini cukup memalukan. Aku pun menundukkan kepala. Untunglah jarak kursi kami cukup jauh, jadi aku yakin dia tidak akan mendengar suara jantungku yang berpacu dengan sangat keras.


"Kamu diterima."

__ADS_1


"Hah?" Ini Azam ngomongin apaan sih? Sumpah otakku gak konek! Gak jelas banget! Diterima apaan? Diterima jadi anggota inti tim voli?


"Kita pacaran." Oke, kali ini kalimatnya cukup jelas, tapi aku masih belum mengerti.


"Kok?"


Azam mengembuskan napas seolah lelah, "Kamu langsung kabur waktu itu."


Tiba-tiba suasana hatiku berubah kesal, aku menatap Azam serasa ingin mencekik lehernya, "Aku enggak kabur, itu udah waktunya pulang. Lagipula jawaban kamu enggak jelas! Mana aku ngerti! Kukira kamu nolak aku! Padahal aku udah mau move on! Kenapa datangnya baru sekarang pula? Emang kamu pikir aku masih suka? Masih mau jadi pacarmu gitu?"


Tanpa aku sadari air mata mulai menggenang, ih, kenapa aku jadi cengeng gini sih! Gak asik banget deh! Aku menghapus air mata dengan kasar. Ah, ini benar-benar menyebalkan, kenapa aku nangis di depan Azam? Menumpahkan semua emosiku selama beberapa hari ini yang tidak menentu.


Terdengar suara kekehan, lalu, "Maaf."


Ini seriusan Azam yang ketawa? Azam yang itu?


"Ngapain ketawa?!" balasku jutek, ah, hatiku benar-benar tidak bisa didefinisikan.


"Tapi kamu masih mau jadi pacarku, kan?"

__ADS_1


__ADS_2